Mengintip Sultan Mandi Bareng Selirnya

10 , Permalink 0

Jumat (27/6) adalah hari terakhir di Jogja. Menurut agenda kerjaan, hari ini hanya ada diskusi dengan pembaca Salam, majalah tempatku kerja part time. Karena diskusinya setelah pukul 14 WIB, maka paginya kami pakai untuk jalan-jalan dulu.

Pengennya sih bisa cari tempat wisata asik di Jogja. Tapi ke mana? Maliboro tempat kami tinggal. Keraton sudah pernah. Prambanan juga sudah. Mau ke Borobudur, waduh jauh banget. Tidak cukup kalau hanya setengah hari.

Maka, pilihannya adalah kompleks pemandian Taman Sari, tidak jauh dari Keraton Yogyakarta. Apalagi beberapa hari sebelumnya aku baca di Kompas kalau kompleks ini masuk salah satu warisan budaya dunia Unesco. Hmmm, sepertinya asik.

Oya, sebelum itu, aku, Bunda, dan Bani jalan ke Pasar Beringharjo di ujung Maliboro dulu. Ternyata asik juga lihat-lihat baju batik di pasar ini. Demi menghormati nenek moyang dan memberi tempat untuk gaulitas –hehe- aku beli kaos bermotif batik. Wah, tidak nyangka. Ternyata benar-benar asik tenan pakai kaos ini. Besok-besok aku beli dah yang banyak..

Pukul 10an kami cabut dari hotel. Tujuannya kompleks pemandian Taman Sari itu tadi. Dari Malioboro hanya perlu waktu sekitar 15 menit. Itu pun karena sopirnya tidak tahu jalan. Kalau dia tahu mungkin bisa lebih cepat dari itu.

Pemandian Taman Sari berada di tengah pemukiman warga yang semuanya adalah abdi dalem keraton. Karena namanya kompleks pemandia, maka yang aku bayangkan tempat itu akan mirip Tirta Gangga atau Taman Ujung di Karangasem atau Taman Narmada di Lombok. Eh, ternyata bukan.

Bangunan pertama yang aku lihat adalah bekas benteng tua yang sudah tinggal sisa-sisa temboknya. Tempat ini semacam benteng dengan dinding yang sudah lapuk. Beberapa bagian malah sudah roboh. Sebagian tembok juga berisi corat-coret bekas vandalisme. Sama sekali tidak terawat.

Menurut pemandu yang menemani kami bangunan ini dulunya jadi semacam menara pengintaian. Tempat ini memang tinggi, sekitar 10 meter. Dari sini kami bisa melihat luasnya Jogja.

Siang itu banyak juga turis di sini. Banyak juga bule. Mereka yang melihat sisa-sisa tembok tidak terawat itu. Aku heran juga. Masak jauh-jauh ke sini hanya untuk melihat tembok jelek begini. Hehe..

Selain turis, ada pula pasangan yang sedang foto-foto untuk pernikahannya. Benteng jelek ini memang asik juga untuk latar belakang foto klasik. Maka, bisa jadi dia salah satu lokasi favorit untuk foto pre wedding di Jogja.

Semula aku pikir benteng inilah lokasi pemandian yang dimaksud. Eh, ternyata bukan. Pemandian yang aku pikir dari awal itu adanya di tempat lebih rendah. Jaraknya sekitar 500 meter dari sini.

Dari benteng ke pemandian, kami melewati lorong sepanjang sekitar 100 meter. Lorong ini jadi tempat prajurit bersembunyi pada masa masih berperang.

Di ujung lorong adalah rumah penduduk. Melewati perumahan ini kami baru masuk pintu depan pemandian. Walah, ini toh pemandian itu. Tempat ini lebih terlihat sebagai tempat wisata tidak seperti benteng itu tadi.

Untuk masuk kompleks pemandian pengunjung harus bayar Rp 3000. Kalau Anda bawa kamera, harus bayar lagi Rp 3000. Hehe, aturan yang aneh. Tapi soal tarif untuk kamera ini memang ada di semua objek wisata di Jogja. Di Keraton dan Prambanan pun sama saja. Aku tidak mengerti untuk apa ada aturan begini.

Selain tarif kamera yang aneh, pemandu tidak resmi juga masalah lain yang harus kami hadapi. Pemandu liar ini siap menghadapi tiap tamu yang datang. Informasinya pasti berguna. Sebab kami berkunjung ke tempat wisata sejarah. Tanpa informasi lengkap tentang objek itu, sebuah kunjungan akan sia-sia.

Karena itu, menurutku, sebaiknya pemandu ini dijadikan saja bagian dari pelayanan tempat wisata. Naikkan tarif sehingga bisa membayar mereka.

Sebab, buntutnya toh sama saja. Bayar tiker memang murah, cuma Rp 3000. Tapi bayar pemandu ternyata sampai Rp 10 ribu. Embel-embelnya sih terserah pengunjung. Tapi apa iya orang akan tega hanya bayar Rp 1000, misalnya.

Daripada nggrundel tidak jelas, balik saja mengintip sultan mandi. Hehe..

Inilah apa yang disampaikan pemandu pada kami. Pemandian Taman Sari dibangun oleh arsitek Portugis pada 1758 masehi. Tuwir banget. Arsitektur bangunan ini campuran dari Hindu, Islam, dan China. Tanda Hindu itu terlihat dari kala di atas pintu masuk sebagai tanda untuk mengusir bala. Ornamen Islam terlihat pada lekukan tepi danau yang dibuat mirip kubah pintu masjid. Sedangkan unsur China terlihat dari bentuk bangunan tempat istirahat maupun berganti pakaian yang mirip bangunan klenteng.

Oya, kolam ini dibangun sebagai tempat sultan mandi bersama 28 selirnya. What? 28 selir? Yoih. Bayangkan 28 perempuan untuk satu laki-laki!

Kolam ini terdiri dari tiga bagian utama. Umbul Pamuncar untuk tempat mandi anak-anaknya, Umbul Paguras untuk tempat mandi selir, dan Umbul Binangun untuk tempat mandi sultan bersama selir pilihan.

Masing-masing kolam ini dipisahkan oleh jembatan yang di atasnya ada pula tempat untuk berganti pakaian dan beristirahat. Di tempat berganti pakaian ada tungku air untuk bercermin. “Waktu itu belum ada air,” kata Andi Lala pemandu kami.

Tiap ruangan itu dipisahkan pintu kecil, sehingga orang yang masuk harus menundukkan kepala. “Biar mereka langsung hormat pada sultan,” tambah Andi.

Aaah, betapa enaknya jadi sultan. Kerjanya mandi dengan selir. Dihormati pula. Hehehe..

Luas kolam ini totalnya 10,5 hektar. Semula semuanya berupa laut kecil. Mungkin lebih tepat danau karena airnya tawar dan berada di tengah pulau. Karena luasnya itu, maka sultan harus naik perahu tiap kali mau mandi di sini.

Tapi apa yang kami lihat di sana hanya tinggal kolam kecil tak sampai 500 meter persegi. Cuma ini yang bisa kami lihat di kompleks pemandian tersebut. Sisanya hanya rumah-rumah warga.

Oya, ada bonus pula di salah satu rumah warga. Seorang ibu sedang membuat batik. Bisa jadi pemandangan tersendiri. Sayang, aku tidak bisa ngobrol banyak. Perjalanan diburu waktu memang sering tidak menyenangkan. Sebab tidak bisa menuntaskan banyak hal. Tapi ya lumayanlah daripada tidak sama sekali..

10 Comments
  • mohammad
    July 5, 2008

    uenaknya bisa jalan2… apalagi ngintip orang mandi bersama bani, he…

    ReplyReply

    [Reply]

  • kaka kiyut
    July 5, 2008

    uedian… kau pulang kekotaku…

    *jogjakarta – katon bagaskara played on*

    ReplyReply

    [Reply]

  • da chunka
    July 6, 2008

    nanti kita juga berencana bikin liputan model begini…keknya mo ke taman sari juga cuman gak tau kapan…mungkin nanti tulisan kita ngelink kesini jugak..by the way selamat mas anda berhak untuk satu shot photo lucu bersama kita hahaha, blognya kita link ya 😀

    ReplyReply

    [Reply]

  • Tumik
    July 7, 2008

    Kok Bani kurusan ya? Kenapa Kasbani? Putus cinta?

    ReplyReply

    [Reply]

  • antonemus
    July 7, 2008

    @ mohammad: wah, apalagi kalo jalan2 ke bahrain. enak tenan. 🙂

    @ kaka kiyut: wedan jg. kpn ke sana bareng bani? 🙂

    @ da chunka: dtunggu undangan poto2nya.

    @ tumik: mungkin stress mikir lektumnya yg lg stres.

    ReplyReply

    [Reply]

  • Yanuar
    July 7, 2008

    jogja emang tempatnya orang ngadem..
    pengen ngadem kesana lagi.
    hi.hi.hi..

    ReplyReply

    [Reply]

  • pandebaik
    July 8, 2008

    waduh, Yogya nok. impian saya nih ke Borobudur. entah kapan bisa kesana lagi….

    ReplyReply

    [Reply]

  • antonemus
    July 8, 2008

    @ yanuar: ayo, pak de. kita ngadem di alas purwo aja. kangen nok sama gland. 🙂

    @ pandebaik: kita rame2 aja. sewa dokar dr denpasar. 😀

    ReplyReply

    [Reply]

  • wowok
    July 18, 2008

    enak tenan neng ngayogjokarto……
    sebab neng bali wis bosen tenan…..
    baru eruh lek neng jogja ada wisata mandi2an….
    suip pokoke

    ReplyReply

    [Reply]

  • antonemus
    July 21, 2008

    @ wowok: kapan2 aku mlaku2 ke blitar. tp koen harus dadi guide. 🙂

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *