Menghentikan Waktu yang Sudah Berlalu

11 , Permalink 0
Tentu saja setiap orang ingin jadi abadi. Atau setidaknya dikenang oleh orang lain. Atau, paling mentok, mengenang tentang dirinya sendiri. Banyak caranya. Orang zaman batu, pada zaman bahuela membuat coretan-coretan di dinding gua untuk mengenang sesuatu. Ada pula yang membuat arca, artefak, atau malah yang paling gila popularitas alias megalomania ya bikin semacam piramida, Taj Mahal, candi borobudur, dan seterusnya.

Waktu berlalu. Manusia toh tetap saja ingin mencoba menghentikan waktu itu, meski dia tidak mampu. Maka, manusia kemudian menemukan cara lain. Misalnya dengan gambar, foto, atau tulisan. Manusia tidak bisa menghentikan waktu. Tapi dia bisa mengabadikan kenangan dengan cara itu.

Dan, eng ing eng, blog adalah salah satu caranya. Menulis, menyimpannya, dan berharap itu jadi pelajaran untuk orang lain. Masalahnya, banyak hal terjadi, dan tidak semua hal itu bisa kita simpan.

Me too.. Rasanya kelapa, eh, kepala sering mau meledak karena banyak hal yang ingin ditulis. Sayangnya karena waktu, dan (ehm!) mood (tentu saja), tidak semua kenangan itu bisa diceritakan. Waktu pun berlalu. Demikian pula niat untuk mencatat itu.

But, don’t worry be happy. Banyak cara untuk sekadar mengingat. Lalu ketika sudah ada mood, barulah kenangan itu ditulis di blog. Biasanya ada beberapa cara yang kulakukan.

Diari
Ini kebiasaan sejak 1997, pas kelas III SMU. Masih kulakukan sampai sekitar 2005, meski bentuknya berbeda. Sekitar dua minggu lalu, pas lagi bersih-bersih rumah, aku buka-buka lagi diari ini. Asik saja sih. Membaca cerita, peristiwa, atau pikiran pada saat itu. Lalu, hmmm, ternyata sudah sepuluh tahun lalu kejadian itu.

Masalahnya, diari ini juga tidak bisa disimpan lama. Namanya kertas. Jadi ya cepat rusak. Apalagi kalau disimpan di tempat agak lembab. Bisa-bisa habis dimakan rayap. Sarap!

Kertas Pesan
Kebiasaan ini pas aktif di Pers Mahasiswa Akademika Universitas Udayana. Biasanya sih nulis di kertas pesan tentang sesuatu lalu kasih ke teman. Tapi bisa juga sebaliknya. Nah, yang dari teman ini yang biasanya masih aku simpan, terutama untuk hal-hal agak gawat.

Pesan dari seorang (bekas) teman adalah salah satu yang masih aku simpan. Isinya pesan agar aku mencari mayatnya kalau dia tidak kembali malam itu. Waktu itu memang seram. Teman itu, cewek, disamperin pacarnya. Hubungan mereka sedang bermasalah. Satu kali aku pernah memisahkan mereka ketika si cowok sudah membawa parang. Hmm, serem. Tapi asik aja sih mengingatnya sekarang. Hehe..

Tidak enaknya menyimpan yang begini ini ya mudah keselip. Apalagi catatannya kecil-kecil. Jadi perlu niat serius. Kalau tidak, ya bakar saja. πŸ™‚

Foto
Tentu saja ini paling mudah. Tinggal jepret, lalu simpan deh. Kata tukang poto, satu gambar mewakili seribu kata. Jadi ya enak banget. Tinggal melototi gambar lalu ingat semua yang sudah lewat. Kalau dulu, zaman masih pake kamera analog, memang agak repot. Beli film, jepret, cuci, lalu simpan. Sudah gitu, fotonya kadang rusak. Belum lagi makan ruang.

Tapi sekarang sih jauh lebih mudah karena ada kamera digital. Jepret. Simpan. Aman. Kalau mau liat tinggal hidupin komputer, pake slide slow. Simpel.

Agenda
Saat ini, buku kecil yang kubeli tiap tahun inilah yang paling gampang. Sejak 2004 aku melakukan ini. Buku agenda kerja ini bentuknya kecil. Bisa dimasukkan di saku belakang. Isinya soal kerjaan dan kegiatan sehari-hari. Dari ecek-ecek sampai paling berat.

Enaknya karena sudah dibuat per hari dan tanggal. Jadi tinggal catat di situ. Hari ini ngapain, ide apa yang muncul, dan seterusnya. Nanti kalau mood nulis sudah muncul, tinggal buka semua tempat penyimpanan itu. Lalu jadilah dia sebuah tulisan dan diposting di blog.

Naaah, untuk saat ini. Blog itulah tempat yang bisa menyimpan semua kenangan itu. Ya bisa nyimpen catatan, gambar, foto, atau ide. Jadi, untuk saat ini, blog adalah media terbaik untuk menyimpan.

11 Comments
  • artana
    June 9, 2008

    Wah Pertama ….
    Bagus tipsya, bisa dicoba biar ide dikepala nggak cepat hilang.

    ReplyReply

    [Reply]

  • devari
    June 9, 2008

    sampeyan akan tetap dikenang sebagai founder BBC, jadi ga usah repot2 mahat mahat batu di dinding gua kekeke
    ——————————————–
    Jadi, untuk saat ini, blog adalah media terbaik untuk menyimpan.

    —-> ga juga. gimana klo server hosting ancur? kekeke. ilang semua kan.

    media terbaik adalah bikin agama baru dan kitab suci..nah nanti kan disebar dan di copi terus2 menerus oleh generasi berikutnya…
    misalnya Agama Antonemus

    mengalami kesulitan nyebarin agama?
    gampang bentuk FPI (front pembela iki-agamaku)

    ReplyReply

    [Reply]

  • Tumik
    June 10, 2008

    Bahagia aja jadi komentator ketiga…

    ReplyReply

    [Reply]

  • wira
    June 10, 2008

    *ngakak baca komen-nya devari

    ReplyReply

    [Reply]

  • dipoetraz
    June 10, 2008

    hahahahah….. bentuk agama baru… benar-benar ide yang cemerlang :D:D

    ReplyReply

    [Reply]

  • antonemus
    June 10, 2008

    @ artana: yap, seperti belajar nyontek pada masa SD dl. tulis di kertas kecil lalu diapalin. πŸ˜€

    @ devari: mih, founder BBC nok. gaya juga tuh. πŸ˜€ namaku mau tak bikin di prasasti ajeg bali gen, bli. lalu tak taruh di bali post. :p

    @ tumik: ndang nulisen. ben terkenal blogmu..

    @ wira: *garuk2 kepala. yg mana ya lucunya. πŸ™

    @ dipoetraz: siap2 disweeping FPI. πŸ˜€

    ReplyReply

    [Reply]

  • ick
    June 10, 2008

    bongkar2 diary lama ah….

    ReplyReply

    [Reply]

  • okanegara
    June 10, 2008

    ada lagi kok cara mengingat masa lalu atau membuat kenangan. caranya? dengan membuat bonyok muka orang. jadi misalnya kejadiannya udah lama banget, terus ketemu orang yang pernah kita bikin bonyok, benjut, codet, dll….pasti tuh dijamin jadi inget deh kejadiannya kapan *terinspirasi dari korban yang idung remuk dan bonyok kena tumpel FPI*…tapi sangat amat tidak dianjurkan sama sekali.kalau kebetulan ya apa boleh buat (jadi inget aja dulu bikin robek jidat dan ompong giginya yahya, temen di bogor masa kecil, baru baru ini ketemu langsung inget kejadian masa kecil waktu kejadian itu…haha, untung dia gak ngebales sekarang)

    ReplyReply

    [Reply]

  • Dek Didi
    June 10, 2008

    Huahahahaha, ngakak baca komennya dokter Oka.

    ReplyReply

    [Reply]

  • imsuryawan
    June 13, 2008

    yup, ngeblog aja! πŸ˜€

    ReplyReply

    [Reply]

  • slayer
    September 21, 2009

    xzzz
    gw ndak percaya

    gw ndak pernah ninggalin jejak keberadaan gw dari kecil ampe sekarang, bahkan foto aj selembar pun gw ndak ada.

    gw percya klw manusia akan d kenang bukan dari apa yg tertinggal dari diri ny tapi apa yg ditinggal kan diri ny untuk org lain, walaupun itu harus melawan waktu, dan akan menjadi abadi
    abadi untuk selamany hingga gw dapat tahu apa yg gw bisa tinggalin bukan hanya kenangan dan selembar foto yg akan hilang akan waktu dan hilang akan zaman

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *