Menggunakan Media sebagai Alat Advokasi

2 , , , , Permalink 0
Diskusi tentang media adalah alasanku untuk mengiyakan ajakan Wahyu pergi ke Surabaya. Teman di Ikatan Korban Napza (IKON) Bali, kelompok mantan atapun pengguna narkoba dengan jarum suntik yang masih aktif, itu bilang kalau teman ngobrol di Surabaya tersebut bagus untuk tempat belajar soal media dan advokasi. Maka, aku mengiyakan ajakan itu.

Selasa malam kemarin, kami pun tiba di Surabaya. Sinyo, teman sesama ex junkie di kota ini menjemput kami dengan BMW tuanya. Oh ya, acara di Surabaya ini memang untuk para pengguna ataupun mantan pengguna. Ada IKON Bali, East Java Action (EJA), dan Performa Semarang. Kami menginap di penginapan sederhana di daerah jalan Darmokali, tak jauh dari Kebun Binatang.

Dua atau tiga hari sebelumnya, Wahyu memberikan nama teman ngobrol di Surabaya itu padaku. Aku lalu Googling.

Meg Davis, teman ngobrol kali ini, adalah pendiri dan pengelola Asia Catalyst. Membaca kata Catalyst, aku kok langsung inget Brad Will, aktivis cum jurnalis yang juga anarkis. Brad ini tak hanya menulis dan mendokumentasikan gerakan petani radikal di Oaxaca, Meksiko. Brad juga ikut membantu gerakan tersebut. Ketika mendokumentasikan salah satu bentrokan itu, Brad tertembak. Mati. Brad menyebut dirinya sebagai katalis.

Awalnya aku menduga Megg Davis, yang tinggal di New York, tak jauh berbeda dengan Brad Will. Karena itu aku antusias ketika diajak Wahyu. Tapi setelah cek website www.asiacatalyst.org, aku tidak terlalu menemukan hal baru. Tak apalah. Tidak ada yang tidak berguna.

Asia Catalyst adalah semacam lembaga kajian tentang Asia. Meski berbasis di New York, Meg dan teman-temannya selalu intens mengkaji persoalan-persoalan di negara Asia, terutama yang berkonflik atau dianggap bermasalah seperti China, Kamboja, Burma, dan Thailand. Indonesia tidak masuk di dalamnya.

Honestly, kadang-kadang aku mikir lembaga semacam ini tuh hanya agen asing juga. Kali karena inget John Perkins yang menulis Confession of Economic Hit Man. Perkins, yang datang ke Indonesia sebagai pengkaji situasi Indonesia, tapi sebenarnya agen IMF untuk menjerat leher Indonesia dengan hutang.

Tapi, aku berbaik sangka saja dulu. Daripada curiga, aku curi saja ilmunya.

Meg berbagi pengalaman tentang teknik mendokumentasikan kasus-kasus pelanggaran HAM oleh polisi. Persisnya police abuse atau tindak kekerasan oleh polisi. Kejadian ini memang kerap terjadi di Indonesia. Jadi cerita yang biasa kalau ada tersangka yang ditangkap polisi juga jadi korban kekerasan. Teman-temanku yang pecandu ataupun bekas pecandu di Bali banyak mengalami hal ini.

Dari dokumentasi itu, Meg misalnya bisa menggalang solidaritas internasional untuk kasus tertentu. Salah satu yang dia sampaikan adalah soal penculikan aktivis HIV/AIDS di Cina. Dia tidak menyebut kapan persisnya. Penculikan aktivis di Cina itu dia sampaikan melalui websitenya untuk kemudian mendapat respon dari berbagai aktivis di dunia. Di Amerika Serikat, para aktivis yang dikoordinir Act UP, melakukan demonstrasi di depan Kedubes Cina di Amerika.

Banyak hal lain lagi dalam obrolan seharian itu. Tapi, sudahlah. Itu saja yang aku tuliskan. Ini sudah malam..

2 Comments
  • haryoga
    October 26, 2008

    wah aktivis HIV/AIDS di culik????
    wah saya baru tahu ada kabar ini mas
    btw tanggal 30 okt jadi kan final pelatihan advokasinya?

    sampai ketemu disana
    salam kenal

    ReplyReply

    [Reply]

  • Rudhy Sinyo
    January 10, 2009

    salut dengan mas anton…

    walaupun singkat bertemunya, ada hal2 yang bisa dipelajari dari cara pandang, sikap dan naluri untuk dapat mendokumentasikan sesuatu…

    bisa di ambil pembelajaranya.

    sukses selalu ya mas…

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *