Mengenal Marjinal Lebih Dalam

85 No tags Permalink 0

Ah, dasar aku bukan orang gaul. Jadi baru kenal dengan Marjinal. Tadi Moyong, teman di drugs user movement IKON Bali, kasi lagu2nya Marjinal. Sebelumnya teman lain, Gendo, sudah pernah cerita soal anak-anak ini. Nyesel juga aku baru tau sekarang. Lagu2nya asik. Aku sih tau liriknya keren. Misalnya soal Marsinah, pendidikan gratis, kemiskinan, dst.

Maka hari ini aku tanya ke Pak De Google. Dan ini yang aku temukan di blog Marjinal.

Monday, October 1, 2007

WAWANCARA DENGAN MARJINAL

Pengantar Editor:
Agustus yang lalu, majalah TRAX membuat laporan utama “The Story So Far: 30 Years of Punk Rock”. Farid Amriansyah, reporter Trax, mengajukan beberapa pertanyaan kepada Marjinal lewat e-mail, yang jawabannya kami kira berhak diketahui publik secara utuh.

agak klise, tapi bisa cerita bagaimana marjinal terbentuk?

Bob OI: Marjinal dibentuk 11 tahun yang silam, pada 22 Desember — bertepatan dengan Hari Ibu di kalender nasional. Sebelas tahun yang lalu, kite ketemu di sebuah kampus grafika di Jakarta Selatan. Awalnya, gue pengen kuliah, tapi makin lama semakin nggak tertarik. Apa yang dipelajari di kampus udeh kita kuasai, gue udah gape menggambar, bikin desain, demikian juga yang laen. Kebanyakan kita ketemu ngobrolin situasi di luar kampus, yang atmospherenya represif, nggak bebas mengeluarkan pendapat atau berekspresi. Lalu kita bangun sebuah jaringan namanya Anti Facist Racist Action (AFRA), yang terlibat adalah kawan-kawan yang mempunyai kesadaran melawan sistem yang fasis banget.

Kita gunakan media visual, lewat poster dari cukil kayu, baliho dan lukisan yang menggugah kesadaran generasi muda, untuk melawan sistem fasis yang diusung Orde Baru. Selain melakukan diskusi, penerbitan newsletter, dan aksi turun ke jalan… Kita secara kebetulan gape juga main musik. Ya, dengan modal gitar n jurus tiga kunci, kita maen musik, bikin lagu sendiri yang berangkat dari kenyataan hidup sehari-hari.

Mike Marjinal:Lalu kita namakan kelompok itu Anti Military. Dalam perkembangannya, Anty Military dipahami orang-orang sebagai sebuah band akhirnya… Padahal kita bukan anak band! Musik ini kan sebagai alat komunikasi kepada khalayak yang lebih luas, lebih asyik.. medium menyampaikan pesan dan jadi inspirasi untuk anak-anak di pergerakan ke depan, ketika melihat kenyataan kehidupan sosial-politik dikangkangi rejim yang fasis militeristik. Dari awal, kesadaran kita bukan sebagai anak band.

Setelah Harto digulingkan, kita melihat dimensi yang lebih luas lagi. Persoalannya bukan lagi rejim yang fasis dan rasis saja. Tapi lebih luas lagi… Negeri ini jadi negeri ngeri… Banyak tragedi, perang saudara, buruh-buruh diperas, dieksplioitasi, rumah sakit dan pendidikan begitu komersial, kereta-api sebagai sarana angkutan melayani orang seperti mengangkut binatang. So dari sistem yang fasis, anti demokrasi, terpusat dan korup.. kini menyebar ke sendi-sendi kehidupan bangsa. Kita lupa bagaimana para pejuang dulu mendirikan Indonesia sebagai sebuah nation. Indonesia kan didirikan sebagai kesatuan dari tekad para pemuda yang beragam suku, agama, latar belakang sosialnya itu bersatu membangun sebuah nation! Lalu kita ganti nama, dari Anti Military jadi Marjinal. Kisahnya, ketika Mike dapat nama Marjinal, dia terinspirasi oleh nama pejuang buruh perempuan yang mati disiksa militer,” Marsinah..Marsinah… MARJINAL” Kata Marjinal sendiri waktu itu kan belum banyak dipakai untuk menjelaskan posisi orang-orang pinggiran.

marjinal mengangkat beragam isu sosiopolitikdalam lirik kalian. Bisa cerita
apa misi kalian sebagai band?

Mike Marjinal: Lagi-lagi harus kukatakan dari lubuk hati yang dalam, cieee: “Kita bukan anak band”. Sejak kita membangun AFRA kita memang punya kesadaran melawan sistem politik kotor di negeri ini, khususnya melawan ideologi fasis militeristik rejim Orba. Sejak menjadi Marjinal, kita kembali ke tengah masyarakat, belajar dari keseharian mereka sekaligus jadi inspirasi bagi lagu-lagu yang kita ciptakan. Lirik-lirik iitu kan mengangkat persoalan tetangga, kawan dan masyarakat kita. Kita cuma asal comot apa yang menjadi gelisahkan. Kita cuma jadi cermin, yang merefleksikan segala yang dirasakan masyarakat. Kita selama bertahun-tahun, di kolektif TaringBabi, hidup di tengah kampung Setu Babakan. Awalnya, mereka was-was melihat penampilan kita yang sangar, tapi lama kelamaan masyarakat merasa senang, karena kita ikut gotong-royong, membuat acara Agustusan, workshop sablon dan segala keterampilan cetak-mencetak. Setiap hari, puluhan anak-anak punk dari daerah mana aja datang ke TaringBabi, tapi masyarakat tidak lagi was-was. Pernah gue dengar ibu-ibu bilang,”Anak-anak itu rambutnya aja yang aneh, tapi hatinya baek….” Ibu-ibu juga nggak takut melihat tato, yang penting hatinya kagak bertato!

Dari sini kita kan bisa melihat hidup yang berwarna-warni, kita rayakan perbedaan dengan damai. Band Marjinal itu kan salah satu usaha kita berkomunikasi dengan masyarakat. Album atau kaset yang kita rilis secara indie juga diniatkan untuk membangun komunikasi. Kita nggak nyangka, Marjinal didengar sampai Pulau Siladen nun jauh di Sulawesi Utara sana. Ketika kita diundang main untuk scene punk Manado, kawan-kawan dari Kotamubagu datang, itu kan letaknya di pedalaman. Bayangkan, mereka datang jalan kaki. Ketika ketemu gue, ada yang langsung buka baju memperlihatkan tato bertuliskan Marjinal. Gue terharu, sekaligus bangga dengan semangat persekawanan ini…

Bob OI: Kita maen di mana aja, tidak untuk scene punk doang. Acara ulang tahun, perkawinan, peluncuran buku… Bahkan Mike sering bilang, acara apa pun kita main, ini ruang untuk berkomunikasidan silaturahmi, memperluas kesadaran kita sebagai nation, usaha kita saling belajar dan bekerja sama-sama. Pernah seorang guru, namanya Pak Sukri, dari STM YZA, Ciawi nyari-nyari alamat kita, nyasar ke sana-kemari, niatnya mengundang kita main untuk acara sekolahnya, karena murid-muridnya minta Marjinal main untuk acara perpisahan. Ditawari band lain, mereka nggak mau. Sebelum main, kita selalu membuat work-shop cukil kayu (wood cut). Mereka sangat antusias mencetak kaos polos dengan desain cukil kayu. Kalau ada waktu, kita bisa main di mana saja, asal kebebasan kita enggak dibelejeti. Karena dari kebebasan itu kita ada. Kebebasan yang mengatur diri kita sekaligus respect dengan kebebasan orang lain.

Arti punk buat kalian?

Bob OI: Kita bikin desain kaos: Pemuda Urakan Nan Kreatif (PUNK). Ya, itulah tafsir kita untuk punk walau kata itu muncul pertama di Inggris dari sebuah karya William Shakespeare, The Marriage of Lady Windsor .Sebagai sub-kultur, Punk berkembang tahun 80-an. Punk sebagai gerakan mengunggulkan rasa toleransi dan kebebasan. Punk, sebagai sang pemula, yang pertama meneriakkan ketidakadilan dan perlawanan terhadap sistem yang korup.

Apa arti menjadi politikal bagi kalian?

Mike Marjinal: Berusaha terlibat dengan realitas, melawan sistem yang korup, dan berusaha melakukan perubahan yang lebih baik dari hal yang terkecil, teman, keluarga, tetangga, dst.

bagaimana kalian menjalankan etos dan prinsip yang tumbuh dan berkembang alam punk rock seperti konsep D.I.Y hingga beragam bentuk kesadaran sosiopolitikal dalam keseharian baik secara personal maupun sebagai band?

Mike Marjinal: Do It Yourself itu kan sesuatu yang ideal, sehingga kita mampu berjalan di kaki sendiri, nggak tergantung dengan sistem yang nggak berkeadilan. DIY, sebenarnya kan sudah ada dalam etos perlawanan dalam budaya kita. Suku Samin di Jawa Tengah dan sekitarnya itu sudah DIY, membuat peradabannya sendiri ketika daerah-daerah lain ditindas kolonial Belanda. Mereka menanam benih, memanen dan membuat rumah secara bersama untuk kebutuhan bersama. DIY harus dilihat dalam konteks seperti itu di sini. Kita kan nggak harus copy-paste DIY yang ada di England sono, yang ditafsirkan hanya anti ini dan anti itu. Menurut gue sih, DIY itu bertolak dari Kebebasan. DIY itu bukan aturan dan aturan, seperti menolak media mainstream, TV, sponsor, dlsb. Semua hal harus dilihat hubungan sebab dan akibatnya, bukan cuma slogan anti ini dan anti itu: anti TV nasional sini tapi nongol di TV asing dengan alasan solidaritas internasional. Ini sih cipoa! Gue prihatin dengan kondisi kayak gini. Sudah lama scene punk nggak pernah mendiskusikan hal-hal yang mendasar seperti ini. Ayo kita bicara, dengan argumen yang cerdas. Tahun lalu, sebuah televisi swasta nasional meminta Marjinal sebagai nara sumber untuik sesi acara bertajuk Punk. Kru TV datang ke kita, bertanya ini dan itu dan membuat liputan kegiatan sehari-hari di kolektif TaringBabi. Ya, kita menerima dengan terbuka dan apa adanya. Tapi sebelum acara itu ditayangkan, Marjinal disembur fitnah yang keji, dianggap tidak DIY karena bekerjasama dengan media mainstream…Blaut! Kita jadi narasumber bukan untuk promosi album atau ngomong tentang isi perut band, tidak! Jadi, semua itu harus dilihat konteksnya, hubungan sebab dan akibatnya. Kalau kita kerja kita dapat duit, tapi kalau kita diundang main band, coba aja tanya yang ngundang, kita nggak pernah memberatkan tuan rumah. Paling-paling cuma dapet ongkos balik, sekedar makan-makan bareng sedunia ha..ha..ha..

Selama ini, kita hidup bukan dari band. Kita bertahan hidup dan menjalankan aktivitas dari karya yang kita jual. Desain, sablon kaos, kaset,atau nyari duit di luar. Gue kadang ngajar atau dapat kerjaan menggambar di sekolah-sekolah. Gue melukis potret. Ableh selain nyablon juga ngojek. Begitulah kenyataannya… Lagi-lagi harus ogut bilang, “Kite bukan anak band”

pandangan akan kondisi obyektif scene punk rock lokal sekarang?

Bob Oi: Ada yang hilang dalam scene punk sekarang: diskusi. Dulu kan sempat banyak zine yang terbit, sekarang terbit tempo-tempo dan banyak nggak terbitnya, kalau pun terbit materi tulisannya adalah tulisan-tulisan yang lama, itu pun sebagian besar hasil terjemahan dari zine luar, ya… masih copy-paste!

Implikasinya scene punk nggak pernah belajar mendiskusikan persoalan-persoalan yang mendasar, misalnya tafsir tentang DIY di Indonesia dalam konteks sekarang ini. Scene punk masih bergairah dengan fashion-nya, itu yang kenceng… Padahal itu kan semua simbolis sifatnya, yang harus diungkap menjadi sebuah pengalaman dan kesadaran. Kenapa rambut mohawk ala Indian, misalnya, itu suatu bentuk solidaritas terhadap suku Indian di Amerika yang tertindas dan termarjinalkan. Mengapa punk pakai sepatu boot… Itu suatu perlawanan terhadap militer, kita pakai atribut sepatu boot untuk nginjek lumpur jalanan pasar, ngebersihin got, nginjek tokai! Yang kayak-kayak gitu belum dipahami… Orientasi punk di sini masih sebatas ngeband, main musik, ngobrolnya atau gosip=gosipnya pun masih seputar itu. Punk rock itu genre musik titik. Sedangkan punk adalah way of life, yang ngebentuk karakter kita untuk terus melawan terhadap sistem yang nggak berkeadilan dan mandiri: Pemuda Urakan Nan Kreatif, yang mengedepankan kesetaraan, menolak hirarki. Jadi nggak ada senior dan junior dalam scene punk. Semua bisa saling belajar. Bukan saling menindas, dengan melarang ini dan itu. Tidak ada polisi dalam scene punk. Kalau punk penuh aturan dan aturan yang memblejeti kebebasan… Gua orang pertama yang menyatakan diri bukan punk! Mendingan jadi nelayan di Cilincing mancing ikan di tengah laut, nggak ada yang ngelarang!

Seberapa besar ekspektasi kalian bahwa musik kalian bisa membawa perubahan alam masyarakat?

Mike Marjinal: Harapan terhadap perubahan yang diekspresikan lewat musik selalu menggelora di jiwa kita. Ketika sistem yang menindas dan korup ini merajalela, orang-orang kan selalu gelisah mencari katup pembebasan, minimal lewat musik yang didengar nyangkut di hati menjadi inspirasi untuk perubahan hidup yang lebih baik. Semua itu menjadi kesadaran yang ngasih energi, daya hidup, agar tetap survive di tengah negeri ngeri ini, dan bangkit untuk memperbaiki apa yang rusak atau selesai dalam diri kita, rumah dan lingkungan kita. Musik membentuk karakter individu yang kuat, memimpin dirinya atau rumahtangga/lingkungannya melakukan perubahan. Dari individu-individu berkarakter inilah akan dihasilkan kolektif yang kuat saling berbagi dan menolong yang lemah atau miskin. Kemiskinan kita kan tidak alamiah. Bayangkan Indonesia kan kaya, tapi kenapa kita miskin? Karena individunya lemah. Kita terlalu asyik bergerombol nonton orang ngeduk kekayaan Indonesia, kita lebih senang ongkang-ongkang dapat komisi 10 persen, yang kemudian diributkan. Hentikan itu semua! Ayo, kerja! Kalau kita kerja, niscaya karakter kita kuat! Sukarno dulu sering bicara tentang Berdikari, berdiri di kaki sendiri. Jauh sebelum DIY dikumandangkan di England sono!

Marjinal peduli dengan nation ini. Kita berusaha menulis lirik dalam bahasa Indonesia, karena kita peduli dengan nation ini, ingat Sumpah Pemuda. Awalnya, banyak yang mencibir, kok band punk liriknya pake bahasa Indonesia! Musik bagi kita kan salah satu jalan untuk berkomunikasi. Liriknya harus dipahami orang Indonesia dong. Musiknya boleh aja gado-gado, mau gambang kromong kek atau pake calung seperti Punk Lung dari Cicalengka, itu sangat kreatif, Atau terpengaruh geberan band-band punk sono, tapi lirik harus bahasa Indonesia walaupun nggak harus benar dan baik seperti yang dislogankan pemerintah. Musik itu selain enak didengar, untuk senang-senang tapi harus punya tujuan yang jelas yang diungkapkan lewat pesan yang memberi inspirasi untuk masyarakat. Kita meniru jejak Benyamin S. Semangat bang Ben serta perjuangannya, kita ambil. Terlepas genre musiknya, Benyamin.S bisa dibilang punk sejati.

Selain lewat musik apa aksi konkrit kalian untuk mengaplikasikan lirik dan esadaran sosiopolitik yang kalian sampaikan?

Bob OI: Aksi kongkrit kita, ya lebih dekat dengan masyarakat dengan membuka ruang-ruang kreatif: bikin workshop cukil kayu di gigs, ikut aktif dalam kegiatan gotong-royong. Bikin pelatihan keterampilan sablon, creative-writing, teater, melukis dan berpameran di ruang-ruang publik dan sekolah. Selain membuka ruang dialog dengan memaksimalkan media audio-visual, kayak bikin film pendek tapi bukan pendek pikiran lho.. he..he…he… Semua itu sebagai langkah awal untuk berdialog dengan masyarakat. Tujuannya bukan cuma hal yang politis doang, kita belajar, berkarya, dan bekerja sama-sama. Sehingga masyarakat terlibat dalam proses kreatif kita!

Bagimana masyarakat disekitarnya memandang dan menerima kalian?

Mike Marjinal:Masyarakat, terutama ibu-ibu, sayang banget ama Marjinal. Kalau kita bikin acara, ibu-ibu di Gang Setia Budi, Srengsengsawah yang bantuin masak-masak. Ibu-ibu pun latihan bina vokalia bareng kita untuk kegiatan panggung Tujuhbelasan. Anak-anak muda mulai belajar nyablon, bikin tato temporer atau bikin distro di sekitar danau Setu Babakan, daerah tujuan wisata lokal itu karena di sono ada wisata perkampungan Betawi.

Bob OI: Pernah sekali gue bawa ransel gede lewat gang mau ke jalan raya. Ada yang nanya mau kemana, tiba-tiba mood becanda gue kumat,”Saya mau pindah, Bu! Kebetulan nih mau pamitan sekalian…” Ibu itu langsung protes: gue nggak boleh pindah rumah, karena dia demen ngeliat keberadaan punk di Gang. Setiabudi. Dia langsung narik-narik ransel gue sambil mau nangis. Akhirnya, gue nggak tega, gue bilang sebenarnya isi tas itu cuma kaos-kaos yang mau didistribusikan ke distro-distro, si ibu pun baru bisa ketawa… Begitulah, kita banyak berhutang budi dengan masyarakat di sana. Ada Babak Jaya yang sudah kami anggap orangtua, ada Pak Maman yang punya kontrakan yang ngasih kebebasan menggunakan rumah itu untuk aktifitas work-shop anak-anak muda, ada anak-anak TK dan SD yang datang tiap sore latihan main jimbe, ada tamu-tamu dari Jerman seperti Mash mahasiswi antropologi Humbolt University, Berlin yang sedang bikin penelitian tentang komunitas punk di Indonesia, atau tamu dari Amerika, Kanada, Prancis, dan tamu-tamu silih berganti kawan-kawan street punk atawa punk kentrung dari Kali Pasir, Jembatan Lima, Kota, Senen, Manggarai, Matraman, Blok M, Meruya, yang datang tukar cerita setelah seharuian ngamen atau kawan-kawan scene punk dari daerah: Porong, Mojokerto,Malang, Blitar, Sukabumi, Bandung, Indramayu, Makasar, Manado, Medan, Pontianak, Ambon, Lampung, Palembang, Batam, sampai Sorong-Papua.

ada informasi tambahan, rencana kedepan atau proyek lain?

Mike Marjinal: Setelah tour silaturahmi maen di beberapa kota tahun ini: Makasar, Manado, Kotamubagu, Pulau Siladen, Sukabumi, Bali, Cirebon, Bandung, Jampang dan beberapa gigs di pelosok Jakarta, kita sekarang mempersiapkan ngegarap album kelima, masuk studio rekaman di rumah kediaman almarhum Pramoedya Ananta Toer, yang kebetulan cucunya, Adit, adalah drumer Marjinal. KIta juga lagi bergerak berkarya, bikin cukil kayu (wood cut), selama ini karya yang udah banyak tersebar itu akan dipamerkan bulan November di Galeri Nasional, Bentara Budaya Kompas dan Galeri Inisiatif Independent yang diorganisir budayawan Taufik Rahzen. Dateng ya ke pameran ntar… Ada work-shop segala, pokoknya mantrapsss! Selama sebulan bikin pameran di tiga tempat sekaligus!!!! Habis kita kelamaan moloooorrr, sekarang ayo bangun! Banguuuunnn! Mantraps!!!!!

85 Comments
  • harriez street punk mojokerto
    January 24, 2009

    kita tunjukkan pada mereka…
    punk bukan ancaman..
    punk bukan buangan…
    punk bukan sampah..
    karna..
    punk adalah suatu njalan yank indah..
    buatlah negeri ini indah dimata kita..
    dan dimata mereka..
    lirik lagu2 marjinal adalah jalan kita untuk merubah agar lebih baik..

    ReplyReply

    [Reply]

  • bum
    February 2, 2009

    awas leninis.

    ReplyReply

    [Reply]

  • usman
    February 3, 2009

    salam buat marjinal rantai babi.bebaskan kami dari penindasan yang sewena wenadan kami ingin selalu bersamau marjinal untuk melawan segala penindasan.oioioioi

    ReplyReply

    [Reply]

    oky Reply:

    b.m.p_fuck@yahoo.co.id

    ReplyReply

    [Reply]

  • PAW
    February 9, 2009

    weeeh bob masih kenal g ma nak sukabumi ????
    sukabumiender 8 ni bentar lagi kalian masih mau main di sini g???
    ohhh ya Kapan Mau main ke SMK YZA2 Bogor lagi ???
    pas Marjinal manggung di YZA itu pas pelulusan w bob.
    Waktu itu W Pengen Ketemu Kalian Makanya W minta pak sukri Untuk Ngundang Marjinal.
    Kata Pak Sukri OK Tp Pengen denger lagu2nya dulu.
    Lalu saya bawa kaset marjinal kata pasukri ok Marjinal lagu2 ya Memang asik2 nah baru di setujuin ma sekolahan Akhirnya jadi juga marjinal. W bangga pas perpisahan w Ada Marjinal. oioioioioioioioioioioi
    Tunjukan Bahwa Kita Semua Bersodara.

    ReplyReply

    [Reply]

  • jhony ramsoy
    February 20, 2009

    oi….

    badanya bertatoo slalu di cap bejat!!!!!
    palalo yang bejat!!!!

    dari MASBERTO (masayarakat bertatooo)

    ReplyReply

    [Reply]

  • oky
    February 22, 2009

    sumpah gue ngk ngerti apa tu marjinal!!!
    tpi waktu gue prtama kali denger kata2 itu
    ntah knpa gue lngsung ska!!

    tpi lo smua hrus add gue!!
    b.m.p_fuck@yahoo.co.id
    and
    slow_54yu@yahoo.co.id

    thanks ya bro

    ReplyReply

    [Reply]

  • otonk
    February 23, 2009

    kirain mbah marijan………….
    roso…..roso……roso….

    ReplyReply

    [Reply]

  • eno
    February 26, 2009

    cnta mati w sama marjinal
    w suka cara n gaya anag” marjinal pii uyan atud qluu kud nnton konser punk cOZzZzz…..
    kta mama anag cewe tdq boleh nnton kya gtuan

    ReplyReply

    [Reply]

  • eno
    February 26, 2009

    I love marji
    nnnnnaaaaaaaaaaaalllllllll

    ReplyReply

    [Reply]

  • eno
    February 27, 2009

    uy slam damaii iia bwd anag”marsinah……
    luph u marjinal……………………………….

    ReplyReply

    [Reply]

  • dyaR
    February 28, 2009

    100 % dukungan bwt marjinal dkk…!!!
    cheers!!!

    ReplyReply

    [Reply]

  • capcus
    March 3, 2009

    band marjinal. kalo gw ke tempat lo ke situ, boleh ngga ??

    ReplyReply

    [Reply]

  • bayu
    March 11, 2009

    saya sangat salut tentang apa yg sudah marjinal lakukan,semua hal…
    kalian adalah semangat bagi kaum kaum terpinggirkan,dan apa yang kalian pikirkan adalah bukan saja bagaimana esok hari atau seminggu nanti,tapi apa yang kalian pikirkan adalah bagaimana jauh esok hari bahkan terus dan terus….
    saya tidak mengenal kalian secara individu atau bertatap muka,tapi apa yg kalian lakukan,lewat lyric lagu yg kalian buat saja sudah cukup menggambarkan apa dan bagaimana keadaan negeri ini,bagaimana untuk hidup dalam damai,dan semangat untuk bertahan hidup dalam negri yg “belum” berubah…

    apapun yg terjadi nantinya,
    saya harap dgn sangat,
    semoga darah juang akan selalu ada,
    jangan pernah berhenti….

    ReplyReply

    [Reply]

  • doni
    March 17, 2009

    kirimin profil personilnya donk.ke mail q or hub 087828989852

    ReplyReply

    [Reply]

  • dic-dic
    June 4, 2009

    bikin album baru dong. kalo bisa nyindir budaya anak muda yang nda nasionalis .
    dari anak punk balikpapan(manpo komuniti)

    ReplyReply

    [Reply]

  • bkt skinhead.
    June 24, 2009

    cinta itu pmbdhan

    kyk lgu na marjinal??/

    ReplyReply

    [Reply]

  • bkt skinhead.
    June 24, 2009

    oi!oi! marjinal

    aq bayan adk na tono??????/

    ank boekittinggi?

    als sawpad city???

    ReplyReply

    [Reply]

  • punkers...!!!
    December 18, 2009

    oy ,….oy…..salam punk rocksss
    salam kenal bwtzz yg lain…!!!!!!!!!
    emang betul ……..kte loe ,,,,, cinta itu PEMBODOHAN kapan bwt PARADE lg…. udah kangen nie ….
    HIDUP PUNGKERZZ LAINYA
    by cw jigrakkkk

    ReplyReply

    [Reply]

  • koplo
    January 1, 2010

    Para pejabat jabatan terhormat ttp kelakuan laknat

    ‘Up Or Down’

    surabaya pemberontak….

    ReplyReply

    [Reply]

  • gendowor
    February 13, 2010

    bang mike nie gw gendowor dr joglo kolektif, kapan maen ke bojonegoro?
    cz bsok tggl 28 feb tmn2 cnie bwt acr bojonegoro bersatu.
    saya sendiri msh kurang pemahamn tentang arti punk itu sebenarnya. pokoknya aq tggu kdtgan kalian, kapanpun itu. qt kpgen komunitas punk di bojonegoro sndri mnjd lbih hidup.
    oi…..oi.oi

    ReplyReply

    [Reply]

    gendowor Reply:

    marjinal, q pgen bgt ktmu & sharing2 ma klian.

    bwt bang mike : ‘q pgn bgt kyk abang’.

    oi oi oi

    ReplyReply

    [Reply]

  • sampeng
    February 20, 2010

    salam damai anak punk di indonesia

    kobarkan semangat punk
    lawan kemiskinan,lawan kebodohan,lawan ketidakadilan,n lawan sistem penindasan di negri kita yang rakyatnya semakin menderita. fuck globalisasi
    marjinal selalu merdeka n(anak merdeka)

    punk love damai
    street_punk_tuban

    ReplyReply

    [Reply]

  • kadir
    February 23, 2010

    marjinal sudah pernah main di bali waktu itu kebetulan teman-teman dari granat kampus unud yang mengundang

    ReplyReply

    [Reply]

  • TrEznO
    March 2, 2010

    SaLuT BgEed Ma sMua PUNK INDONESIA sangaT tErTaRaik ma KhdUpan jaLanaN yg sEsunggUuhNya…

    ReplyReply

    [Reply]

  • bagoezt
    March 23, 2010

    salam sehati,setara&serasa.
    kpn marjinal main ke mlng?lo bisa bareng ma bunga hitam.
    by”metal slug,botol racun,total riot.

    ReplyReply

    [Reply]

  • ecko wanted
    March 27, 2010

    oi oi oi
    kami cinta negri ini tapi kami benci sistem yang ada
    hanya ada satu kata.
    LAAAWWAAANNN

    ReplyReply

    [Reply]

    ecko wanted Reply:

    MAEN KE KAMPUSKU BOZ.
    KAMI MENGUSUNG ACARA UNTUK SEVE MY WORD.DUKUNG KAMI.TAK TUNGGU DI IAIN SUNAN AMPEL SURABAYA TGL 1 MEI 2010

    ReplyReply

    [Reply]

  • baruna(halim)
    April 14, 2010

    woi,,, pa kbar boby n g mana masih ingetz gwe2 di btg,ingat gx melodys gwe yg prnh duet ma lo, n kpan marginal mau ke btg,

    ReplyReply

    [Reply]

  • baruna(halim)
    April 14, 2010

    marginal kami sngat berharap xan tampil n berkarya di BATANG, marginal mp mati
    terus berkarya, mp ti2k darah penghabisan q kan slalu cka, kami rela mati

    ReplyReply

    [Reply]

  • aliran punk
    May 6, 2010

    oy…oy… kami ingin bertemu kembali dengan marjinal.. kapan main lagi di kotamobagu….?? salam anak-anak punk kotamobagu untuk MARJINAL,…
    OY……..OY

    ReplyReply

    [Reply]

  • fane
    May 23, 2010

    crta’a bgus gw ska bnngt

    ReplyReply

    [Reply]

  • muhammad zakariya
    May 30, 2010

    , , , satu jiwa satu persatuan
    kita semua bersaudara
    merah lambang semangat 45
    semboyanku bhineka tunggal ika

    , , , BHINEKA TUNGGAl IKA
    bersatu paduh hancurkan para pembunuh
    BHINEKA TUNGGAL IKA
    lawanlah semua tindak kekekarasan
    BHINEKA TUNGGAL IKA
    robohkan semua dinding pembantaian

    , , , penindasan terjadi dan takkan pernah berhenti
    satukan langkah tujuan kita semua
    wujudkan revolusi di bumi pertiwi
    tak perduli walau kita harus mati

    ReplyReply

    [Reply]

  • tio
    August 7, 2010

    marjinal kpn , , mnggung lgi di tegal habis lebaran lounching lgi donk ke tegal , n biar tegal tali per satuan nya lebih kuat n, komonitas taring babi lebih banyak lgi .. klo dah ke tegal lgi . gue mau ,,,, POGO sampe ,, sekarat

    ReplyReply

    [Reply]

  • Egy
    August 15, 2010

    cukup 3 huruf untuk marjinal ….TOP….

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *