Mengembalikan Jurnalisme kepada Publik

3 , , , Permalink 0

Awalnya dari rasa jengah: ke mana perginya jurnalisme berkualitas di Bali saat ini?

Pernyataan di balik pertanyaan tersebut mungkin terlalu dini. Tapi, setidaknya ada beberapa penanda makin hilangnya jurnalisme berkualitas di Bali. Tiga hal yang menandai tersebut adalah tema berita, penyampaian berita, dan etika jurnalis.

Dari sisi tema berita, sebagian besar media di Bali lebih banyak memberikan seputar intrik dan konflik elite politik. Penyampaian berita kemudian lebih banyak hanya bersifat talking news, semata tentang omongan-omongan elite. Dalam bahasa sarkastik, ada yang menyebutnya sebagai jurnalisme ludah, apa pun omongan elite politik akan diberitakan. Tidak perlu verifikasi. Tak ada keberimbangan. Bahkan, berita seringkali malah hanya menjadi alat adu domba.

Sejalan dengan itu, kepercayaan publik kepada media dan wartawan juga kian menurun. Makin sering terdengar ungkapan-ungkapan dari publik yang menganggap wartawan hanya sekelompok orang yang punya “kemewahan status sosial” namun menyalahgunakannya. Salah satu penyebabnya, wartawan dan media bisa dibayar.

Berita iklan, secara terang-terangan ataupun terselubung, kian berhamburan di media massa di Bali. Kedoknya aneka rupa. Berita iklan. Advertorial. Berita komersial. Semua hanya kedok untuk menutupi praktik pelacuran dalam jurnalisme, mencampur adukkan berita dan iklan, sesuatu yang diharamkan dalam jurnalisme. Lengkaplah sudah praktik ini melengkapi apa yang selama ini juga terjadi, menerima amplop.

Riset Sloka Institute, lembaga pengembangan media, jurnalisme, dan informasi, tentang pemberitaan media di Bali saat ini menunjukkan hal tak jauh beda. Sebagian besar materi media di Bali tentang konflik atau intrik. Media juga mengaburkan iklan dengan kedok berita. Hasil lebih detail dari riset ini bisa dibaca di salah satu laporan kami di edisi ini.

Tapi, hanya mengutuk kian menurunnya kualitas media di Bali saat ini juga bukan hal tepat. Seperti pepatah China, “Lebih baik menyalakan lilin daripada hanya mengutuk kegelapan.”

Kami tak ingin mengutuk. Kami ingin memperbaiki situasi tersebut. Bosan juga kalau hanya mengutuk terhadap situasi saat ini. Untuk itulah kami melahirkan media baru ini, BaliPublika. Konsep media ini adalah dua mingguan dengan tulisan-tulisan yang dibuat, semoga, lebih mendalam. Kami berharap tak hanya terjebak pada semata melaporkan pernyataan-pernyataan tapi juga fakta-fakta di lapangan. Kami berusaha agar tema-tema yang kami bahas tak terjebak pada tema-tema elitis yang tak relevan dengan publik.

Untuk mewujudkan ide tersebut, kami juga merekrut anak-anak muda. Selain karena masih penuh ide dan energi, anak-anak muda ini juga, semoga punya idealisme. Seperti kata Tan Malaka, “Idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki pemuda.”

Akhirnya, inilah lilin yang coba kami nyalakan. Untuk mengembalikan jurnalisme kepada tempat dari mana dia bermula, publik.

Catatan:
Tulisan di atas adalah pengantar kami di rubrik Dari Redaksi untuk media baru yang kami lahirkan, BaliPublika.

Setelah sebulan menyiapkan bersama para reporter dan desainer, belum termasuk diskusi, riset, dan seterusnya bersama Adi Sudewa, sejak Januari 2011 silam, tak menyangka akhirnya ide membuat media baru di Bali ini terwujud juga.

Selamat buat Adi. Setelah bersama Ratih melahirkan Gilang, sekarang melahirkan anak lainnya, BaliPublika. 😀

3 Comments
  • imadewira
    November 20, 2012

    Selamat…

    ReplyReply

    [Reply]

  • Nike
    November 20, 2012

    kereeeen……
    selamat ya… *nungguin versi pdfnya* atau langganan deh, boleh? 😀

    ReplyReply

    [Reply]

  • Arlan Pratama
    November 21, 2012

    Wah selamat, kepengen ikut berpartisipasi, apa daya kemampuan menulis masih jauh 😀
    Sukses selalu ya..

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *