Mengantar Makanan, Menguatkan Kekeluargaan

2 , , Permalink 0

Bisa jadi ini kebetulan.

Tapi kok ya bisa beruntun begitu. Setelah membaca tulisan Winata di BaleBengong tentang tradisi memunjung, kali ini aku mengalaminya sendiri. Padahal, seumur-umur aku jadi orang Lamongan tak pernah mendengar istilah ini sebelumnya.

Tahun ini kami sekeluarga di Bali mudik ke kampung kelahiran. Sehari menjelang Lebaran tahun ini, ibuku tiba-tiba ngomong soal tradisi memunjung, membawakan makanan ke orang yang lebih tua ini.

Memunjung itu istilah yang baru aku tahu setelah baca tulisannya Winata. Setahuku di desa kami memang ada tradisi serupa. Tapi, namanya ater weweh, bukan memunjung. Ternyata, dari ibuku aku kemudian tahu, tradisi ini memang disebut juga memunjung. Ealah..

Ketika aku masih SD atau SMP, tradisi ater weweh ini masih ada. Sebagian orang kampung akan mengantarkan makanan lengkap untuk keluarganya yang lebih tua. Misalnya, adik ke kakak, ponakan ke paman atau bibi, dan seterusnya.

Isi antaran ini makanan lengkap. Uniknya, bumbu makanan lengkap ini selalu sama, bumbu bali. Bumbu bali ini tidak mengacu pada pulau Bali atau identitas Bali. Dia mengacu ke salah satu jenis masakan, serupa lodeh, sayur asam, dan seterusnya. Ciri khas bumbu Bali ini, kalau tak salah, pakai bumbu lengkap dengan santan sangat kental.

Gampang
Bagiku, ater weweh ini salah satu hal menyenangkan menjelang Lebaran. Tradisi ini tak ada pas hari lain.

Namun, kata ibuku, tradisi ater weweh alias memunjung ini makin ditinggalkan. Atau, kalau toh ada, bukan dalam bentuk makanan lengkap tapi uang. “Biar lebih gampang,” katanya.

Tak tahu kenapa, tiba-tiba tahun ini ibuku tanya ke aku untuk memunjung ke orang-orang tua keluarga kami. Dia sih maunya uang saja biar gampang. Aku yang tak mau. Menurutku, bawain makanan lebih asyik daripada uang.

Maka, jadilah weweh itu. Aku dan adikku yang sibuk nganterin weweh ini ke sekitar sepuluh orang tua keluarga kami di kampung. Ada paman, bibi, adiknya nenek, mertua kakak, dan seterusnya.

Gara-gara ater weweh, nama lain dari memunjung itu, aku jadi makin yakin, jika digali amat banyak tradisi sama antara Jawa dan Bali. Cuma, kalau di Bali masih sangat kuat, maka di Jawa mulai perlahan menghilang.

Tak tahu kenapa bisa hilang. Salah satunya karena orang tua juga malas mengajarkan kepada penerusnya dan sebaliknya, yang muda juga tak mau repot dengan tradisi ini. Padahal, tak ada yang keliru dengan tradisi ini.

Ater weweh, memunjung, atau apalah namanya itu, mengantarkan makanan kepada orang tua bagiku adalah bentuk lain silaturahmi. Sayang kalau tradisi ini dibiarkan hilang dan mati pelan-pelan..

Foto diambil dari Flickr Gigih Saka.

2 Comments
  • KA Widiantara
    September 21, 2012

    menarik! Orang Bali (Hindu) kan perkembangannya dari jawa mas. (ngajarin lagi, hehehe) . Jadi, sebagian besar trdisi yg ada di jawa migran ke Bali ;), ini perkiraaanku. untuk istilahnya pun terkadang beda tipis. karena pengaruh dialeg bahasa daerah. dan serapan bahasa jawa kuna (populer di bali lebh digunakan pada suastra Hindu /lontar”)

    Mengenai tradisi, klu di bali jelas udah tahu lah sebagai komoditas pariwisata. sedikit yang orisinil-nya.

    ReplyReply

    [Reply]

  • imadewira
    September 24, 2012

    Tradisi yang bagus dan unik, mungkin hanya ada di Indonesia. Saya juga sempat ikut nulis tradisi ini di blog setelah membaca tulisan di BaleBengong itu.

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *