Mengagumi Batu Megalit Desa Bena

1 , , , , Permalink 0

Batu Megalit Bena

Upacara dan pesta adalah hal tak terpisahkan dari ritual leluhur kita, Indonesia. Misalnya di Bali. Galungan, yang adalah ritual upacara agama Hindu Bali, bagiku adalah juga pesta. Selain makanan berlimpah di rumah masing-masing, upakara yang diberikan adalah juga simbol dari pesta. Penjor, semacam umbul-umbul, dipenuhi dengan aneka hasil bumi: buah, bunga, dan umbi-umbian.

Begitu pula di Desa Bena, Kecamatan Jerubu’u, Kabupaten Ngada, Flores yang aku kunjungi pekan lalu. Tata desa tua yang berumur sekitar 300 tahun ini pun sepertinya memang dibuat untuk memenuhi kebutuhan pesta dan upacara tersebut.

Misalnya pelataran luas, disebut Loka sewu, yang berada di antara dua baris rumah-rumah di desa ini. Di pelataran ini terdapat bangunan kecil berbentuk mirip jamur: atap berbentuk setengah bola, diameternya sekitar 4 meter, dengan satu tiang di tengahnya, tinggi sekitar 5 meter. Bangunan ini bernama nga’du, yang menjadi simbol laki-laki.

Fungsi nga’du adalah untuk mengikat kerbau ketika ada upacara. Kerbau memang jadi hewan wajib saat upacara. Hewan ini diikat dengan tali ditautkan pada bagian atas nga’du sehingga posisi kepalanya mendongak dan leher terbuka lebar. Pada saat pemotongan kerbau, leher ini dipotong sampai darahnya langsung menempel di dinding nga’du.

Tanduk bekas kerbau yang dipotong itu dipajang di salah satu pojon depan rumah seperti halnya kuburan yang ada di depan rumah merkea. Kematian bagi warga Desa Bena memang bukan untuk ditakuti tapi diakrabi.

Ini termasuk pula darah kerbau yang dipotong. Bukannya dibuang, darah ini justru dibiarkan ada di tiang nga’dhu. Saking banyaknya darah yang menempel pada tiang ngadu, warna tiang ini sampai kehitaman. Padahal pohon aslinya berwarna putih. Bau tiang ini juga amis darah. Ada ukiran-ukiran di tiang ini yang memiliki makna tertentu.

Menurut Yoseph Raja, warga setempat yang jadi pemandu kami, kayu yang dipakai tiang ini adalah kayu lokal bernama sebu. Dia tidak tahu bahasa Indonesianya. Harga kayu langka ini mahal. “Sebatang kayu sebu sama dengan dua kerbau,” katanya. Walah, mahal tenan..

Ngadhu Desa Bena

Pondasi nga’du juga tidak sembarangan. Pondasi ini diisi juga dengan kepala tiga binatang sakral bagi warga setempat yaitu ayam yang melambangkan kemuliaan, babi melambangkan kemakmuran, dan anjing melambangkan keberanian.

Pasangan nga’du adalah bhaga, bangunan berbentuk rumah panggung kecil di pelataran, yang jadi simbol perempuan. Mirip rumah, bangunan ini pun ada atap dan lantai kayu. Ruangan seluas sekitar 2×2 meter persegi. Bhaga berfungsi sebagai tempat memasak ketika ada upacara di desa.

Selain nga’du dan bhaga, hal lain yang menjadi ciri khas Desa Bena adalah boneka kecil di atas atap rumah. Boneka kecil ini disebut Ata, simbol laki-laki. Sedangkan Anaie untuk perempuan disimbolkan dengan tombak dan kelewang. Namun ciri paling mengagumkan bagiku adalah kuburan dan batu megalit di desa ini yang disebut Ture.

Jadilah lima hal ini (nga’dhu, bhaga, ture, ata, dan anaie) ini jadi ciri khas Desa Bena. Semua suku punya masing-masing ciri ini di wilayahnya masing-masing. Karena ada sembilan suku maka ada sembilan nga’dhu dan seterusnya itu di desa ini.

Di antara sekian ciri tersebut, penggunaan batu-batu megalit sebagai “dinding” desa, watu laba (tempat rapat), maupun ture (pemakaman) adalah hal yang paling mengagumkan bagiku. Batu megalit ini ukurannya sangat besar. Kalau yang dipakai sebagai tempat duduk ukuran batunya sekitar 4×4 meter persegi. Kalau dipakai ture tingginya ada yang sampai 7 meter.

Kalau zaman sekarang sih mungkin tinggal bawa traktor, truk, dan semacamnya. Gampang. Lha pada zaman itu bagaimana caranya?

Kata Yoseph sih pada saat itu orang-orang masih sakti. Jadi bawanya gampang. Bahkan ada yang bilang kalau orang di sana cukup mengucap mantra tertentu lalu batu-batu itu akan ikut di belakang mereka.

Tentu saja tidak masuk akal bagiku. Tapi tiap zaman toh punya logika masing-masing. Bisa jadi orang pada zaman itu juga tidak bisa memahami bagaimana saat ini orang bisa berkirim email dan dalam hitungan detik sudah sampai untuk orang yang jaraknya separuh bumi.

Maka daripada sibuk memikirkan bagaimana cara orang pada waktu itu membawa batu-batu megalit tersebut, aku pilih mengaguminya. Sebab selain ukurannya yang super jumbo itu, bentuk-bentuk batu megalit itu juga menarik. Ini terutama untuk batu-batu yang ditanam dengan posisi menjulang. Sekilas aku lihat mirip papan surfing yang biasa dipasang pada posisi berdiri di Pantai Kuta.

Menurut Yoseph, bentuk menjulang ini merupakan simbol untuk mengingatkan warga desa pada Yang di Atas, sesuatu yang selalu diyakini ada dan tak bisa kita capai dengan indera yang kita punya.

Pada batu-batu itu terdapat bercak-bercak jamur yang agak mengering. Namun bentuk itu justru mirip lukisan tribal. Keren banget..

Tapi hal paling keren justru di akhir perjalanan ketika kamu sampai di ujung desa. Bagian ini posisinya paling tinggi dibanding yang lainnya. Ada pohon beringin dengan sebuah gubuk kecil di bawahnya. Dilihat dari desa, tempat ini hanya bukit kecil. Tapi ketika kami sampai di titik ini, setelah naik undakan setinggi sekitar 2 meter, kami baru tahu kalau kami ternyata ada di ujung tebing.

Kami tahu ketika kami melihat ke sisi lain, bukan ke sisi desa. Di kanan kami ada Gunung Inerie yang menjulang setinggi 2.245 meter. Sore itu kabut memotong sebagian gunung yang sempat tersembunyi seluruhnya di balik kabut dan mendung.

Di sebelah kiri kami adalah hamparan bukit memanjang. Ada bukit Jerebuu, Wolora, dan Woloteru. Di depan persis adalah laut Flores terbentang luas. Karena laut ini pula maka tempat di mana kami berdiri tersebut disebut juga Bowoza, yang berarti bunyi ombak laut. Kata Yoseph sih dulunya orang bisa mendengar suara ombak di titik tersebut. Tapi kami saat ini tak bisa mendengarnya. Hanya kesunyian yang kami rasakan. Sangat tenang..

1 Comment
  • Yus Mahu
    October 26, 2009

    Kawasan kecamatan Jerebu’u memiliki obyek wisata yang cukup lengkap sehingga turis akan melihat banyak alternatip obyek yang dikunjungi.
    Sedikit catatan Laut di depan Bena adalah laut selatan atau Laut Sawu,bukan laut Flores. Laut Flores ada di pantai utara yakni Riung, Mbay dll. Jika jalan di pantai selatan menuju barat sudah bisa dilalui maka akan tembus ke pelabuhan Aimere. tks

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *