Mempertanyakan Rekayasa di Layar Kaca

4 , , Permalink 0

Ide pertanyaan datang dari Twitter. Di sana pula jawabannya kami temukan.

Pancingan tersebut berasal dari twit salah satu pengguna Twitter di Bali Minggu malam kemarin. “Termehek-mehek mengambil lokasi di Bali.” Begitu kurang lebih kicauannya.

Kata kuncinya, Bali. Dia menjadi magnet untuk segera memindahkan saluran ke TV pemutar tayangan nyata (reality show) tersebut.

Tak jelas apa cerita di layar kaca itu karena kami menontonnya ketika sudah di tengah-tengah cerita. Namun, di sana ada keluarga Bali di rumah. Lengkap. Bapak, ibu, anak perempuan, anak laki-laki, plus pembawa acara. Kecuali pembawa acaranya, semua berpakaian adat Bali.

Seperti juga Film TV (FTV) yang sering mengambil tempat shooting di Bali, kisah nyata ala Termehek-mehek ini pun banyak kejanggalan. Kami sudah beberapa kali menemukannya saat melihat di TV. Kali ini, kami tak menyimpannya sendiri.

Melalui akun @balebengong, kami mengajak warga untuk mempertanyakan kebenaran kisah nyata ala layar kaca ini. Dalam waktu sekitar 30 menit, banyak pertanyaan dan gugatan, seberapa nyata reality show ini?

Ada beberapa kejanggalan tayangan yang mengaku sebagai kisah nyata ini. Inilah beberapa kejanggalan tersebut.

Pertama, pakaian. Dalam reality show, juga FTV, hampir selalu digambarkan bahwa orang Bali berpakaian adat madya. Tentu saja biasa orang Bali berpakaian adat. Tapi, tidak setiap waktu seperti digambarkan di layar kaca.

Ada beberapa tingkatan pakaian adat di Bali, misalnya adat ringan dan adat lengkap. Untuk laki-laki, pakaian adat ringan ini terdiri dari sarung (kamen) dan saput, selendang, serta ikat kepala (udeng). Pakaian adat ini biasa dipakai kalau, misalnya, jenguk orang meninggal atau ikut pertemuan di banjar.

Dan tidak dipakai tiap waktu. Kalau tidak ada acara khusus, ya, tak mungkin orang Bali pakai pakaian adat ringan, apalagi lengkap begini.

Tapi, di reality show diperlihatkan seluruh pemerannya menggunakan pakaian adat madya. Itu, sih, namanya lebay. Mana ada orang Bali setiap hari dan setiap waktu berpakaian adat seperti di Termehek-mehek ini.

Kedua, bahasa. Di reality show ini diperlihatkan semua pemeran berbicara Bahasa Indonesia meskipun lagi marah-marah. Tentu saja, hal biasa biasa orang marah-marah menggunakan Bahasa Indonesia. Tapi, di Bali dan bicara sesama orang Bali lalu marah-marah dalam Bahasa Indonesia? Kok, terasa sekali janggalnya.

Di Denpasar, orang Bali bicara dengan sesama orang Bali pakai Bahasa Indonesia itu wajar. Banyak. Tapi, kalau marah, saya yakin akan pakai Bahasa Bali.

Bahasa Indonesia itu, secara tak langsung dan sadar atau tidak, menjadi bahasa lebih halus atau bahkan lebih tinggi untuk orang lain di Bali. Jadi, kalau marah pasti pakai Bahasa Bali kasar, bukan Bahasa Indonesia.

Selain soal jenis bahasa juga soal logat. Dalam reality show ini semua pemeran berbicara dengan logat Bali mentok. Misalnya, intonasi (irama suara) serta penekanan pada huruf mati tertentu, misalnya “t” yang tebal seperti “th”. Biasa sih orang Bali ngomong dengan logat itu. Tapi, sekarang rasanya makin susah menemukannya, apalagi di kalangan anak-anak muda perkotaan.

Logat Bali di reality show itu terlalu lebay. Dibuat-buat. Artifisial.

Ketiga, pemeran. Melalui akun Twitter pula beberapa warga memberikan informasi tentang siapa pemain di reality show tersebut. Para pemeran di reality show itu ada yang mahasiswi salah satu kampus ternama di Bali, ada pula yang memang pemain drama.

Ada yang memberikan akun ke salah satu pemeran itu. Aku cek linimasanya. Dia menjawab beberapa twit yang mengabarkan dia ada di reality show tersebut. Berarti benar. Dia memang yang berperan di televisi.

Beberapa pengguna Twitter juga mengabarkan. Para pemeran itu dicasting untuk ikut reality show tersebut. Artinya, sekali lagi, mereka memang bukan orang dengan kisah nyata seperti yang ada di tayangan tersebut. Mereka memang ada. Tapi, cerita mereka hanya rekayasa.

Begitulah. Apa yang kita pikir nyata di TV, kadang-kadang hanya rekayasa. Saya tidak bisa memastikan bahwa Termehek-mehek pun rekayasa. Tapi, fakta di atas semoga bisa menjadi pembanding benar tidaknya reality show di layar kaca.

Benar tidaknya, keputusan di tangan Anda.

4 Comments
  • @antakusuma
    June 13, 2011

    Reality show palsu dan gak guna!

    ReplyReply

    [Reply]

  • mr win
    July 28, 2011

    Lah iya emang… semuanya itu skenario semua… sama seperti sinetron, tapi dibungkus dengan embel-embel reality show, beda nya hanya pada penggarapannya, seperti kameraman bisa mengambil secara bebas view nya, sehingga terkesan nyata… dll…
    Termasuk reality show yang laen juga gitu.. semuanya skenario… cuma buat kebutuhan hiburan saja….

    ReplyReply

    [Reply]

  • ryan
    July 29, 2011

    Betul sekali, banyak acara yang hanya menarik perhatian dengan melakukan hal-hal yang tak masuk diakal bagi yang sudah tahu… dan mereka hanya bisa mengolok-olok orang yang tak tahu aja… he he

    ReplyReply

    [Reply]

  • Bukik
    August 12, 2011

    realitas dalam realitas dalam realitas…….

    Yang menarik dari posting ini justru upaya investigasi oleh warga secara kolektif
    Asyik

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *