Mempertanyakan Rasionalitas Pemilih

0 No tags Permalink 0
Finally, Pemilihan Presiden (Pilpres) secara langsung di Indonesia bisa dilaksanakan juga. Inilah hal yang paling membanggakan di Indonesia, paling tidak sejak aku lahir. Untuk pertama kalinya rakyat Indonesia memilih calon presidennya secara langsung. Ya, meskipun masih ada tahap selanjutnya yang belem selesai. But, tidakkah Pilpres 5 Juli kemarin suatu langkah yang luar biasa.

Kebetulan sekali aku bisa menikmati Pilpres di rumah, Mencorek sebuah desa di pesisir utara Lamongan, Jawa Timur. Asik juga melihat bagaimana antusiasme tetangga-tetanggaku menuju tempat pemungutan suara di sekolah satu-satunya di kampungku. Namun masih ada beberapa yang mengganjal.

Pas lagi milih, banyak pemilih yang salah coblos. Soalnya lipatan kartu suaranya erlihat sudah dibuka semua. Padahl masih ada satu lipatan lagi yang belum dibuka. Akhirnya, mereka pun nyoblos kertas double. Jadinya, banyak surat suara yang tidak sah. Kok bisa sih sosialisasinya pas-pasan sampai mereka pada salah buka lipetan. Teknis banget tapi imbasnya kan panjang?

Parahnya lagi, aku baca di koran pagi ini, soal yang sama juga dialami jutaan pemilih. Untungnya KPU Pusat kemudian kirim keputusan mendadak dan kertas suara yang dicoblos double bisa dianggap sah setelah dilakukan penghitungan ulang.

Masih di kampungku. Minggu-minggu sebelum hari H pemilihan juga ada politisasi agama. Masa jamaah sholat langsung disuruh doa bersama untuk mendukung Amien Rais sebagai calon presiden. Doa bersama itu dibaca tiap selesai sholat jamaah di masjid terutama setelah Maghrib dan Isya. Bahkan ketika malam menjelang pilpres, orang-orang pada ngaji semaleman demi mendukung Amien. Bener-bener gila!

Oya, sampai siang ini, SBY-JK terlihat menang di berbagai tempat. Pasangan ini mengungguli Mega-Hasyim, Wiranto-Wahid, Amien-Siswono, dan apalagi Hamzah-Agum. Aku kok jadi mikir, kok bisa SBY yang menang ya? Padahal dosa-dosa dia di masa lalu banyak gitu: Semanggi, Trisakti, Kerusuhan Mei, Aceh, dll.

Jangan-jangan dia menang hanya karena rambut disisir rapi, bicara meyakinkan, dan ikat pinggang di atas perut itu?

No related content found.

No Comments Yet.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *