Mempertanyakan Nasib Para Tuyul

11 , , Permalink 0
Ada istilah baru yang kutahu saat Kongres Aliansi Jurnalis Independen (AJI) di Sanur minggu lalu, “jurnalisme tuyul”. Dalam rekomendasinya, AJI meminta agar perusahaan media massa juga tidak meneruskan praktik jurnalisme tuyul ini. Poin ini masuk salah satu bagian selain perlunya semua pihak menjaga kebebasan pers, menolak kriminalisasi pers, dan pentingnya profesionalisme.

Jurnalisme tuyul sebenarnya istilah yang sarkastis, sangat kasar. Istilah ini mengacu pada praktik mempekerjakan orang lain tanpa status yang jelas. Praktik ini biasa terjadi di kalangan wartawan TV. Koresponden atau kontributor tetap di salah satu stasiun TV mengajak orang lain untuk membantunya dalam liputan. Resminya orang yang diajak tersebut disebut stringer.

Menurutku stringer ini mirip wartawan freelance. Bedanya kalau wartawan freelance seperti aku tidak punya hubungan tetap dengan media tempat menulis. Kalau memang lagi males nulis, bisa saja aku tidak menulis untuk media tersebut. Kalau stringer tidak. Mereka bisa diperintah oleh si koresponden sebagai anak buah. Tapi, keberadaan stringer ini tidak diakui oleh stasiun TV bersangkutan. Sebagian TV malah melarang adanya stringer itu.

Karena hasil kerjanya dipakai sementara keberadaannya tidak diakui ini, maka disebutlah para stringer ini sebagai tuyul.

Di Bali, praktik itu pun terjadi. Hampir semua TV nasional punya “tuyul-tuyul” ini. Stasiun TV nasional seperti TV One, ANTV, dan Metro TV punya. Masalahnya, para stringer ini tidak diakui keberadaannya oleh stasiun TV tempat mereka mengirim gambar. Jadi mereka tidak punya identitas sebagai wartawan. “Saya terpaksa membuat identitas palsu untuk stringer saya,” kata Made Mahendra, kontributor TV One di Bali. Identitas tersebut mirip kartu pers pada umumnya namun ditulis sebagai kameramen.

Selain tidak adanya identitas, nama para stringer ini tidak pernah muncul di berita yang tayang di TV. “Itu praktik tidak fair. Bagaimana pun kami kan butuh pengakuan,” kata Yudha Maruta yang pernah bekerja sebagai stringer untuk TPI. Dia bekerja untuk Made Arnawa, kontributor TPI di Bali saat itu.

Dari sisi ketenagakerjaan, posisi stringer ini memang tidak jelas hubungannya dengan media tempat mereka mengirim berita. Namun, Yudha tetap bisa menerima kondisi itu selama pembayaran honor liputannya lancar. Dia mendapat honor per laporan tayang Rp 50.000. Kalau dia sekaligus yang membuat teks, maka nilainya jadi Rp 100.000 per laporan tayang. Kontributor sendiri, mendapat Rp 250.000 per laporan tayang yang kemudian dibagi dengan “tuyul-tuyul”-nya.

Kontributor mengaku mempekerjakan stringer karena volume kerja yang tidak pasti. Ketika pekerjaan sedang banyak, dia butuh teman untuk membagi beban tersebut. “Kalau tidak ada teman, konsekuensinya kehilangan berita,” kata Mahendra. Dia sendiri pernah jadi stringer untuk Indosiar dan Lativi sebelum jadi kontributor tetap TV One.

Pemilihan stringer ini juga memunculkan isu lain soal kualitas hasil liputan. Stringer yang diajak bekerja biasanya tak punya pengalaman jurnalistik sebelumnya. Lebih karena teman si kontributor. Mahendra mengajak temannya, Aris Wiyanto, yang sedang menganggur untuk jadi stringer. Begitu pula kontributor lain.

Berbeda dengan wartawan pada umumnya yang melewati tes, para stringer ini berbeda. Mereka direkrut atas dasar pertemanan. “Makanya kami sendiri yang mengedit gambar dan membuat naskah yang dikirim ke Jakarta,” kata Mahendra.

Tapi soal kualitas pekerjaan sih soal waktu. Jurnalisme itu menurutku soal kebiasaan juga. Makin sering liputan, makin sering pula wartawan mengasah kemampuan. Makanya di Bali pun para tuyul ini bisa naik kelas. Dari semula stringer, mereka lalu jadi koresponden atau kontributor tetap.

Makanya aku kok lebih khawatir soal hubungan kerja dengan stasiun TV tempat mereka kirim gambar. Tanpa pengakuan resmi, maka tuyul-tuyul itu seperti jadi rombongan wartawan liar. Padahal hasil kerja mereka toh dipakai juga..

11 Comments
  • imsuryawan
    December 2, 2008

    apa beda stringer sama striker Bli? kalo sama G-String? hehehe…

    ReplyReply

    [Reply]

    antonemus Reply:

    wahaha, dasar otak resem. :p

    ReplyReply

    [Reply]

  • sasmito anggoro
    December 2, 2008

    saya juga tuyulnya kontributor, sudah tiga tahun saya jadi stringer, mulai dari rcti, metro tv dan kini saya stringernya indosiar, nasib saya juga tergantung dengan saya sendiri, meski stringer saya bangga karena saya tetap dapat berkarya dari pada banyak wartawan dengan indentitas tapi tak dapat membuat berita, bisanya hanya menakuti nara sumber kemudian minta uang, saya tak lemah atau tak takut meski saya seorang stringer. jika ada yang menghalangi saya mencari informasi dan berita tetap saya lawan meski tidak ada yang bertanggung jawab ketika saya mati.

    ReplyReply

    [Reply]

    antonemus Reply:

    wah, heroik bener, mas. salut..

    makanya saya justru menekankan agar stringer itu diakui oleh para pemilik media. masa sih hasil kerjanya dipake tapi keberadaannya tidak diakui. paling takut kan kalo ada apa-apa.

    selain itu, saya usul temen2 stringer ikut organisasi wartawan saja. jd ada identitas yg dimiliki.

    tengs, mas..

    ReplyReply

    [Reply]

  • Dony Alfan
    December 3, 2008

    Konon kabarnya, satu rekaman dari satu ‘tuyul’ bisa ‘dijual’ ke lebih dari satu responden. Jadi, beda tv tapi gambarnya sama. Entah bener ato tidak

    ReplyReply

    [Reply]

    antonemus Reply:

    bisa jadi begitu. menurutku sih sah-sah saja asal tidak sama persis. kan itu gunanya jd wartawan freelance. :p

    ReplyReply

    [Reply]

  • wira
    December 3, 2008

    liar atau bukan yang penting kan informasinya bener.

    oya, saya kirain mau ngomongin “tuyul” yang bikin berita iklan… itu “tuyul” juga kan? kerjaannya kan nyari duit, bukan nyari berita…

    ups..

    ReplyReply

    [Reply]

  • didut
    December 3, 2008

    *angguk angguk*

    ReplyReply

    [Reply]

  • Artana
    December 12, 2008

    Kalau para stringer itu tetap enjoy bekerja why not, toh ada kepuasan lain selain pengakuan dan uang…..*idealis nok!

    ReplyReply

    [Reply]

  • RONI
    January 26, 2009

    yup / aku setuju ama mas artana / aku salah seorang yang masih bisa enjoy dengan situasi begini / walaupun sebenarnya / kalau aku mau jujur / aku masih berharap bisa secepatnya naik kelas ////

    ReplyReply

    [Reply]

  • amer
    July 25, 2009

    hwahwahwa/ bener// hidup para tuyul// mudah-mudahan para striger tidak di anggap yang menyimpangkan kode etik//

    ini sudah fatal/ jika para tuyul tetap dianggap rendah// toh kami juga sama/ cuma beda status saja dan nama saja yang tidak diakui oleh media// tapi/ kerja kita sama/ tanggung jawab sama// bahkan lebih berat dari para kontri atau koresponde// selain sering di marahi/ kala para juragan kita tidak enjoy dan lagi ada masalah/ entah secara subyektif atau obyektif// stringer juga tidak pernah di apresiasi//

    hahh/ semoga AJI tidak mendeskreditkan kita lagi sebagai ‘jurnalis’ yang tak profesional dan liar/ dan semoga juga AJI mampu membela kita//

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *