Mementingkan Faktualitas Dibanding Aktualitas

1 , Permalink 0

Mana yang lebih penting, aktualitas atau faktualitas?

Salah satu peserta Pelatihan Jurnalistik untuk Humas Balai Karantina se-Indonesia bertanya kepada Nyoman Darma Putra. Aku lupa dari mana pesertanya. Aku cuma ingat pertanyaan menarik tersebut ketika menjadi salah satu pemateri pelatihan tersebut bersama Pak Darma, panggilan akrabku ke dosen Fakultas Satra Universitas Udayana yang juga wartawan kantor berita ABC di Bali ini.

Pelatihan jurnalistik itu diadakan di Kuta pada 18-20 April. Pesertanya sekitar 34 staf Balai Karantina Kementerian Pertanian se-Indonesia. Misalnya Manokwari, Gorontalo, Entikong, Jakarta, dan seterusnya. Selama tiga hari mereka belajar dan praktik liputan maupun menulis berita.

Aku diajak Pak Darma menjadi salah satu pemateri untuk berbagi pengalaman menulis berita kisah. Selain kami berdua juga ada Iwan Darmawan, mantan fotografer Bali Post. Iwan ngajar tentang teknik fotografi.

Dari tiga hari pelatihan tersebut, salah satu ilmu yang baru aku sadari kemudian adalah soal pentingnya faktualitas dibanding aktualitas tadi. Pertanyaan itu muncul setelah Pak Darma menerangkan tentang kelayakan berita, seperti dampak pada publik (signifikansi), ketenaran pelaku (prominensi), aktualitas, kedekatan, dan seterusnya.

Salah satu peserta kemudian bertanya aku tulis di atas, “Mana yang lebih penting, faktualitas atau aktualias?” Jawabannya, faktualitas lebih penting dibanding aktualitas.

Pak Darma memberikan contoh pemberitaan tertembaknya Noordin M Top, gembong teroris dari Malaysia, di Wonosobo pada Agustus 2009 silam. Saat itu, dengan penuh gegap gempita, media massa menulis bahwa yang tertembak adalah Noordin M Top. Meski belum mendapat keterangan resmi dan bukti dari polisi, hampir semua media, terutama daring (online) dan televisi sudah memberitakan, Noordin M Top ditembak mati oleh Detasemen Khusus Anti-Teror.

Nyatanya, berita tersebut ternyata keliru. Bukan Noordin M Top yang tertembak mati tapi Ibrahim, tukang bunga yang juga tersangka pengeboman di JW Marriot.

Atas nama aktualitas alias kecepatan berita, maka faktualitas dikalahkan. Nyatanya kemudian aktualitas ternyata meruntuhkan semua kebenaran informasi yang disampaikan wartawan.

Ironisnya praktik berlomba-lomba mengejar aktualitas alias ketersegeraan itu makin banyak dilakukan wartawan saat ini. Contoh paling gampang adalah perlombaan wartawan TV saat memberitakan kasus terorisme. Begitu mendapat informasi, mereka langsung sampaikan pada pemirsa meski informasinya belum jelas apalagi diverifikasi.

Berita di media daring pun tak jauh beda. Meski belum jelas kejadiannya, bisa saja dengan santainya media akan memberitakan, “Terdengar suara ledakan dari daerah XXX. Belum ada keterangan resmi dari polisi.”

Ya, memang begitulah karakter media yang menjual kecepatan seperti televisi dan daring.

Maka, sebagai konsumen media, kita yang harus lebih bijaksana. Jangan telan dan percaya begitu saja apa yang ada di media penjual kecepatan. Sebab, sekali lagi kecepatan sering kali berbanding terbalik dengan ketepatan.

1 Comment
  • Agung Pushandaka
    May 3, 2012

    Iya, bener juga.., apalagi sepertinya aktualitas lebih menjual daripada faktualitas.

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *