Memberi Bintang untuk Anak Kesayangan

5 , , , Permalink 0

Seminggu berjalan, kami melihat bintang untuk Bani lumayan berhasil. Setidaknya hingga minggu ini.

Bintang itu kami berikan setelah selama empat bulan sekolah TK, Bani masih juga terlihat tak menikmati kelasnya. Dia sering tak bersemangat ketika masuk kelas. Dia akan menundukkan kepala, sekali-kali minta ditemenin hingga masuk kelas, atau bahkan tidak mau ditinggal.

Anehnya, hilangnya semangat itu selalu terjadi begitu dia masuk halaman kelas. Padahal, dia selalu bersemangat kalau berangkat dari rumah bahkan hingga sampai sekolah. Dia kadang sambil nyanyi ketika di atas sepeda motor memperlihatkan bahwa dia bukanlah pemalas untuk masuk sekolah.

Tapi, begitu mau turun dari motor atau melewati pintu gerbang sekolah, dia akan mengkeret kayak si melata kaki seribu yang disentuh manusia. Perubahannya sangat drastis.

Kami kemudian mencoba beberapa cara agar dia tetap bersemangat ketika masuk sekolah atau kelas. Tapi, itu tidak terlalu berhasil. Dia masih juga sering tiba-tiba mengkeret lagi. Senin lalu, hal itu kembali terjadi.

Lalu kami, ayah bundanya, sepakat memberikan penilaian untuknya dengan bintang-bintang. Metode yang kami temukan sendiri ini kami diskusikan bersamanya. Dia setuju.

Teknisnya begini. Ada tiga semangat utama yang dinilai, yaitu persiapan berangkat sekolah mulai bangun tidur sampai pakai baju, saat berangkat dari rumah hingga sampai sekolah, dan saat masuk halaman sekolah dan ruang kelas.

Untuk poin tiga, kami tekankan pada Bani bahwa itu poin paling penting. Dia harus semangat dengan menunjukkan perilaku, antara lain mengucapkan selamat pagi dan bersalaman dengan guru seperti teman-temannya, tidak boleh cemberut atau menundukkan kepala, dan mengikuti pelajaran dengan baik.

Kesannya terlalu moralis. Tapi, menurut kami, dia harus bisa menghargai guru dan temannya di sekolah.

Kalau menurut kami dia sudah melakukan poin tiga dengan bagus, dia setidaknya akan mendapat 1,5 bintang. Kalau dia semangat saat persiapan, dia akan dapat satu bintang. Kalau dia semangat saat berangkat, dia akan dapat setengah bintang. Kalau tiap hari dia bisa melakukan semua itu dengan semangat, dia akan mendapat tiga bintang penuh. Itu bintang tertinggi.

Kami sepakat memberikan penghargaan dan hukuman yang kami buat juga dengan kesepakatan Bani. Kalau dia cuma mendapat minimal 12 bintang, maka dia bebas minta hadiah. Misalnya, diinstalin game di iPad atau laptopnya, atau disewain film untuk nonton, atau beli es krim, atau beli buku, atau apa pun yang dia mau.

Karena Bani game freak, dia minta dinstalin game saja.

Sebaliknya, kalau dia tidak mendapat 10 bintang dalam seminggu, maka dia tidak boleh nonton atau main game. Ini dua kegiatan favoritnya. Dia hanya boleh main dengan teman-temannya di mana saja tanpa menyentuh laptop atau iPad sama sekali.

Kami mengajarinya untuk bertangung jawab dan siap dengan akibat tindakannya.

Ternyata, metode ini berhasil. Setidaknya hingga seminggu ini. Dia mulai mengubah sikapnya saat masuk sekolah atau kelas. Tidak lagi cemberut dan menundukkan kepala, tapi pelan-pelan menegakkan kepala saat salaman dengan guru atau disapa temannya.

Aku melihat dia melakukan itu tanpa perasaan terpaksa atau tertekan. Semoga saja untuk seterusnya.

5 Comments
  • Agung Pushandaka
    October 26, 2010

    Kalaupun Bani melakukan itu semua dengan terpaksa pun (terpaksa bersemangat masuk gerbang sekolah biar bisa main game di laptop) rasanya wajar kok. Jangankan anak seumur dia, yang tua pun kadang-kadang masih blum bisa ikhlas melakukan sesuatu. 😛

    ReplyReply

    [Reply]

  • riri
    October 27, 2010

    metode The Nanny dengan memberi poin penghargaan pada anak memang ampuh ya ternyata 🙂

    ReplyReply

    [Reply]

  • Dek Titut
    October 27, 2010

    rrrrr pernah tidak berpikir untuk mencek teman2nya Bani? Anakku dulu gitu, ga semangat sekolah (3 bulan pertama). Ternyata, dia di bully sm temanny – tapi takut cerita sama aku. Karena, hhmm ada anak2 yang sebenernya keberaniannya tipis, tp untuk menutupi ketakutan mereka memperlihatkan dg menjajah temannya sendiri. Sementara, semua anak – di awal sekolah, pasti takut. Jadi hampir selalu kejadian, bullying itu justru terjadi di tahun pertama anak2 masuk ke institusi skolah. Dan, apesnya anakku wkt itu – dia tergolong paling muda di kelas. Yang membully itu hampir 1 tahun lebih tua.

    *well, nggak bermakud nakut2in lohhh haha shared my experience with Gita*

    atau.. iya, aku stuju dg metode gitu. di seklah anakku – bukan cuma sistem rapot. Tapi juga sistem gambar tempel (stiker) yang ditempel di baju kalau mereka baik, atau WOW WORD (secarik kertas bertuliskan “GOOD JOB”) yang kalau terkumpul sepuluh dapat Student of the Week. 10 kartu Student of the Week dapat Bronze, 5 Bronzes dapat 1 Silver, and so on.

    Good luck ya Bani.

    ReplyReply

    [Reply]

  • Sugeng
    October 31, 2010

    Aku pernah berbincang dengan teman yang berprofesi sebagai guru, dia menyarankan kalau murid yang akan sekolah sebisanya sesuai dengan jenjang umur. Efeknya kalau anak lebih muda umurnya bisa seperti yang dikatakan oleh gek Titut diatas. Anak akan menjadi korban kejahilan teman yang lebih besar karena secara phisik dan pyskiologi kalah besar. Ujung2 nya bagi si anak akan jadi beban saat datang di lingkungan sekolah. 😉
    Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan

    ReplyReply

    [Reply]

    Titut Reply:

    huhuhu Bli Sugeng – kok GEK? hahahahaha Dek Titut lagiiii

    entah ya – ketentuan masuk sekolah di Australi itu aneh. Aku ga tau apa2, anakku langsung masuk kindergarten. Dan itu gapnya besar. wkt pertama masuk, ada yang udah mau 7 tahun, sementara – anakku baru lima tahun. Repotlah.

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *