Membangun Rumah Jadi Lebih Mudah

1 , , Permalink 0

Dengan semangat 45, Lewardi menunjukkan rumah-rumah yang dibangun atau diperbaiki dengan uang kredit.

Rumah-rumah itu di Desa Batu Pangan Daala, Kecamatan Luyo, Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat. Lokasinya sekitar satu jam dari Polewali, Kota Kabupaten Polman. Dari Makassar perlu waktu sekitar 7 jam. Jauh.

Tak hanya jauh, jalan ke desa ini juga rusak parah. Mobil yang kami tumpangi kadang harus nyebur lumpur, naik turun, berkelok di jalanan berbatu yang hancur.

Tapi, di desa ini ada cerita keberhasilan petani meningkatkan kualitas hidup mereka lewat koperasi tani. Untuk itulah aku ke sini, mencatat cerita mereka, termasuk rumah-rumah yang ditunjukkan Lewardi, petani kakao di desa ini.

Rumah-rumah yang ditunjuk Lewa, panggilan akrab Lewardi, ini khas rumah suku Mandar, salah satu suku terbesar di Sulawesi Barat. Rumah ini bentuknya panggung. Bagian bawah tak berisi apa-apa. Di lantai dua jadi tempat tidur, terima tamu, sekaligus dapur.

Sejak setahun terakhir, petani di sini bisa lebih mudah membangun atau memerbaiki rumah mereka. Koperasi jadi salah satu kendaraan mereka. Di lembaga yang juga milik mereka ini, petani bisa pinjam uang untuk membangun rumah itu tadi.

Program kredit rumah diberikan oleh Koperasi Amanah, Pusat Koperasi Tani (Puskoptan) di mana kelompok-kelompok tani desa ini bergabung bersama sekitar 1.500 petani lain dari lima kecamatan termasuk Kecamatan Luyo.

Sebelum ada koperasi, petani meminjam uang pada tengkulak. Tak hanya untuk membangun rumah tapi juga keperluan sehari-hari ketika belum panen kakao.

Nah, setelah ada koperasi, petani tak lagi tergantung pada tengkulak. Mereka tinggal pinjam uang ke sana. Syaratnya tak berbelit. Cukup dengan jadi anggota. Khusus untuk kredit rumah, koperasi memberikan pinjaman maksimal Rp 10 juta.

Rata-rata biaya pembangunan rumah di desa ini antara Rp 30-40 juta. Jadi, Rp 10 juta sangat besar bagi mereka.

Nantinya, petani tinggal membayar saat mereka panen. Besarnya Rp 2,5 juta. Panen ini rata-rata enam bulan sekali. Jadi, bisa dibilang pembayaran utang tersebut enam bulan sekali. Tiap bulan, para petani bayar bunga sebesar Rp 59.000.

“Tak apa membayar bunga. Toh nanti juga kembali untuk kami sendiri,” kata Muhidin, petani lain di Kecamatan Mappili.

Lewat koperasi, para petani di Polman lebih mudah memperbaiki atau membangun rumah sendiri.

1 Comment
  • Mo
    May 16, 2011

    Senang membaca posting ini. Semoga makin banyak koperasi yang memiliki program serupa.

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *