Membaca Penanda Piala Dunia

0 No tags Permalink 0
Finally, Final Piala Dunia 2006 berakhir. Hasilnya, mamamia!, Italia menang.. Azzuri ngalahin Perancis [apa Prancis ya?] di final lewat adu penalti. Ketakmampuan David Trezzeguet [bener ga ya nulisnya] nendang penalti jadi berkah bagi Marcello Lippi. Italia menang 5-3.

Momennya memang udah lewat. Tapi tetap menarik ngobrolin piala dunia, entah pialanya itu sendiri maupun finalnya.

Piala Dunia, sebagai sebuah benda, hanya berupa piala berbentuk bola dunia dengan tangan di bawahnya. Pengganti piala Jules Rimet ini dilapisi emas 18 karat, tinggi 36 cm, dan berat 4.97 kg [ini versi wikipedia]. Tapi piala dunia itu tak melulu benda. Dia hanya simbol. Hanya penanda, menurut kajian semiotika ala Umberto Eco. Di baliknya banyak banget petanda atau makna yang ingin disampaikan.

Di balik piala dunia ada ego manusia yang tak mau kalah. Lihatlah Christiano Ronaldo yang menangis gara-gara kalah ma Jerman. -Syukurin!- Ada superioritas. Ada gengsi. Karena itu 32 negara rela menghabiskan milayarn duit “hanya” untuk ikut lari-lari mengejar bola di lapangan. Piala dunia jadi ajang pamer kekuatan. Mungkin inilah perang tanpa senjata yang dinikmati milyaran orang di dunia.

Kalau sepakbola adalah agama, mungkin dia akan jadi agama paling besar di dunia. Gitu tulis Kafi Kurnia di Intrik GATRA. Sepakat! Inilah agama yang tak perlu disebarkan dengan pedang atau pistol atau meriam. Lihatlah tentara Amerika Serikat yang istirahat sejenak di Irak demi memonton Reyna dan kawan2nya melawan Italia.

Piala Dunia juga bisa jadi lawakan terbesar di Indonesia. Terutama komentator di TV. Lihatlah Roni Patinasarani yang berbuih-buih ngecap mengomentari strategi tiap pelatih. Menyalahkan kadang-kadang. Komentarnya kadang-kadang naif. “Yang anak kecil pun bisa bilang kayak gitu,” tulis M Mahfud, mantan menteri itu. Sejawaran Asvi Warman Adam juga ikut nulis komentar terhadap komentator. Indonesia cuma bisa berkomentar tapi tak bisa ikut main. Lalu mantan menteri dan sejarawan juga ikut mengomentari komentar komentator.

Kini, aku malah mengomentari komentar mereka terhadap komentar komentator. Bener2 lucu..

No Comments Yet.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *