Memahami Diaspora di Tanah Palestina

6 , , , , Permalink 0

hebron-cover

Lama tidak menulis resensi buku. Tidak tahu juga kenapa aku bisa males banget menulis resensi atau sekadar review pendek tentang buku yang baru selesai aku baca. Kali ini soal buku yang terakhir aku baca saja deh. Mumpung masalahnya masih hangat, bahkan sedang panas-panasnya.

Buku berjudul Hebron Journal ini langsung aku samber ketika aku belanja buku di Gramedia Gatot Subroto Denpasar seminggu lalu. Tidak tahu juga sih kenapa bisa refleks gitu aku langsung mengambilnya padahal sudah beli tiga buku lain. Mungkin karena judul buku ini yang pas banget dengan situasi terkini di Palestina.

Tidak hanya belinya yang cepat, tanpa berpikir panjang. Aku juga baca buku ini dengan cepat. Untuk 551 halaman, aku baca kurang dari seminggu. Relatif cepat. Menurutku sih karena cerita dalam buku ini juga simpel, apa adanya. Jadi tidak perlu berpikir keras untuk menelaahnya.

Buku Hebron Journal: Catatan Seorang Aktivis Perdamaian dari Amerika yang Melawan Kekejaman Israel di Palestina dengan Jalan Cinta dan Anti-Kekerasan ini bisa menjadi bahan menarik tentang bagaimana perjuangan membantu rakyat Palestina tidaklah harus dilakukan atas dasar sentimen keagamaan dan jalan kekerasan.

Arthur G Gish, penulis buku ini, adalah aktivis di Christian Peacemaker Team (CPT). Organisasi ini dibentu sebagai respon komunitas Kristen Amerika terhadap maraknya perang berkepanjangan di beberapa negara, termasuk di Palestina. CPT menggunakan jalur anti-kekerasan dalam aksi-aksinya. Bagi mereka, kekerasan harus dilawan dengan semangat cinta kasih. Pilihan ini seperti yang dilakukan Mahatma Gandhi ketika melawan penjajah Inggris di India.

Gerakan anti-kekerasan itu kadnag-kadang naif. Bagaimana mungkin menghentikan tindakan pelanggaran pada kemanusiaan hanya dengan cara diam. Tapi tidak bagi Gish dan teman-temannya. Bagi mereka gerakan anti-kekerasan bukanlah sains. Gerakan ini akan lebih terasa kalau dilakukan langsung di tengah-tengah konflik dan penindasan yang terjadi di Palestina.

“Gerakan semacam ini tidak bisa diukur. Ini seni. Diperlukan sikap peka, terbuka, dan mau mengalah. Anti-kekerasan lebih dari sekadar seni. Ini adalah sebentuk doa,” tulis Gish di buku terbitan PT Mizan Pustaka, Juli 2008 ini.

Karena ditulis oleh orang Kristen, maka bagiku buku ini jadi lebih netral meskipun masih saja terlihat bahwa Gish sangat membela warga Palestina. Tapi setidaknya pembelaan Gish bukan pembelaan atas dasar kemanusiaan, bukan kesamaan agama dengan warga Palestina.

Buku ini merupakan catatan harian Gish yang tinggal di Hebron, salah satu wilayah konflik antara Israel dan Palestina. Gish bersama anggota CPT lainnya tinggal di kawasan yang didominasi muslim namun dikepung pemukiman Yahudi. Dalam empat kali kunjungannya di Jalur Gaza, dan rata-rata tinggal selama tiga bulan di sana, Gish mencatat semua yang dia alami, yang dia lakukan, dan dia saksikan. Ini adalah catatan dari lapangan.

Sudah lama aku tahu bahwa konflik di Palestina adalah konflik teritorial alias rebutan tanah semata. Negara dan agama hanya jadi pelengkap penderita. Buku ini tidak hanya mendukung pengetahuan itu tapi sekaligus memberikan beberapa contoh tindakan kemanusiaan di antara deru perang.

Sebagian besar isi buku Gish memang berisi catatan kekejaman tentara Israel terhadap warga Palestina, terutama anak-anak dan perempuan. Namun dia juga mencatat hal-hal yang mungkin jarang ditulis oleh media massa. Sebab, menurutnya, mereka yang mengendalikan media memelintir fakta untuk memberitakan apa pun yang ingin mereka beritakan (Hal 344).

Gish misalnya menuliskan apa yang disaksikannya tentang kelembutan hati tentara Israel ketika menolong bocah Palestina. Kami melihat seorang tentara (Israel) menolong seorang anak Palestina yang jatuh dari sepedanya dan lututnya lecet. Kami memang melihat banyak aksi kekejaman dan penghinaan, tapi juga berbagai ekspresi cinta dan kebaikan (Hal 87). Termasuk warga Palestina yang menutup pintu kandang milik warga Israel. Atau malah tentara Israel bermain bola dengan anak-anak Palestina.

Yap. Tentu saja sebagian besar tentara Israel memang biadab. Pada serangan kali ini, Israel sudah membunuh lebih dari 1000 orang Palestina yang sebagian besar adalah anak-anak dan kaum sipil.

Namun ada pula cerita tentang tentara Israel yang juga menolak perang tidak jelas ini. Salah seorang tentara Israel bahkan ikut melakukan aksi damai ketika tidak sedang dalam tugas meski dia sampai dicaci maki oleh warga Israel sayap kanan. Ada pula Adam Keller yang pernah mengecat slogan anti pendudukan di atas sekitar 117 tank Israel ketika masih aktif di militer. Dia kemudian dipenjara sebelum dipecat oleh kesatuannya.

Ada Israeli Committee Against House Demolitions (ICAHD). Ini adalah kelompok aktivis Israel yang akif melawan penggusuran rumah warga Palestina oleh tentara Israel. Mereka bekerja dengan cara menghalangi buldoser yang dipakai petugas Israel. Seringkali mereka berhadapan dengan orang sebangsanya dan seagamanya. Mereka juga berdemo di depan markas polisi nasional di Yerusalem. Bahkan membantu membangun kembali rumah warga Palestina.

Ada pula Komite Solidaritas Hebron, warga Yahudi Israel yang berhadapan dengan orang Yahudi Israel juga. Warga Israel sayap kanan dan kiri ini saling bentrok di lautan media massa dan polisi. Bahkan ada pula komunitas rabi atau pendeta Yahudi yang aktif menentang perang dengan Palestina.

Artinya di kalangan Israel sendiri, penggusuran rumah warga Israel, apalagi, perang melawan warga Palestina dianggap sebagai sesuatu yang tidak berperikemanusiaan. Seorang aktivis perdamaian asal Israel meratapi apa yang dilakukan oleh bangsa Israel. Ia melihat penjajahan Israel pada Palestina sebagai sebuah tragedi bagi agama Yahudi. Ha eretz (tanah air) telah menjadi hal terpenting bagi agama Yahudi dan menjadi berhala.

Atas nama berhala itu, maka tentara Israel merasa berhak untuk meniadakan kemanusiaan warga Palestina. Dan itu terus berulang..

Judul: Hebron Journal
Penulis: Arthur G. Gish
Penerbit: PT Mizan Pustaka, Juli 2008
Hal: 551 halaman

6 Comments
  • ahead
    January 19, 2009

    ini untuk meredam amarah terhadap kejahatan israel ya om anton? kok kesannya supaya kita tidak anggap semua orang israel itu jahat kalo baca dari ini sih…

    ReplyReply

    [Reply]

  • PanDe Baik
    January 20, 2009

    ahead > ….tidak anggap semua orang israel itu jahat…
    Sama Halnya dengan ….tidak semua blogger itu hanyalah orang yang kurang kerjaan….
    atau ….tidak semua PNS itu suka mbolos….
    But, 551 halaman dalam seminggu ?
    kalo saya mah, tergantung isinya. 🙂

    ReplyReply

    [Reply]

  • iik
    January 20, 2009

    Yah itulah rua bhineda, ada baik-buruk, suka-duka.
    551 hal??? kayaknya ming perlu baca nih setelah thesisnya selesai,hehehe…

    ReplyReply

    [Reply]

  • indra
    January 23, 2009

    wah, musti punya bukunya nih. pak anton, boleh minta emailnya, trims ya pak.

    ReplyReply

    [Reply]

  • asn
    January 26, 2009

    postingannya berat banget
    ampir gepeng neh kegencet hahah

    ReplyReply

    [Reply]

  • baby
    February 20, 2009

    menurut aq seh ..
    apa pun alasan u/ mendapatkan tanah air itu , bkn dgn cara menyengsarakan bangsa lain .
    Pernahkah mereka (israel) membayangkan posisi palestina ada di pihak mereka?
    anak2 & wanita israel diperlakukan sama seperti perlakuan mereka terhadap palestina?
    apakah hati mereka telah tertutup & tdk memikirkan hidup org banyak??
    Manusia . . jika kalian semua memiliki sifat seperti tu, Laknat lah kalian.
    Bersiaplah u/ menghadapi kehancuran yg kau ciptakan sendiri .

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *