Melali Bersama untuk Berbagi Cerita

1 , Permalink 0


Menggunakan Blackberry-nya, Putu Chris Budhi Setyawan mengambil gambar kumpulan tengkorak.

Kerangka kepala orang mati itu berada di bawah pohon besar di Desa Trunyan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali. Selain tengkorak, di tempat yang sama juga ada tulang belulang dan aneka benda lain untuk orang yang sudah meninggal.

Bukannya takut, Chris Budhi malah mengambil foto kerangka dan tengkorak tersebut. Usai jepret, dia langsung menyebarluaskan foto tersebut lewat akun Twitternya di @chrisbudhi.

Tak hanya Chris Budhi, sebagian pengunjung pemakaman kuno masyarakat setempat itu pun langsung mengunggah foto mereka usai mengambilnya. Merekalah para pewarta warga yang tak hanya mengumpulkan informasi tapi langsung memproduksi dan menyebarluaskannya.

Selain Chris Budhi, ada 26 pewarta warga lainnya ikut Melali Bersama Bale Bengong, Minggu kemarin. Ada mahasiswa, desainer, jurnalis, peneliti, pekerja travel, pengusaha online, dan lainnya. Mereka turut serta dalam reportase bersama ala Bale Bengong ke Kintamani, Bangli.

Biar lebih menyenangkan, reportase bersama pewarta warga itu dikemas dalam bentuk jalan-jalan atau dalam bahasa Bali disebut melali.

Menurut rencana, sih, melali bareng ini dibagi dalam tiga topik, yaitu wisata, pertanian, dan sosial budaya. Namun, rencana ini harus diubah karena cuaca yang kurang bersahabat, hujan deras saat mau reportase. Akhirnya, semua peserta menuju satu tempat saja: Desa Trunyan.

Namun, sebelum ke Trunyan, sebagian peserta juga berkunjung ke rumah Putu Restiti, gadis Bali penyandang cacat yang membuat kebaya Bali untuk boneka Barbie. Kisah tentang Restiti bisa dibaca di tulisan Hendro W Saputro di Bale Bengong. Adapun foto sebagian karya gadis berusia 19 tahun ini bisa dilihat di blog Restiti yang dikelola Sakti Soediro.

Di Trunyan, para pewarta berkunjung ke pemakaman khas desa ini. Bagi warga salah satu desa tua di Bali ini, jenazah mereka yang sudah meninggal tidak perlu dikuburkan. Cukup diletakkan di bawah pohon besar bernama taru menyan yang aroma pohonnya bisa mengusir bau busuk jenazah tersebut.

Toh, bagi salah satu pewarta warga, Eka Juni Artawan, bukan tradisi pemkamanan itu sendiri yang menarik, tapi profil Wayan Cipta, salah satu pemandu di sana. Eka yang bekerja di salah satu hotel di Kuta, menulis profil Wayan Cipta untuk Bale Bengong.

Hasil melali bersama itu disampaikan para pewarta warga dalam aneka rupa jenis media. Ada foto maupun tulisan. Medianya lewat blog, Facebook, maupun Twitter. Inilah mungkin salah satu kekuatan jurnalisme warga: dari warga, tentang warga, untuk warga. Jejaring sosial yang kemudian menguatkannya.

1 Comment
  • Hendra W Saputro
    April 15, 2011

    Sepertinya perlu buatkan agenda secara berkala ttg melali reportase ini. Asyik lo.

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *