Media Sosial untuk Menggemakan Perlawanan

1 , , Permalink 0

cover medsos

Asyik. Satu buku lagi yang menerbitkan tulisanku.

Kali ini dari Combine Resources Institute (CRI) Yogyakarta. Buku singkat, hanya 48 halaman, ini memuat tulisanku sebagai salah satu dari empat tulisan di dalamnya.

Kali ini tentang bagaimana media sosial menjadi media perlawanan terhadap rencana reklamasi di kawasan konservasi Bali.

Perlawanan tersebut dilakukan Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi (forBali) terhadap rencana megaproyek PT Tirta Wahana Bali Internasional (TWBI), milik taipan Tommy Winata.

PT TWBI akan membangun fasilitas pariwisata ambisius di kawasan Teluk Benoa, Kuta Selatan. Perusahaan properti yang berkantor di Kuta, Bali ini akan membangun hotel, tempat pertemuan, tempat pertunjukan, pusat perbelanjaan, kampus, rumah sakit, lapangan golf, dan lain-lain.

Rencana ini ditentang habis-habisan oleh masyarakat di Bali. Salah satunya ForBali.

Sejak awal, ForBali sadar betul untuk menggunakan media sosial tak hanya untuk berkomunikasi secara internal tapi juga menyebarluaskan ide dan menggerakkan massa.

Hasilnya, sejauh ini berhasil. Tidak tahu nanti.

Keberhasilan itu sekaligus memberikan beberapa pelajaran.

Aku ingat ketika zaman mahasiswa, media komunitas perlawanan masih berupa pamflet dan selebaran. Media propaganda biasanya dibuat dalam bentuk ringas, misalnya satu lembar bolak-balik, dengan materi padat.

Kini, media-media perlawanan seperti itu beralih ke media dalama jaringan (daring). Internet menjadi tempat di mana media-media itu dibuat dan disebarkan.

Karena platformnya daring, maka satu bentuk informasi saja tidak cukup. Perlu ada konvergensi. Tak hanya teks tapi juga foto dan video. Para penggerak ForBali, misalnya, membuat video-video antara 3-5 menit berisi suara-suara penolakan terhadap rencana reklamasi Teluk Benoa.

Kesimpulannya, media sosial menjadi faktor penting dalam media-media perlawanan, media advokasi, ataupun media komunitas warga saat ini. Media sosial tak lagi hanya sebagai pelengkap tapi juga media perlawanan itu sendiri.

1 Comment
  • Wahyu Alam
    July 23, 2014

    Semangat mas, semoga perlawanannya berhasil!
    Semoga (juga) peran media sosial kedepannya bisa dimanfaatkan oleh pemangku kepentingan publik di Republik.

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *