Maksiat itu di Pikiranmu, Sobat

27 , , , , Permalink 0

“mikir-mikir lagi kalau mau ke #bali. terlalu banyak mudharatnya.”

Begitu kicauan (tweet) salah seorang pengguna twitter di akunnya sekitar tiga hari lalu. Aku menemukannya di antara ratusan kicauan dengan hash tag #bali. Kicauan itu langsung menggelitik pikiranku soal ironi turis domestik di Bali.

Bagi turis domestik, Kuta masih jadi tujuan favorit jalan-jalan di Bali. Setelah itu baru Sanur, Tanah Lot, Kintamani, dan seterusnya. Banyak tidaknya jumlah pengunjung ini dengan mudah bisa dibandingkan dengan melihat langsung di lokasi.

Di Kuta, kalau pas lagi ramai, turis domestiknya bisa tumplek blek berjejelan di pantai. Tapi, bukannya menikmati indahnya pantai atau asyiknya ombak, turis domestik ini malah asyik melihat-lihat bule berjemur. Jadi, kalau bule menikmati pantai, maka turis domestik menikmati bule.

Ironisnya, bule-bule berjemur itulah yang justru dianggap sebagai hal buruk (mudharat) oleh sebagian turis domestik itu. Lucu jadinya. Mereka ke pantai bukan melihat pasir dan ombak tapi malah melototi bule pakai bikini. Eh, malah kemudian mereka menganggap bule sebagai hal buruk. Aneh..

Pantai Kuta memang tempat turis berjemur. Maka, sangat lumrah kalau banyak bule setengah bugil lagi rebahan di pasir. Mereka jauh-jauh ke Bali ya memang untuk menjemur tubuhnya. Lha, masak di pantai malah mau pakai kerubutan pakai sarung. Hehe..

Berjemur di pantai itu bagian dari menempatkan sesuatu pada tempatnya. Ke pantai, ya, berjemur dengan pakaian minim. Ke pura, ya, untuk sembahyang dengan pakain adat.

Kelucuan lain, sebagian turis domestik ke Bali ya memang untuk mencari apa yang mereka sebut mudharat itu. Bagi sebagian orang ke Bali justru untuk melepaskan “kekangan” yang mereka alami selama ini.

Ada dua contoh yang aku alami sendiri. Sekitar akhir November dua tahun lalu, beberapa teman datang dari Aceh. Selama di Bali, mereka mengaku benar-benar merasa terbebas dari syariat. Jadi, mereka puas-puasin melihat bule berjemur dan menyambangi satu cafe ke cafe lain.

Cerita lain tak jauh beda. Teman adikku yang sehari-hari berjilbab tiba-tiba buka jilbab pas sampai Bali. Mereka pakai hot pant ke mana-mana selama di Bali. Aneh..

Menurutku, bisa jadi mereka memang butuh pelampiasan dari apa yang selama ini mereka lakukan. Tapi, itu bukan “dosa” Bali, Sodara-sodara. Itu salah Anda sendiri. Jadi, tidak usah menganggap itu sebagai sebuah hal buruk lalu “menyalahkan” Bali sementara Anda sendiri diam-diam menikmatinya.

Lagian, Bali bukan hanya Kuta. Kalau memang tak mau melihat bule berjemur, silakan ke tempat-tempat lain yang bejibun jumlahnya. Ada Bedugul dengan pesona tiga danaunya. Ada Taman Ujung dan Tirtagangga dengan kekayaan arsitektur air Bali sejak dulu. Ada Kintamani dengan gunung dan danau baturnya.

Bali punya banyak tempat menarik untuk dikunjungi tanpa harus membuat Anda merasa diri telah berdosa setelah menikmatinya.

27 Comments
  • emy
    August 2, 2010

    Baguuusss!! aku suka tulisan ini!
    yang biasanya berkicau emang biasanya yang munafik2 kok…

    ReplyReply

    [Reply]

  • okanegara
    August 2, 2010

    Gila nih tulisan, asik banget dihisap maknanya. Like this very much and I enjoyed reading it. Keren Ton!

    ReplyReply

    [Reply]

  • Mo
    August 2, 2010

    dari dulu salah satu problem utama pariwisata negeri kita adalah lemahnya komunikasi dan pemasaran yang mendidik. pesan di twitter itu salah satu bukti.

    ReplyReply

    [Reply]

  • ekabelog
    August 2, 2010

    MANTAPHH…

    suka banget tulisan ini….

    ReplyReply

    [Reply]

  • agus lenyot
    August 2, 2010

    hahaha, dosanya setelah kembali ke kampung halaman aja mas..

    ReplyReply

    [Reply]

  • catur
    August 2, 2010

    tulisanmu menarik, karena aku juga pernah mengalami ada seorang kawan datang dari luar bali yang memiliki komentar sama. jawabanku..” pulang saja, jangan lanjutkan kau rencana cari kerjaan di bali”. bayangin hampir tiap ketemu ada saja komentar yang harus ku dengarkan dari dia tentang hal tidak “sopan” di dengar. anehnya 3 tahun dia bertahan.. munafik banget ya kedengarannya!..

    ReplyReply

    [Reply]

  • Cahya
    August 2, 2010

    Iblis dan malaikat itu tidak jauh dari pikiran manusia kan :).

    ReplyReply

    [Reply]

  • tari
    August 2, 2010

    BAGUS BANGET!!!!
    Butuh banyak tulisan seperti ini untuk membuka “PIKIRAN MEREKA”

    ReplyReply

    [Reply]

  • saylow
    August 2, 2010

    Menurut saya kalau mau berwisata harus survey dulu kali yah, kalau dari baca aja kira-kira budayanya tidak cocok dengan keyakinan sebaiknya urungkan niat.

    Saya pikir aceh punya banyak pantai yang jauh lebih bagus dari Bali dan disana orang-orang menikmatinya dengan tetap berpakaian sesuai dengan syariat.

    Itu baru Bali, bagaimana kalau jalan-jalan ke Irian Jaya? Jangankan di pantai, di jalan raya saudara kita disana juga berpakaian “minim”.

    ReplyReply

    [Reply]

  • Gentry Amalo
    August 3, 2010

    Liburan salah tempat namanya ton, kalo mo liburan serba “tertutup” harusnya ke Actjeh dan bukan ke Bali, Kalo Saylow liburannya ke Sanur saja,.. hehehe… :p

    ReplyReply

    [Reply]

  • nyoman baliun
    August 3, 2010

    demen aku ma tulisan ini. thanks ton

    ReplyReply

    [Reply]

  • Bodrek Arsana
    August 3, 2010

    suka sama anton….eh tulisannya….

    ReplyReply

    [Reply]

  • imadewira
    August 3, 2010

    Menohok sekali pak… kadang orang (termasuk saya mungkin) sering munafik, mencerca sesuatu tapi diam-diam juga menikmatinya. Banyak contoh seperti itu.

    ReplyReply

    [Reply]

  • priyo
    August 3, 2010

    Taun kemaren ibuku & her gang dari Jawa salat Idul Adha di Masjid Sudirman. Salah satu temen beliau malah sampe nangis sesenggukan karena gak nyangka bisa nemu mesjid semegah itu di pulau yang [tadinya] dipikirnya sarang maksiat.

    ReplyReply

    [Reply]

  • imsuryawan
    August 3, 2010

    ah… mantap sekali tulisannya bli…

    ReplyReply

    [Reply]

  • didut
    August 4, 2010

    setujuh aja gann 🙂

    ReplyReply

    [Reply]

  • sesy
    August 4, 2010

    aku suka banget judulnya.
    kl aku suka bilang “yang salah otak anda, kenapa orang lain yang harus memperbaiki diri?” hehehehe.

    ReplyReply

    [Reply]

  • tukang ojeg
    August 5, 2010

    maka malaikat berkata : ” sebelum kau mati masuk neraka, liburan dulu ke bali gih! karena disana ada surga dunia” 😀

    ReplyReply

    [Reply]

  • sigantengbangetyaiyalah
    August 6, 2010

    ada yang lain lagi…

    yang biasanya mereka keluhkan ke saya setiap ada yg mau dapat penempatan kerja di bali adalah: susah cari makanan yang halal 😀

    saya bilang, “itu mungkin gara-gara kamu cuma pernah ke bali 2-3 hari atau paling lama 1 minggu. cobalah sebulan. nanti juga terbiasa dan tau selahnya. saya 19 tahun hidup di situ dari lahir juga aman-aman aja kok.”

    dan biasanya mereka masih ngeyel lagi, “3 hari aja sudah susah kok disuruh sebulan?”

    alhamdulillah, saking mangkelnya ya saya jawab, “saya pernah makan daging babi. enak kok, kamu harus nyoba kalo udah di sana.” 😆

    ReplyReply

    [Reply]

  • astiti, putri aka putri astiti
    August 9, 2010

    wah, sabar sabar om….
    galak amat tulisannya. :p

    ReplyReply

    [Reply]

  • PanDe Baik
    August 10, 2010

    ANTON EMANG EDAN !!! ANTON EMANG GILA !!! SORI SORI SORI JEK… jangan Remehkan Anton…

    ReplyReply

    [Reply]

  • Putu Adi
    August 11, 2010

    Kayanya udah jarang ada bule berjemur telanjang dada di Kuta sekarang, makin crowded dan miskin privasi.

    Tulisan mas Anton keren, serasa melepaskan jab dan uppercut berbarengan.

    ReplyReply

    [Reply]

  • jacobian
    August 21, 2010

    cerita yg menarik.memang di aceh itu tempat yg kurang bagus utk hidup dgn banyak syariat islam yg ga masuk akal.yawda mending ke bali ajah ya.hehe…

    ReplyReply

    [Reply]

  • wahyu
    September 6, 2010

    Kadang orang memang suka ngomong tanpa dipikir akibatnya. Coba kalau ada orang lain bilang, “Eh rumah kamu itu sarang maksiat,” bagaimana sedihnya coba? Tapi untung, tidak banyak yang berpikir bahwa Bali itu sarang maksiat. Lebih banyak orang yang memuji Bali sebagai contoh toleransi antar umat beragama dan teladan bagaimana sebuah masyarakat bisa ajeg mempertahankan budayanya.

    ReplyReply

    [Reply]

  • bahtiar
    November 30, 2011

    sangking nikmatnya …
    2 x saya baca posting di atas

    thanks bli anton 🙂

    ReplyReply

    [Reply]

  • jarwadi
    November 30, 2011

    haha, jadi … jadi …

    iya menurutku sih itu masalah ada pada manusianya, bukan masalah tempat 🙂

    ReplyReply

    [Reply]

  • indobrad
    November 30, 2011

    hahahahahaha, ini baru pembelaan telak dari warga Bali. Nice share, bro

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *