Maka, Anak Kami pun Lahir dalam Air

6 , , Permalink 0

Mendadak jantungku berdegup lebih kencang karena takut.

Ketakutan berlebihan itu justru datang ketika dokter bilang bayi kami sudah sepertiga keluar. Aku tak tahu persis apa maksud sepertiga ini. Tapi, aku bayangkan bayi kami sudah keluar kepalanya sementara dua pertiga badannya masih dalam rahim.

Aku tak bisa melihat bayi ini karena harus memeluk istri dari belakang. Mataku tak bisa melihat langsung bayi yang keluar tersebut karena terhalang perut istri.

Namun, otak liarku bekerja. Dia menciptakan segala kekhawatiran dan ketakutan. Bagaimana kalau bayi itu tak bisa keluar? Bagaimana kalau bayi itu terhenti di sepertiga tersebut? Bagaimana jika bayi itu keluar lalu dia terendam air dan tak bisa bernapas?

Pertanyaan paling ekstrem, bagaimana jika kelahirannya justru berakhir dengan kematian?

Bagiku, semua pertanyaan, kekhawatiran, dan ketakutan itulah puncak perjuangan mendampingi istri melahirkan lewat proses water birth hari ini.

Water birth adalah proses melahirkan secara normal, tanpa operasi, dengan cara berendam di air. Bunda memilih cara ini untuk kelahiran kedua anak kami. Padahal aku tak terlalu mendukung pilihan ini. Alasan utamanya, aku tak tega melihat dia harus menahan sakit saat melahirkan.

Tapi dia nekad saja. Aku tak punya pilihan selain mendukung dan mendampinginya. Maka, begitulah hari ini. Setelah sekitar 1,5 jam terjadi kontraksi sejak pukul 5 pagi, kami pun ke rumah sakit bersalin Harapan Bunda di Renon, Denpasar.

Dan, mulailah drama itu. Hampir tiap lima menit dia mengeluh kesakitan amat sangat. Tangannya merangkulku kuat-kuat. Mulutnya mendesis dengan suara yang terus sama, “Aduh. Aduh..” Napasnya naik turun dengan cepat. Wajahnya terus terlihat menahan sakit. Aku tak tega dan terus mendekapnya.

Rasa sakit itu makin terasa seiring dengan besarnya bukaan. Dari 2, 3, 4, 5, hingga 6. Setelah sekitar dua jam di ruang darurat, kami pun pindah ke ruang bersalin, Ruang Water Birth.

Aku pikir kami akan langsung masuk ke bak mandi untuk melahirkan. Ternyata tidak. “Harus menunggu sampai bukaan genap,” kata perawat. Maka, bunda pun kembali telentang menunggu hingga bukaan genap, 10.

Dia kembali terus menerus meringis kesakitan, mencengkeram tubuhku, mengatur napas, menahan teriakan. Dua perawat mendampingi kami. Mereka memeriksa bukaan tersebut.

Sekitar 30 menit kemudian, bukaan pun lengkap. Aku sudah berganti baju karena harus menemani Bunda ke dalam bak. Ini sesuatu yang tak pernah aku bayangkan atau pikirkan sama sekali, masuk ke bak untuk menemani istri melahirkan!

Maka, kami pun masuk bak berukuran sekitar 1,5 meter tersebut. Tingginya sekitar 0,5 meter. Airnya merendam kami hingga pinggang. Ada bunga-bunga kamboja di dalamnya. Musik mengalun pelan tanpa henti. Aku merasa lebih tenang.

Aku duduk bersandar di dinding bak memeluk Bunda yang bersandar padaku. Dia masih terus menerus kesakitan. Namun, menurutku dan dia juga mengakui, kehangatan air dalam bak plus layanan bersahabat dari dokter dan perawat membuatnya lebih rileks. Tenang.

Dokter anak membantu di depan kami. Dia terus memeriksa bayi kami yang belum keluar. Satu perawat menyirami perut bunda dengan air bersuhu sekitar 38 derajat Celcius dari bak kami. Satu perawat lagi membantu menyediakan peralatan untuk dokter. Dia juga merekam proses persalinan berdasarkan permintaan kami.

“Ayo. Atur napas. Dorong. Ayoo,” dokter dan perawat memberi dorongan. “Ibunya pintar. Ayo. Terus…”

Bunda terus ngeden. Setiap dorongannya akan terasa di dadaku. Mau tak mau aku pun turut ngeden juga. Kami berjibaku. Namun, bayi kami tak juga keluar. Waktu seperti amat lambat berjalan. Tenaga Bunda agak melemah.

Aku mulai pasrah. Sempat ada perasaan bahwa kami tak mungkin bisa melewati proses ini. Kami mending pilih operasi. Cepat dan aman.

“Melahirkan secara normal itu ibarat naik gunung. Ketika belum sampai puncak, kita akan merasa capek dan pengen menyerah. Jadi, harus yakin kalau kita bisa melakukannya,” kata dokter Haryasa, tempat kami biasa memeriksakan bayi. Nasihat itu terngiang di kepala.

Maka, meski dengan kekhawatiran yang sempat jadi keraguan, aku terus berkata lain pada Bunda. “Ayo, Bun. Terus. Kita hampir bisa. Kita pasti bisa,” kataku.

Setelah 30 menit berjibaku, kami pun mencapai puncak itu. Bayi kami lahir lewat water birth. Normal.

Aku bisa melihat dokter mengangkatnya dari air. Aku melihat pucat kulitnya dan pusarnya yang baru saja dipotong. Kami melihatnya di antara air yang kini berubah warna jadi merah darah. Lalu, bayi itu pun diangkat dan dipeluk Bunda.

Tak bisa aku tahan, air mataku keluar begitu saja. Kami ternyata bisa mencapai puncak itu untuk melahirkannya. Selamat datang, Satori Nawalapatra..

Ilustrasi diambil dari internet.

6 Comments
  • Nike
    March 15, 2012

    Selamat buat kelahiran Satori ya, Mas Anton.

    Sebagai pisces sangat wajar dia lahir di air 😀
    jadi pengen waterbirth juga ah ntar anak kedua 🙂

    ReplyReply

    [Reply]

    a! Reply:

    iya, ih. bintangnya sama tuh dg kamu. semoga jg pinternya. :p dan, tentu saja kamu sebaiknya melahirkan di air jg. kan pisces. sini ke bali saja kalo tak ada di palembang.

    ReplyReply

    [Reply]

  • antonhpt
    March 16, 2012

    selamat mas,
    sebuat pertanyaan dariku, kenapa namanya Satori? apa sih artinya(pasti keren artinya).. 🙂

    ReplyReply

    [Reply]

    a! Reply:

    jawabannya ada di tulisan lain, om. silakan baca.

    ReplyReply

    [Reply]

  • Mo
    March 27, 2012

    Anton…
    Mabroouuk for the newly born Satori… Wish him grow healthy and smart like his parents!

    ReplyReply

    [Reply]

    a! Reply:

    sukron katsir, ya akhi. you too.. 🙂

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *