Madu di Gunung, Garam di Kota

Ada dua oleh-oleh yang bisa dibawa sepulang dari Kefamenanu, Timor Tengah Utara (TTU) di Nusa Tenggara Timur, madu dan garam. Keduanya dijual di tepi jalan. Harganya juga murah meriah.

Oya, tapi sebelum dilanjut, aku juga baru tahu. Sebenarnya ada oleh-oleh yang lebih menarik dari sekadar madu dan garam. Oleh-olehnya berupa aneka rupa kerajinan lokal yang dijual tak jauh dari pasar terbesar di Kefa. Sayangnya aku baru tahu ketika sudah meninggalkan kota itu. Jadi aku cuma bisa bawa madu sebagai oleh-oleh.

Madu itu bisa ditemui sepanjang jalan raya antara Kupang – Kefa. Persisnya di sekitar Desa Loli, Kecamatan Polen, Timor Tengah Selatan. Lokasi ini berada sekitar tiga jam dari Kupang atau satu jam dari Kefa. Jadi kalau misalnya kita menuju Kefa, maka penjual madu ini ada sekitar satu jam sebelum sampai kota. Tapi sebaliknya, kalau dari Kefa, maka para penjual madu ini berada satu jam setelah meninggalkan kota.

Penjual madu ini berada persis di tepi jalan. Mereka menjual madu-madu itu dalam botol plastik atau kaca. Jadi sekilas mirip jual bensin. Apalagi botol-botol itu juga dipajang di semacam tatakan dengan atap kecil yang biasa dipakai untuk jual bensin.

Jenis madu yang terkenal dari Timor Barat ada dua, madu batu dan madu pohon. Nah, madu yang dijual di daerah tepi hutan ini adalah madu pohon. Penjual mengambilnya langsung dari lebah liar di pepohonan hutan, bukan hasil peternakan. Karena itu dijamin alami.

Harga madu ini Rp 25.000 untuk satu botol seukuran 1 liter. Jadi jelas jauh lebih murah dibandingkan di Denpasar, misalnya. Lha wong di Denpasar harga madu seperempat liter bisa sampai lebih mahal.

Namun, madu ini kurang bagus dalam pengemasan. Sebabnya ya itu tadi, hanya dijual dalam botol bekas. Itu pun tanpa tutup yang kuat. Aku tak sadar soal tutup yang seadanya. Aku baru sadar ketika sampai di rumah dan tasku penuh dengan madu di bagian bawah. Madu itu tumpah!

Oleh-oleh lain yang juga menarik ketika pulang dari Kefa dan menuju Kupang adalah garam rakyat. Garam rakyat ini dijual pula di tepi jalan seperti halnya madu. Lokasinya ada di Desa Oebelo, Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang. Jaraknya hanya sekitar 30 menit perjalanan ke arah timur dari Kota Kupang.

Garam-garam ini dipajang di tepi jalan. Ada gubuk reot kecil tak jauh darinya tempat si penjual menunggu dagangannya. Ketika melihat pertama kali, aku pikir barang di dalam anyaman itu adalah gula. Eh, ternyata garam.

Pengemasan garam ini yang justru menarik bagiku. Garam kristal produksi petani garam setempat ini dikemas dalam wadah dari anyaman daun lontar. Bentuknya lonjong mirip lontong begitulah. Cuma ini ukurannya kurang lebih sebesar betis orang dewasa. Wadah ini disebut gewang atau sokal.

Satu sokal garam yang beratnya sekitar 5 kg itu harganya Rp 10.000. Pembeli tidak bisa menawar sama sekali. Aku tidak membelinya. Cuma jadi inget emak di rumah yang biasa jualan garam. Aku dan semua saudaraku dibesarkan dari usaha jual beli garam itu. Bedanya, emak menjual garam itu dalam bentuk yang sudah diolah dan dijual dalam wadah plastik.

Wadah bernama gewang atau sokal itu sepertinya menarik untuk dicoba dipakai jual garam di kampung halaman juga. 🙂

1 Comment
  • Riri
    January 14, 2010

    wah mas anton kali lain ke sana bilang2 ya, nitip madu pohon,,disini mahal bgt di kertalangu harganya 150ribu sebotol… 🙁

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *