Mading tuh So Yesterday

4 , , , , Permalink 0
Lomba koran dinding Pers Mahasiswa (Persma) Akademika hari ini mengingatkanku pada sekitar sepuluh tahun lalu. Rasanya baru kemarin aku mengalami hal yang sama: gegap gempita Gema Jurnalistik Akademika.

Aku masuk di [aka], sebutan kami untuk persma di Universitas Udayana (Unud) Bali tersebut pada 1998. Antara 1998-2001 itu kami mengadakan banyak kegiatan, salah satunya Gema Jurnalistik, biasa disebut GJ. Kegiatan ini berupa pelatihan jurnalistik di SMP dan SMA se-Bali. Pelatian itu di semua kabupaten di Bali.

Seingetku dalam GJ itu aku mendapat bagian di antara lain Jembrana, Karangasem, dan Denpasar. Usai pelatihan kemudian ada lomba koran dinding untuk semua peserta pelatihan.

Salah satu yang aku inget dari GJ saat itu adalah Lenyot, panggilan akrab untuk Wayan Agus Purnomo yang sekarang malah sudah selesai jadi Pemred Akademika dan jadi Ketua Senat di Unud. Lenyot ini gampang diingat karena saat itu kelompok madingnya di SMP 1 Melaya Jembrana dapat juara.

Hmm, cepat juga waktu berlalu, anak SMP 1 Melaya yang dulu ikut GJ itu ternyata kini jadi panitia. Dia sudah menggantikan kami yang beranjak tua. Hehe..

Maka, ketika akhirnya hari ini ikut menjuri Lomba Kording se-Bali di kampus Sastra itu, aku tak bisa melepaskan ingatan sekitar sepuluh tahun lalu itu. Rasanya baru kemarin terjadi.. Apalagi lomba kali ini pun masih menggunakan media yang sama, koran dinding.

Ini yang membuatku berpikir, kok anak-anak Akademika sekarang masih sama dengan kami sepuluh tahun lalu ya? Maksudku, zaman sudah berganti, mbok ya ada perkembangan sedikit lah dari generasi tua dan jadul macam kami, yang yaaa mungkin waktu itu memang masih kuper. Hihi..

Contohnya dari dua peralatan penting dalam kegiatan jurnalistik: komputer dan kamera. Pas zaman angkatan dulu, pesertanya pake mesin ketik. Ya iyalah. Saat itu  komputer masih jadi barang mahal. Di [aka] saja cuma ada satu komputer. Selain mahal juga berat. Tidak mungkin tiap peserta bawa satu komputer. Bisa-bisa selesai waktu lomba hanya untuk merakitnya.

Sekarang tidak. Aku lihat semua peserta sudah bawa komputer jinjing alias laptop. Malah, kalau tidak salah satu kelompok bisa bawa lebih dari satu.

Begitu juga kamera. Dulu kami semua pake kamera analog. Peserta pake kamera poket berisi film yang untuk mengubahnya ke cetak perlu waktu lama: jepret, cuci, cetak, baru pasang di kording. Sekarang tidak. Sudah ada kamera digital. Jepret. Cetak. Tempel. Murah dan simpel.

Maka aku pikir seharusnya anak-anak muda di [aka], -hihihi, kok aku sok tuwir gini ya?- juga harus mengubah pola pikir. Lombanya bukan lagi kording tapi makom alias majalah komputer. Jadi anak-anak itu tidak lagi bikin kording, apalagi pakai stereoform yang baru bisa hancur setelah seribu tahun alias tidak ramah lingkungan, tapi pake langsung di komputer.

Simpelnya, peserta membuat desain itu di komputer lalu juri akan menilai majalah itu dengan cara melihatnya di komputer. Gampang toh. Wah, ini jadi melek teknologi sekaligus melek lingkungan. Tidak ada kertas yang dipake, tidak ada stereoform yang terbuang. Juga bersih.

Makan listrik lebih banyak? Tidak juga. Kan dia juga sudah dipakai untuk menghidupkan laptop sejak awal dipakai saat lomba. Juga laptop kan tidak makan listrik sebanyak komputer meja.

Selain persoalan lingkungan itu lomba makom ini juga persoalan trend media global. Tak terhitung jumlah media cetak yang bangkrut dan beralih ke media online. Maka kini anak aka juga harus peduli pada masalah itu.

Oya, ngomong soal media online, aku juga sudah sempat ngasi usul untuk lomba blog untuk kegiatan anak-anak aka. Peserta dikasih tau tentang cara bikin blog dan teknik jurnalisme. Ini kan simpel banget. Aku toh malah sudah menawarkan Bali Blogger Community (BBC) untuk bantuin. Mulai dari pemateri workshop blog, pelatian jurnalistik, cari tempat, sponsor, dan lain-lain. Jadi anak aka tinggal nyiapain peserta. Eh, ternyata usul ini juga tidak terlalu direspon.

Ya sudah. Mungkin BBC memang harus bikin sendiri. Kapan ya?

4 Comments
  • intan
    March 11, 2009

    aku menang juara 1 se-Bali kording SMP GJ taun 2001 kok nggak ada yang ingeeettt???
    huahahahahahaha..

    kording is so yesterday??? hihihihihiii…

    ReplyReply

    [Reply]

    a! Reply:

    wahaha, tampangmu gak seculun lenyot sih, tan. makanya cepet lupa. 😀

    ReplyReply

    [Reply]

  • PanDe Baik
    March 11, 2009

    bercermin pada inisiatif koran JP yang begitu gegap gempitanya membuat lomba mading siswa sekolahan, entah saya yg kuper ato memang lomba mading di lokal sini makin jarang diadakan lagi ?

    ReplyReply

    [Reply]

    a! Reply:

    lomba mading memang jarang diadakan, bli. apalagi lomba blog. hehe..

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *