Lima Tahun Mengelola Sloka Institute

3 , Permalink 0

Kami memulainya lima tahun lalu hanya bermodal iri.

Ketika di kota-kota lain ada lembaga di bidang media, kenapa di Bali tidak ada. Di Jakarta ada Institut Studi Arus Informasi (ISAI) dan Lembaga Studi Pers dan Pembangunan (LSPP). Di Yogyakarta ada Lembaga Penelitian Pendidikan dan Penerbitan Yogya (LP3Y). Di Makassar ada Lembaga Studi Informasi dan Media Massa (Elsim), dan seterusnya.

Maka, setelah berniat, berniat, dan berniat, kami pun mewujudkan ide tersebut. Aku, Lode, Bodrek Arsana, dan Mercya Soesanto mendaftarkan Sloka Institute sebagai yayasan ke notaris. Kami berempat sebagai pengurus. Pengawasnya Rofiqi Hasan, Surya Anaya, dan Rita Widiadana. Adapun pembinanya Agung Alit, Mangku Karmaya, dan Hartanto.

Menurut kami sih kombinasi profil-profil ini sudah bagus. Ada jurnalis, peneliti, aktivis LSM. Cocoklah untuk membangun sebuah lembaga di bidang kajian media dan informasi. Tujuan kami adalah mendorong adanya keterbukaan informasi di Bali.

Bermodal urunan Rp 5.000.000 per orang, pengurus pun mulai jalan. Sewa kantor di Renon Rp 10 juta per tahun, cari staf kantor, serta bikin program dan kegiatan. Tapi ya tak selancar apa yang kami pernah rencanakan. Atau setidaknya aku bayangkan.

Pengurus pada akhirnya hanya dua orang yang bekerja, aku dan Lode. Sisanya paling hanya datang pas rapat, bikin rencana, lalu hilang setelahnya. Aku sendiri kadang-kadang merasa hanya korban ide-ide yang pernah kami diskusikan karena kemudian ditinggalkan. Tapi ya sudahlah. Aku ambil saja risikonya.

Setahun pertama di Renon itu tak mudah. Ketika pilih berkantor di Renon, kami sebenarnya pengen membuat tempat kumpul (melting point) berbagai komunitas, jurnalis, mahasiswa, blogger, atau aktivis di sini. Sebab, bagiku, Bali tak punya cukup tempat kumpul seperti ini.

Tapi, meski sudah bikin diskusi rutin, nonton film tiap dua minggu sekali, kopdar blogger, dan seterusnya. Tetap saja jarang yang datang datang. Malah kami sempat bikin warung Dapur Redaksi dengan menu-menu ala jurnalis, seperti banana undercover, cover bread side, dan seterusnya. Tetap saja tak banyak hasil. Kantor Sloka masih sepi.

Setahun di Renon, kami kemudian pindah. Putus asa selama di sana. Dari tengah kota, kantor kami pindah ke pinggiran, daerah Oongan, Gatsu Timur. Setelah pindah ini, kami tak banyak punya kegiatan. Paling hanya sesekali melanjutkan pelatihan jurnalistik, pelatihan blog, dan diskusi.

Bisa dikatakan, kami mati suri. Tak banyak program atau kumpul selama hampir setahun.

Namun, pelan-pelan kemudian lembaga ini hidup lagi setelah ada beberapa tambahan tenaga dan pikiran. Ada Gus Tulank dan Intan Paramitha yang menambah darah segar. Kemudian sempat ada Ni Komang Erviani, Gung WS, dan Astha Ditha. Ketiganya tak lebih dari setahun. Kini masih ada Tulank, Intan, dan Dewi Mahayanthi.

Selama lima tahun ini, program kami pada intinya adalah mendorong keterbukaan informasi di Bali. Ada advokasi Undang-undang Keterbukaan Informasi Publik, jurnalisme warga, Kelas Menulis Jurnalisme Warga, pendidikan dan teknologi informasi, penerbitan buletin ACCESS, dan pendidikan kader partai politik.

Ya, memang tak besar sih perubahannya. Ini toh lembaga kecil yang dibangun dengan modal nekat saja. Tapi ya lumayan juga. Kami bisa berbagi kepedulian dan pengetahuan. Tak hanya di Baliย  tapi juga komunitas di tempat lain, misalnya anak-anak dan petani di Flores.

Kantor kami dari yang semula hanya satu ruangan, kini sudah bertambah dengan ruang rapat dan belajar. Jaringan kami yang semula hanya di Bali kini terus bertambah.

Lima tahun lalu, kami mulai dengan bermodal iri dan nekat. Kini, menurutku, sudah banyak modal yang bisa digunakan untuk berjalan lebih baik. Kami pasti bisa..

3 Comments
  • loveheaven07
    April 7, 2012

    nice share gan, sukses buat anda selalu

    ReplyReply

    [Reply]

  • .gungws
    April 13, 2012

    saya setahun kok,mas… ๐Ÿ˜
    pertamakali liat sloka institute dari blogwalking, tempatnya masih di renon..kesannya serem gtu, tempat kumpulnya orang2 sakti..soale waktu baca itu masih ingusan, jdi belum berani menghadap….tak disangka, akhirnya sempat juga ikut gradaggrudug di sloka institute…
    terimakasih banyak…maaf tidak banyak membantu ๐Ÿ™‚

    ReplyReply

    [Reply]

    a! Reply:

    wah, masak serem sih. tp sptnya setelah setahun di sloka, kamu yg jadi serem. hihihi..

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *