Lima, Kota yang Ramah pada Warga

1 , , , Permalink 0


Menyusuri jalan-jalan di Kota Lima, ibu kota Peru, sungguh menyenangkan.

Tapi, sebelum itu, perlu semacam pengakuan. Tulisan ini hanya berdasarkan pandangan ala turis yang mampir hanya dua pekan. Bukan hasil pengamatan serius ala ilmuwan. :p

Dua minggu di Peru, seminggu di antaranya tinggal di Lima, saya merasakan betapa ramahnya kota ini pada warga.

Saya menginap di kawasan Miraflores, distrik paling kaya di Lima. Karena itu, daerah ini amat rapi dan modern. Dia semacam pusat bisnis di Lima, yang juga kota terbesar di Peru. Selain Miraflores, daerah lain yang terkenal adalah Barranco. Distrik ini populer sebagai kawasan Bohemian dengan bangunan-bangunan tua.

Sebagai kota tua, ditemukan oleh Fransisco Pizzaro pada 18 Januari 1535, Lima terlihat tertata. Jalan-jalan besar, lebarnya sekitar 20 meter. Trotoar nyaman buat pejalan kaki dan pengguna sepeda.

Persis di depan Hotel Aleman tempat saya menginap selama di Lima, ada jalan besar bernama Avenue Arequipa. Jalan ini dua arah namun di antara dua jalur besar itu terdapat jalur khusus untuk pejalan kaki dan pengguna sepeda.

Tiap hari saya melewatinya. Menyusuri jalan-jalan lebar dan datar dengan taman berisi bunga warna-warni di kanan kiri. Jika capek tinggal duduk di bangku-bangku taman di bawah pohon rindang.

Tak usah takut akan hujan. Lima ini kota ajaib, seumur hidupnya tak pernah kena hujan.

Model yang sama, jalan lebar dengan taman-taman itu, tak hanya di Avenue Arequipa. Jalan-jalan utama di tengah kota modelnya sama. Karena itu, enak banget buat jalan kaki menikmati kota.

Salah satu jalan yang terhubung dengan Avenue Arequipa adalah Avenue Javier Prado Este. Minggu sore pekan pertama di Lima, saya menyusuri jalan Javier Prado Este ini. Eh, ternyata bagian ujungnya sampai di tepi pantai.

Ini sisi lain yang menunjukkan ramahnya Lima pada warga. Pantai-pantai di sini benar-benar kawasan publik. Selain ditata rapi juga dilengkapi dengan taman, termasuk di ujung Avenue Javier Prado ini. Ada taman bernama La Pera del Amor. Warga bebas ngapain saja di sini.

Minggu sore itu, misalnya, ada yang hanya duduk di lapangan rumput, main skateboard dan sepatu roda, bersepeda, atau malah rebahan di rumput sambil menggalau seperti saya.

Taman-taman semacam ini tersebar hampir di sepanjang pantai barat Lima yang berbatasan dengan Samudera Pasifik. Uniknya, Kota Lima berada di atas tebing. Pantainya di bawah. Mirip pantai di sisi selatan Bali, seperti Pandawa atau Uluwatu.

Di bawah tebing itu, ada jalan besar serupa Bypass Ngurah Rai. Konon akan dijadikan tempat balapan alias sirkuit. Siapa saja bisa duduk santai di atas tebing sambil menikmati matahari tenggelam di horizon Samudera Pasifik.

Celakanya, suasana yang romantis dengan taman-taman indah, pantai, dan matahari tenggelam justru membuat galau. Teringat keluarga yang jauh terpisah benua.

Hiks…

1 Comment
  • Jody
    November 29, 2014

    puk puk mas anton … 😀

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *