Lelaki yang Pergi dalam Sunyi

1 , Permalink 0

IMG_7907
Bapak pun pergi dengan menyisakan penyesalan dan rasa bersalah.

Sejak awal Desember lalu, emak dan kakak-kakakku sudah mengirim pesan, “Segeralah pulang meski hanya sebentar. Bapak sakit parah.”

Aku masih saja menemukan alasan untuk tidak segera pulang ke kampung halaman.

Pertama karena baru sampai di Bali setelah satu bulan perjalanan ke Amerika Selatan. Kedua karena butuh rehat dengan keluarga. Ketiga karena pekerjaan yang sudah jauh-jauh hari direncanakan.

Semua bukan alasan dibuat-buat. Memang begitulah adanya. Selain itu, aku pun masih yakin Bapak masih akan kuat hingga aku pulang ke rumah kami.

Rencananya aku akan pulang Kamis pagi.

Namun, maut bukan sesuatu yang bisa direncanakan. Dia bisa datang kapan saja.

Hingga kemudian Rabu petang aku dapat kabar duka itu. Bapak meninggal. Setelah sekitar dua minggu dirawat di rumah sakit dan rumah, dia pun pergi di umur sekitar 70. Malam itu juga dia dikuburkan di Mencorek, dusun kecil kami di daerah pesisir utara Lamongan, Jawa Timur.

Rabu malam, sekitar pukul 7 sudah tidak mungkin dapat tiket pesawat dari Bali ke Surabaya. Petang itu aku baru kembali ke rumah setelah tiga hari di Amed untuk acara kantor. Maka, Kamis pagi aku dan keluarga baru sampai kampung.

Gerimis turun sepanjang perjalanan dari Denpasar hingga Lamongan. Langit mendung. Hati murung.

Jumat pagi tadi, bersama keluarga kakak dari Jakarta, kami baru berziarah ke kuburan bapak. Tanah kuburan masih basah. Begitu pula mata kami.

Bagiku, yang paling membuat bersedih adalah rasa bersalah. Bapak akhirnya pergi dan aku tidak sempat turut merawat ketika dia sakit. Nelongso tenan..

Lebaran Juli lalu jadi pertemuan terakhir kami. Ada semacam firasat bahwa saat itu akan jadi pertemuan terakhir. Firasat yang bisa jadi benar, bisa juga salah.

Ternyata firasat itu benar. Kini, ketika dia sudah pergi, kami semua hanya bisa mengenang masa lalu bersamanya. Dan, aku sekali lagi hanya diliputi rasa bersalah dan penyesalan.

Tak banyak cerita menyenangkan bersama Bapak. Ketika kami berkumpul di rumah setelah kematiannya, kami ternyata memiliki lebih banyak kenangan tak terlalu menyenangkan bersamanya dibanding sebaliknya.

Didibandingkan Emak, Bapak memang tak terlalu akrab dengan kami, anak-anaknya. Begitu pula denganku.

Beberapa kenangan manis, aku coba menghitungnya, hanya satu dua. Salah satu yang paling aku ingat ketika dia menggendongku pulang dengan langkah kakinya yang agak pincang. Aku lupa persisnya. Tapi itu salah satu kenangan terbaik yang mungkin aku punya bersamanya.

Sisanya lebih banyak tak menyenangkan.

Dia pernah menamparku ketika aku menangis gara-gara jagung di sawah sudah habis padahal aku berencana bikin acara bakar jagung bareng teman-teman SD.

Dia pernah pula melemparku dengan arit dari belakang. Untung tak sampai kena.

Ternyata tak cuma aku. Hampir semua saudara punya kenangan pahit karena Bapak.

Namun, apapun itu, dia tetap Bapak kami. Dia tetap guru kami dengan segala kekurangan dan kelebihannya.

Kelebihan Bapak bagiku adalah kebiasaannya untuk membaca. Untuk ukuran orang kampung dan “hanya” lulus SD, dia orang yang sangat suka membaca. Dia termasuk manusia langka di kampung kami.

Bahkan di usia senjanya, dia masih senang membaca. Biasanya Bapak duduk di beranda rumah dan membaca apa saja yang bisa dibaca. Majalah. Buku. Koran.

Ketika zaman aku masih kuliah, dia sering kali berpesan agar aku membawa majalah saat pulang. Jika aku lupa, kadang hanya bawa koran. Dia dengan antusias akan membaca semuanya.

Karena itulah membaca buku jadi sesuatu yang mendarah daging. Bapak yang mewariskannya kepada kami sejak kami kecil.

Hal lain yang dia wariskan adalah kecintaannya pada kesunyian.

Secara harfiah, Bapak memang suka bekerja di tempat-tempat sunyi dan terpencil. Hingga akhir hidupnya, dia dikenal sebagai perambah di tempat-tempat sepi dan menyeramkan bagi banyak orang. Menebang pohon untuk kayu bakar, menggali batu, membuat arang, atau bahkan mencari kayu di tengah hutan. Itu keahilan Bapak yang tak dimiliki semua orang.

Dia orang yang biasa bekerja sendiri dalam sepi. Jauh dari hiruk pikuk. Jauh dari gemerlap dan tepuk tangan. Bapak tipe manusia yang biasa bekerja di belakang layar tanpa harus terlihat di depan.

Maka, kembalilah ke kesunyian, Pak. Kembalilah kepada keabadian. Terima kasih untuk semua yang sudah Bapak berikan dan ajarkan..

1 Comment
  • suprianto
    December 18, 2014

    nomer hp mu piro? sik eling aku ?

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *