Lebaran yang Tak Terasa Apa-apa

0 No tags Permalink 0
Inilah lebaran pertamaku tanpa keluarga. Eh, salah ding. Tanpa keluarga di Lamongan kali yang benar. Lebaran kali ini aku merayakannya di Bali bersama istri dan Bani, anak kami.

Lebaran kali ini terasa sepi. Mungkin ini penyebabnya.

Pertama ini lebaran di Bali. Muslim di Bali sebagian besar pada mudik. Kalau aku ga ada Bani yang baru lahir, pasti juga memilih pulang ke desa kelahiran. Denpasar terasa sepi juga tanpa mereka. Ada enaknya, jalanan lebih lengang. Ada ga enaknya, mau beli makan lebih susah.

Kedua lebaran tahun ini berbeda harinya. Muhammadiyah dan NU Jawa Timur sepakat learan Senin [23/10]. Tapi pemerintah dan ormas lain, termasuk pengurus besar NU menentukan lebaran Selasa [24/10]. Aku, istri, dan Bani memilih merayakan Senin. Ya sebagai warga Muhammadiyah yang baik sekaligus umat Islam yang sholeh [he.he] maka kami memilih menyegerakan lebaran. Jadilah Senin kami sudah merayakan lebaran. Selasa kami baru sholat ied.

But, sebab paling penting ya mungkin karena aku ga ngrayain lebaran bareng keluarga besar. Biasanya kan di sana pada ngumpul, meski kadang ada saja yang ga bisa dateng. Tahun lalu sih sepupu yg lagi ambil master di Aussie ga bisa dateng. Giliran dia, istri, dan anaknya dateng, eh, tahun ini aku dan adik di Riau yang ga bisa hadir. Yowislah. Ambil enaknya aja.

Paling tidak lebaran ini aku ga perlu berbasa-basi ke tetangga untuk minta maaf untuk hal yg juga aku ga tau apa itu. Atau paling tidak tahun ini aku terhindar dari ruwetnya urusan mudik ke Lamongan.

Lebaan ini, untunglah, masih ada ketupat pesan di tetangga, kare ayam pesan di mertua, dan sate sapi dari salah satu bibi. Makan ketupat dan kare ayam pagi-pagi. Habis itu main game FIFA 2005 sepuasnya. Seperti biasa..

No Comments Yet.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *