Kosongnya Kandang Ayam Kami

0 , , Permalink 0
Kalau semua ayam sudah mati, lalu saya mau buruh ke siapa?” tanya I Kadek Yoga seperti bergumam. Buruh peternakan ayam itu melihat ke arah dua kandang di depannya.

Satu kandang hanya tersisa tak sampai sepuluh ekor. Satunya lagi malah kosong melompong. Tiga ekor ayam tergeletak di tanah bercampur kotoran ayam. Siang itu, Kadek Yoga hanya bersarung dan bertelanjang dada. Sejak pagi, dia mempersiapkan diri untuk balik ke kampungnya.

Bapak tiga anak itu berasal dari Desa Kubutambahan, Buleleng. Sejak lima tahun lalu dia meburuh (bekerja sebagai buruh) di Banjar Senganan Kawan, Desa Senganan, Kecamatan Penebel, Tabanan, Bali. Dia tidak mau bilang siapa nama juragannya. “Beliau berpesan agar tidak usah memmberi nama ke wartawan,” kilahnya.

Sejak November lalu, ayam-ayam di tempatnya bekerja tiba-tiba mati. Beberapa hari sebelumnya dia mendengar ayam-ayam di kampung sebelah, Desa Utu juga mati tanpa sebab yang jelas. Ketika kematian ayam di kampungnya telah mencapai ratusan ribu, Yoga baru tahu bahwa ayam-ayam itu mati karena avian influenza (flu burung).

Kini, sekitar 3000 ayam di kandangnya nyaris habis. Dia tidak lagi perlu memberi makan, membersihkan kandang, memberi minum, serta mengambil telur seperti yang tiap hari dia lakukan. Bosnya juga sudah tidak lagi memberikan uang Rp 300.000 seperti gaji yang biasa dia terima. “Lebih baik saya cari kerja di kampung kembali,” ujarnya.

Kerugian akibat merebaknya pandemi flu burung tidak hanya dialami buruh peternakan seperti Yoga. Ratusan peternak di Tabanan mengalami hal yang sama. Menurut data dari Dinas Peternakan Provinsi Bali, Tabanan merupakan kabupaten yang mengalami kerugian paling besar karena flu burung. Total jumlah unggas yang sudah mati di Bali mencapai 398.436 ekor. Lebih dari 300.000 ekor terjadi di Tabanan sedangkan sisanya tersebar di Karangasem, Klungkung, Badung, Jembrana, dan Denpasar.

Senganan dan desa sekitarnya merupakan sentra peternak ayam petelur maupun daging. Kepala Desa Senganan I Made Kuasa mengatakan hampir 80 persen penduduk desa di dekat Gunung Batukaru, Tabanan itu memang bergantung pada peternakan ayam. Sejak keluar dari Kecamatan Tabanan dan masuk Kecamatan Penebel, di kanan kiri jalan terdapat puluhan kandang ayam. Menurut Kuasa ada sekitar 80 peternak ayam di desanya.

Toh, kini sebagian besar ayam itu telah mati akibat penyakit flu burung. Menurut Kuasa, di desanya terdapat 175 ribu ekor ayam. Dari jumlah tersebut sudah lebih dari 110.500 ekor sudah mati. Padahal para pternak itu memilik modal yang hutang dari bank Pembangunan Daerah Bali. Maka, kini para peternak itu tidak lagi bisa membayar hutang. Sebaliknya, mereka harus berhutang lagi agar tetap bisa bertahan di tengah semakin memburuknya kondisi peternakan mereka.

Bila dihitng, kerugian para peternak di Senganan itu mencapai lebih dari Rp 3 milyar. “Perkiraannya seekor ayam seharga Rp 30.000, itu pun belum termasuk biaya pemeliharaan,” kata Kuasa kepada GATRA.

Nyoman Muliartha, salah satu peternak di Desa Senganan mengaku saat ini ayamnya hanya tinggal 1.500 dari 13.500 ayam yang semula dimiliki. Kerugian yang dialaminya mencapai setidaknya Rp 300 juta belum termasuk kandang. Untuk itu dia kembali berhutang sebesar Rp 100 juta ke BPD Bali untuk memperbaiki kondisi peternakannya. Misalnya untuk membeli ayam yang baru atau untuk membeli vaksin bagi ayam yang masih sehat.

Ihwal datangnya flu burung di kampungnya, Muliartha mengaku sudah mendengar sekitar bulan Oktober lalu dari Desa Utu di sebelah kampungnya. Ketika itu para peternak mengira hanya penyakit biasa yang tidak terlalu ganas. Maka, dia juga memberikan vaksin obat Cina A seharga Rp 500 ribu per 100 dosis dengan harapan ayamnya tidak sampai mati.

Nyatanya, tidak lama kemudian ayam di lima kandangnya satu persatu mati. Seluruh ayam yang mati tersebut pun dibakar agar tidak menular ke ayam yang lain. Tiap hari dia membakar bersama lima buruhnya. “Ini semua gara-gara pemerintah yang terlambat mengantisipasi,” kata Muliartha.

Kini, sehari-hari Muliartha lebih banyak diam di rumah. Toh, dia mengaku tidak kapok jika harus kembali beternak. Sudah 15 tahun dia beternak dan saat inilah ujian paling berat yang dialaminya. “Saya hanya berharap agar bank memberikan keringanan penundaan pembayaran kepada kami,” katanya. [#]

Comments are closed.