Konsumen adalah Raja? Lupakan Saja!

18 , , Permalink 0

Sehari sebelum berangkat, penerbangan dari Ende ke Denpasar dibatalkan. Mati cang!

Maka, paniklah aku. Sambil jalan-jalan di Desa Bena, Kecamatan Jerebu’u, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), aku pun meminta sopir kami mencarikan tiket balik ke Bali dengan maskapai lain. Kami menelpon petugas di Ende, berjarak sekitar 4 jam perjalanan dari Ngada, agar dapat tiket tersebut.

Kami beruntung. Hari ini masih dapat tiket balik ke Denpasar dengan maskapai lain meski harga tiketnya mahal bukan kepalang, Rp 1,7 juta!

Pembatalan semena-mena seperti ini hal biasa bagi pengguna maskapai penerbangan dari maupun ke Flores dan Sumba, NTT. Bahkan, sudah di bandara pun bukan jaminan bahwa kita pasti berangkat. Ada saja alasan penundaan (delay) atau bahkan pembatalan (cancel) jadwal penerbangan.

Aku sudah mengalami buruknya penerbangan ke NTT ini berkali-kali. Dan, tak bosan pula aku menuliskannya kembali seperti saat ini.

Pembatalan penerbangan oleh Trans Nusa tersebut merupakan puncak buruknya pelayanan mereka. Dua hari sebelumnya, jadwal penerbangan dari Bali ke Ende juga mundur. Menurut jadwal seharusnya berangkat pukul 8 pagi. Nyatanya, molor jadi pukul 1.30 siang.

Ketika check in di Bandara Ngurah Rai Bali pun tak jelas. Tak ada loket Trans Nusa di barisan meja check in. Di tiket yang aku pegang pun tak tertera nama perusahaan yang melayani penerbangan ini. Tak ada juga papan keterangan Ende sebagai kota tujuan.

Mau tak mau harus bertanya ke petugas di bagian yang sepertinya berhubungan, Tambolaka, bandara di Sumba Barat Daya. Ternyata benar. Di sinilah kami bisa check in. Itu pun akan mendapat wajah tak simpatik sama sekali dari mereka. Ketus.

Nyebur Laut
Di dalam pesawat menjelang berangkat pun tak jauh beda. Di tempat duduk sesuai boarding pass yang ada di tanganku, 12 F, ternyata ada orang lain. Dia punya nomor yang sama.

“Kok nomor kursinya bisa sama, Mbak?” tanyaku pada pramugari yang lewat.

“Sudah. Duduk saja di kursi kosong,” jawabnya sambil berlalu begitu saja. Tak ada wajah bersalah apalagi permintaan maaf.

Aku tak punya pilihan selain menahan marah dalam hati. Memang apa lagi? Turun lalu tak terbang? Bisa jadi perusahaan penerbangan akan menjawab dengan santainya, “Kalau mau protes, silakan turun. Tak usah ikut penerbangan. Simpel kan?” Lalu, akibatnya, semua rencana pun akan batal. Semua pekerjaan tak akan selesai.

Konsumen tak punya pilihan, sanak saudara. Lupakanlah semua kredo konsumen adalah raja atau punya hak layanan menyenangkan. Lupakan! Jadi, meski pelayanannya tak enak sama sekali ya nikmati saja.

Masih ngeyel mau mendapat pelayanan prima? Sudah. Sana. Nyebur ke laut saja. *cabut dengan pasang tampang nyinyir. 🙁

Foto diambil dari Angel is Flores.

18 Comments
  • asn
    October 16, 2011

    yg bikin khawatir itu sebenernya, hal2 kaya gini mulai dianggap biasa dan cenderung memburuk. one day we’ll find ourselves in a similar condition like india or columbia

    ReplyReply

    [Reply]

    a! Reply:

    begitulah, om. parahnya kan ini kita bayar jasa. masak mereka melayaninya dengan begitu buruk. menyesakkan!

    ReplyReply

    [Reply]

  • Nike
    October 16, 2011

    hmm.. jadi mikir2 lagi nih mau ke Ende kalo gitu 😀

    ReplyReply

    [Reply]

    a! Reply:

    halah! kalau gratisan juga pasti mau. sana. minta dibeliin tiket sama tuteh. 😀

    ReplyReply

    [Reply]

  • komuter
    October 17, 2011

    wah, sebegitu buruknya kah ??

    ReplyReply

    [Reply]

    a! Reply:

    ya. begitulah buruknya. 😀

    ReplyReply

    [Reply]

  • imadewira
    October 17, 2011

    Apakah mungkin pelayanan buruk seperti itu karena mereka tak punya saingan.

    ReplyReply

    [Reply]

    a! Reply:

    betul. kalo ada saingan, aku yakin harganya akan lebih murah. pelayanan jg akan lebih ramah.

    ReplyReply

    [Reply]

  • nich
    October 18, 2011

    *salam kenal, om.. kunjungan pertama*

    terkait tulisan di atas, tunggu dulu,

    “Kalau mau protes, silakan turun. Tak usah ikut penerbangan. Simpel kan?”

    berarti kalau kita turun ketika bermasalah dengan layanan, lalu dilanjutkan dengan komplain, bisa puas-puas juga kan yah? cuma ya itu, musti gigih dan gak boleh kepepet sama jadwal..

    ReplyReply

    [Reply]

    a! Reply:

    salam kenal, bang. idealnya memang gitu sih. turun dan protes. cuma risikonya ya kerjaan dan urusan malah berantakan. mending kalo ada pilihan lain. lha ini cuma ada satu. 🙁

    ReplyReply

    [Reply]

  • Aulia
    October 18, 2011

    sesekali menjadi posisi jelata tidak apa, kadang yang kita bayar mahal dan tidak terbayar itu menjadi biasa, Raja juga kadang manusia hehehe

    ReplyReply

    [Reply]

    a! Reply:

    jyah! ini bukan soal jelata tapi soal hak sebagai konsumen. kita sudah bayar mahal. masak sih mau aja dikasih layanan ketus begitu. kan gak asik sama sekali.

    ReplyReply

    [Reply]

  • Dwi Wahyudi
    October 18, 2011

    Sudah sedemikian parahkah pelayanan publik yang diberikan kepada masyarakat sebagai pengguna jasa angkutan yang ada sehingga mereka menganggap hal ini adalah hal yang biasa. Sebagai wong cilik, kalau menerima perlakuan seperti itu yang mau ngga mau geleng-geleng kepala aja. Kalau wong cilik nya blogger seperti kita2 ini, ya ditulis di blognya masing-masing lah.

    ReplyReply

    [Reply]

    a! Reply:

    ya, om. nulis ini bisa jadi salah satu cara keluarin unek2. 🙂

    ReplyReply

    [Reply]

  • indobrad
    October 19, 2011

    wuih, menyedihkan sekali. disuruh bayar mahal, dijutekin pula 🙁

    ReplyReply

    [Reply]

  • Nanggroe Software
    October 22, 2011

    jika anda mencari uang maka anda harus mengutamakan pelayanan,,,,namun jika anda mengutamakan pelayanan maka andalah yang dicari oleh uang…

    ReplyReply

    [Reply]

  • Ir. Haji Lalu Muhammad Hamdan Sjahrul, SH.
    July 17, 2014

    PELAYANAN MASKAPAI DI INDON 95%MEMANG BRENGSEK!! APALAGI YG HARGANYA MURAH, KAMI JUGA BERKALI2 MENGHADAPI PRAMUGARI2 SIALAN YG MENGGERUTU, MBENTAK, JUDES, DLL BIKIN KAMI DONGKOL…
    DASAR MASKAPAI2 MURAH MURAHAN BRENGSEK!!!! ANDA2 KIRA KAMI NDAK BISA BELI PESAWAT??!! KAMI SUDAH BERTAHUN2 MENGABDI DI PENERBANGAN, 1 PESAN MBAK, KALOK MAU NAEK PSWAT LEBIH BAIK BELI YG TIKETNYA MAHAL KRN SERVICE NYA BAGUS, JANGAN NYARI TIKET MURAH PELAYANAN PASTI BRENGSEK!!! (KAMI SAKIT HATI KRN PERNAH DIBENTAK PRAMUGARI, KALO COWOK SUDAH TAK SIKAT HABIS!!!)

    ReplyReply

    [Reply]

  • Ir. Haji Lalu Muhammad Hamdan Sjahrul, SH.
    July 17, 2014

    OYA BESOK KAMI ENDE MAKEK PESAWAT CARTER AJALAH….
    ATAU, NUMPANG DI HERCULES TNI-AU… CUMAN BAYAR 50.000

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *