Kondom, Dilema antara Nikmat dan Sengsara

Fakta di lapangan dan data di kertas memang membuat prihatin.

Di lapangan, setidaknya di Bali, penularan HIV dan AIDS terus menular ke populasi umum. Jika dulu, virus ini hanya di kalangan populasi kunci, semacam pekerja seks komersial, pengguna narkoba suntik (penasun), gay, dan semacamnya, kini HIV mulai menular ke ibu rumah tangga dan anak-anak.

Penyebaran penularan ini tak lagi hanya di wilayah perkotaan tapi juga pelosok-pelosok desa. Salah satu yang pernah aku temui adalah Gede Agus, anak berumur tiga tahun di Desa Timpag, Kecamatan Kerambitana Tabanan, Bali. Kedua orangtuanya meninggal karena infeksi akibat HIV dan AIDS.

Fakta di lapangan itu sesuai pula dengan data di atas kertas. Jumlah penularan di kalangan anak-anak dan ibu rumah tangga terus bertambah. Indikasinya, penularan melalui hubungan seks terus meningkat ketika penularan di kalangan penasun justru menurun. Data di Komisi Penanggulangan AIDS Nasional pada Desember lalu menunjukkan, penularan di kalangan heteroseksual masih yang tertinggi, 22.622 dari total 33.136 kasus di Indonesia.

Penyebabnya jelas, ketika program pengurangan dampak buruk (harm reduction) sudah berhasil di kalangan penasun, pada saat yang sama program pencegahan penularan dari hubungan seksual justru mandeg. Salah satu sebabnya karena kurangnya penggunaan kondom.

Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi dalam Pekan Kondom Nasional Desember 2012 lalu menegaskan data kurangnya penggunaan kondom tersebut. Menurut Nafsiah, 81 persen penularan HIV baru terjadi akibat hubungan seks berisiko.

Program pembagian 10 juta kondom gratis pada PSK miskin pun tak terlalu berhasil. Buktinya, hanya sekitar 35 persen PSK perempuan yang bisa “memaksa” pelanggannya untuk menggunakan kondom saat berhubungan seks.

Suka tidak suka, kondomlah yang bisa mencegah penularan HIV bagi mereka yang berhubungan seks aktif. Pilihan ini, harap dicatat, adalah pilihan bagi mereka yang sudah melakukan hubungan seks aktif. Jika belum ya sebaiknya A alias abstinence alias tidak berhubungan seks atau B yaitu be faithful, setia dengan satu pasangan saja.

Belum Berhasil
Namun, nyatanya, tak semua orang bisa menerapkan prinsip AB tersebut. Untuk mereka inilah kondom diperlukan.

Karena kampanye penggunaan kondom sudah dilakukan sejak lama, maka perlu dipertanyakan kembali apa yang salah dari kampanye ini sehingga belum berhasil juga.

Berangkat dari pengalaman pribadi sih, ada baiknya kampanye penggunaan kondom mulai beralih ke ibu-ibu rumah tangga. Merekalah yang bisa “memaksa” suami masing-masing untuk menggunakan kondom saat berhubungan seks, terutama sebagai alat kontrasepsi.

Kenikmatan berhubungan seks memang akan berkurang tapi setidaknya pasangan suami istri bisa lebih tenang karena tak harus khawatir istri akan hamil sehingga terus menambah anak. Ibu-ibu rumah tangga ini pula yang bisa memengaruhi suaminya untuk terbiasa menggunakan kondom ketika berhubungan seks dengan tujuan selain perencanaan keluarga juga kesehatan dan kebersihan. Jika suami terbiasa, misalnya jika suami kemudian berhubungan seks dengan perempuan lain, terutama PSK, maka mereka akan terbiasa menggunakan kondom tersebut.

Salah satu pendidikan untuk suami ini, salah satu contoh, adalah dengan memberikan pilihan, “Mau nikmat atau selamat?” Maksudnya, apalah artinya nikmat berhubungan seks tanpa kondom jika harus sengsara tertular HIV dibandingkan sedikit mengurangi kenikmatan tapi pasti selamat dari penularan.

Ketika kampanye kepada ibu-ibu rumah tangga ini dilakukan, kampanye kepada PSK dan pelanggan juga perlu tetap dilakukan. Dengan demikian, semua lini yang terlibat dalam penularan HIV melalui hubungan seks ini akan terus sadar dan awas untuk melakukan pencegahan, termasuk dengan cara menggunakan kondom.

Keterangan: foto ilustrasi disalin dari Intisari.

5 Comments
  • chris budhi
    January 9, 2013

    Nah aku dah yang pertamax …

    ReplyReply

    [Reply]

  • SIge
    January 16, 2013

    “Kenikmatan berhubungan seks memang akan berkurang ..” wah perasaan gag deh Bli..wakakaka..

    ReplyReply

    [Reply]

  • birthday party
    January 18, 2013

    dilema seh sebenernya…secara gak langsung mengajarkan untuk berhubungan sex juga tapi pakai kondom…:P

    ReplyReply

    [Reply]

  • Di-Mana gan
    January 19, 2013

    yaa memang sih berkurang kenikmatannya, .tapi ya dari pada bahaya. . .
    kwkwkw

    ReplyReply

    [Reply]

  • Agung Pushandaka
    January 20, 2013

    Sulit untuk mengajak ibu-ibu memaksa suaminya pakai kondom. Ntar suaminya malah tersinggung. Kenapa sama istri sendiri harus pakai kondom? Kamu ndak percaya lagi sama saya? Kalau begitu kita cerai saja! Nah lho…

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *