Kisah para Ambtenaar Denpasar

0 No tags Permalink 0
Tumben hari ini aku datang ke kantor walikota Denpasar. Ada undangan mendadak pertemuan anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dari Bali dengan masyarakat Denpasar. Awalnya males datang karena undangan mendadak. But, pas ada waktu luang ke sana aja meski bentar.

Kalau gak salah, terakhir ke kantor walikota sudah tiga empat tahun lalu. Memang jarang sih ada keperluan di sana.

Pas aku datang, beberapa pegawai negeri sipil (PNS) lagi santai-santai di depan kantor di daerah Lapangan Puputan Badung itu. Padahal saat itu pukul 10.30an. It’s mean lagi jam kerja. But aku pikir ya mereka lagi rehat bentar.

Aku masuk areal kantor. Di tempat parkir, lebih banyak lagi PNS duduk-duduk di atas motor yang diparkir di bawah kantor. Mereka hanya ngobrol wawe-wawe ga jelas satu sama lain. Becanda. Ketawa keras-keras. Padahal itu jam kerja lho.

Aku parkir motor. Pas turun dari motor, aku liat ke kanan. Tiga PNS sedang tidrur di salah satu ruangan. Pulas banget. Salah satu bahkan melepas baju. Gila, ini kan baru jam 10.30an, kok mereka udah terkapar gitu.

Aku naik ke lantai tiga, menuju ruang pertemuan. Ups, ternyata salah ruangan. But, di dalamnya ada satu PNS cowok dengan satu pegawai -tanpa pakaian dinas, mungkin pegawai batuan- lagi asik mojok.

“Gila!” batinku. Jadi aku bayar pajak dst hanya untuk orang yang duduk-duduk itu. Pantesan saja orang-orang males bayar pajak kalau gini. Lebih pantesan lagi pas ujian masuk PNS pada rebutan bahkan sampai nyogok.

Para ambtenaar alias PNS itu bisa makan gaji buta. Kerja hanya duduk-duduk santai, ketawa-ketiwi, ngobrol, lalu tiap gaji mereka dapat gaji, tunjangan, dst.

PAYAH!

No Comments Yet.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *