Ketika yang Wangi pun Peduli

Bukan saatnya lagi melihat aktivis sebagai sesuatu yang garang dan menyeramkan.

Inilah saatnya yang cantik dan wangi beraksi. Atau menggerakkan tanpa harus dengan turun berdemo ke lapangan. Setidaknya begitlah yang aku pelajari dari Aksi Klik Hati, inisiatif dari PT Merck untuk mendukung gerakan sosial melalui jejaring sosial.

PT Merck Tbk, perusahaan farmasi dan kimia yang berkantor pusat di Jerman. Dia berkantor pula di Jakarta. Klik Hati merupakan inisiatif perusahaan ini untuk mendukung gerakan-gerakan sosial terutama yang dilakukan melalui jejaring sosial, seperti blog, Twitter, dan Facebook.

Ada empat tahap untuk masuk dalam Aksi Klik Hati ini. Pertama pendaftaran. Mereka yang merasa gagasannya bisa mengubah sesuatu, dari yang paling sederhana sampai paling gawat, harus mengirimkan proposal ke panitia. Menurut panitia, ada 390 proposal yang masuk dari seluruh Indonesia meski masih dominan di Jawa, atau bahkan Jakarta.

Aku dan teman-teman pengelola Bale Bengong mengirimkan proposal juga. Idenya bahwa warga harus diajak untuk aktif menulis melalui jurnalisme warga. Selain melalui pelatihan juga dengan menyediakan ruang.

Proposal ini kemudian diseleksi menjadi 10 Pilihan Terbaik Aksi Klik Hati pada tahap kedua. Sepuluh finalis ini diseleksi lagi pada tahap ketiga. Hasilnya, akan ada 5 Aksi Klik Hati. Lima finalis ini akan mendapatkan dukungan dari PT Merck berupa dana untuk kegiatan Rp 20 juta. Kabar gembiranya, Bale Bengong bisa masuk sebagai salah satu dari lima aksi ini.

Pada tahap terakhir, keempat, akan dipilih dua aksi paling inspiratif. Dari lima Aksi Klik Hati, yaitu Yatim Online, Indonesia Berkebun, Bale Bengong, Indonesia Bercerita, dan Akademi Berbagi, akan dipilih dua yang dianggap panitia dan juri bisa melakukan perubahan melalui jejaring sosial.

Dan, seperti dugaanku, Akademi Berbagi dan Indonesia Bercerita yang keluar sebagai Most Inspiring Movement.

Selasa kemarin, aku ikut penyerahan penghargaan untuk Most Inspiring Movement tersebut di Jakarta. Tak hanya lima finalis, penyerahan ini juga dihadiri penggiat gerakan sosial lewat jejaring sosial tersebut. Ada penerima Merck Klik Hati Award 2010 serta finalis lain.

Hal menarik bagiku, orang-orang atau komunitas yang dianggap bisa melakukan perubahan sosial ini tidaklah seperti yang selama ini aku temui. Biasanya, aktivis yang sering aku temui adalah mereka yang kumal, harus selalu bergaul di tingkat basis, kalau ngomong agak gawat, dan identifikasi lain pada aktivis lembaga swadaya masyarakat (LSM).

Ini tidak. Hampir semua yang hadir adalah kelas menengah perkotaan. Penampilannya rapi dan wangi. Bahkan, sebagian ada yang tampilannya sangat trendi. Tapi, mereka melakukan sesuatu untuk perubahan sosial.

Pesannya yang aku tangkap, dunia ini memang makin abu-abu. Kita tak bisa lagi melihat atau menganggap bahwa perubahan sosial harus dilakukan dengan aksi-aksi konservatif ala para aktivis LSM. Tentu saja para aktivis LSM ini jauh lebih konsisten karena mereka melakukan di lapangan dan seringkali bersama warga sebagai basisnya. Tapi, bukan berarti mereka yang wangi, rapi, dan lebih sering di belakang komputer juga tak bisa melakukan perubahan ini.

Inilah generasi click activist, melakukan sesuatu bermodal klik. Mengumpulkan donasi untuk anak-anak putus sekolah dengan koin-koinnya, menyalurkan darah dari penyumbang untuk pasien yang membutuhkan, membagi pengetahuan lewat jejaring sosial, dan seterusnya.

Dunia berubah. Teknologi informasi menawarkan alat mudah yang berlimpah. Maka, aktivis gerakan sosial juga harus membuka diri pada peluang dan metode baru dalam melakukan ide-ide perubahan yang ditawarkannya.

Keterangan: Foto dari website Klik Hati.

1 Comment
  • Bukik
    August 12, 2011

    Muahahaha Click Activist? Baru tahu…….

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *