Ketika TV Kehilangan Hati Nurani

9 , , , Permalink 0
Inilah menu makan siangku hari ini: sup kepala ikan dan ikan goreng. Makannya di warung langganan, Warung Lembongan di jalan Tjok Agung Tresna Renon Denpasar. Ikan laut itu digoreng garing. Supnya, selain kepala ikan juga ada sayur ketimun diiris tipis.

Karena sudah ngidam dari kemarin, aku pun nyeruput sup kepala ikan itu dengan nikmatnya. Posisiku menghadap ke arah TV yang menayangkan berita siang. Pokoke makan siang ini enak tenanlah. Eeh, pas lagi asik nyeruput sup kepala ikan, di TV nongol potongan kepala orang yang diduga sebagai pelaku teror bom di Ritz Carlton dan JW Mariott Jumat pekan lalu.

Damn!! Selain memalingkan wajah, aku hanya bisa mengumpat. Berita-berita tentang teror bom di Jakarta tersebut memang sudah keterlaluan.

Jumat pekan lalu bom meledak di dua hotel ternama di kawasan Kuningan Jakarta. Sampai hari ini jumlah korban tewas akibat bom tersebut sembilan orang. Sedangkan korban luka-luka 53 orang.

Begitu bom meledak , maka media, terutama TV, pun memborbardir publik dengan tayangan yang tak kalah menakutkan dibanding teror itu sendiri. Ini hal yang sejak lama aku pikirkan. Media dan terorisme memang bersimbiosis mutualisme. Langsung ataupun tidak, satu sama lain saling menguntungkan.

Teroris meledakkan bom. Lalu media mempublikasikannya dengan segera. Salah satu yang aku ingat banget adalah ketika November lalu teroris menyerang hotel di Mumbai, India. Meski tak berada di Mumbai dan tak punya sanak saudara yang jadi korban di sana, aku bisa merasakan ketakutan itu ketika melihat tayangannya di TV atau melihat foto-fotonya di koran.

Sadar tidak sadar, media turut serta menyebarkan ketakutan.

Pada satu sisi ini memang dilema. Tidak memberitakan teror juga bukan sesuatu yang tepat. Tapi haruskah media, terutama TV, juga harus mempublikasikan semuanya dengan begitu detail tanpa etika. Nyaris tidak ada saringan dalam tayangan-tayangan itu.

Apalagi video yang ditayangkan juga berulang-ulang. Misalnya dua video yang menayangkan terduga pelaku pengeboman. Setelah TV One menayangkannya untuk pertama kali, TV-TV lain juga segera menayangkan hal yang sama. Dua video ini diputar berulang. Aku lihat berita sore, malam, pagi, dan siang pun selalu ada video ini.

Tidakkah ini jadi bahan pelajaran tentang bagaimana pengeboman harus dilakukan?

Hal yang sama terjadi pada potongan kepala orang yang diduga sebagai pelaku pengeboman. TV juga menayangkan gambar kepala dengan bentuk tak keruan itu berkali-kali termasuk pada jam makan siang hari ini. Pertanyaannya sekali lagi, untuk apa sih ditayangkan berkali-kali? Tidakkah media akan lebih bagus kalau memuat tentang korban, tentang mereka yang harus bertahan setelah kehilangan keluarga.

Penayangan gambar pelaku yang sangat vulgar dan berulang-ulang, sama saja dengan terorisme itu sendiri: hanya menebarkan ketakutan..

9 Comments
  • PanDe Baik
    July 21, 2009

    Bagi media mereka merasa perlu mengungkapkannya berkali-kali dengan alasan ‘masyarakat perlu berita up to date, padahal hanyalah berita yang diulang-ulang. Sebaliknya Bagi Masyarakat malahan jadi bingung, itu bom apaan siy, pelakunya sapa, kejadiannya gimana, tapi kok tipi malah asyik nayangin sinetron ? nah, kalo gitu gimana dong Om ? He… Tinggal jadi bijak buat diri sendiri aja deh…

    ReplyReply

    [Reply]

  • ekaBelog
    July 21, 2009

    yah contohnya si manohara itu, beritanya diulang2 melulu..ganti chanel selalu saja ada mukanya dia….

    terus sekarang kemana tuh berita…bagaimana nasib persidangannya…mungkin lagi sibuk syuting sinetron yah…jadi berita2 dinomorduakan….

    tapi bagi saya mendingan nonton Doraemon dah…

    ReplyReply

    [Reply]

  • wira
    July 21, 2009

    pola penayangan berita-berita itu sebenarnya sama saja dengan penayangan infotainment, berulang-ulang, mungkin biar penonton puas dan iklan makin ramai… ya UUD lah…

    *ujung-ujungnya duit…

    ReplyReply

    [Reply]

  • viar ms
    July 22, 2009

    rating dan sponsor target utamanya, bukan penyampaian informasi – lama-lama jadi seperti ga ada manfaatnya tayangan beritanya. tiap lewat depan tv lagi-lagi video dan tayangan potongan mayat 🙁 sekali2 tips gimana cara mendeteksi teroris gitu kan bagus yak? imho

    ReplyReply

    [Reply]

  • putriastiti
    July 23, 2009

    ada positifnya, saya setuju sama bli pande, orang-orang kayak saya yang katrok, liat tipi 2 hari sekali karena susah nyari tipi bisa ngerti apa yang sedang terjadi, tapi negatifnya masyarakat yang sering nonton tv jadi takut, tiap hari ada aja mayat baru korban bom yang diliatin, nah…. kalo udah gini nih… berarti hikmahnya………… uumm jangan keseringan nonton tipi kali ya… hehehe!!

    ReplyReply

    [Reply]

  • Artana
    July 24, 2009

    Asal masih laku dijual pasti ditayangin terus, nggak peduli Mas Anton lagi makan..he..he!

    ReplyReply

    [Reply]

  • Brandal Surga
    July 25, 2009

    Sejak TV meraih popularitasnya banyak pihak yg memanfaatkannya utk merebut perhatian massa secara lbh massif. Dan sampai di titik ini para teroris itu sukses merebut perhatian dan meneror massa. Dan saat ini mrk mulai memakai internet buat nyebar teror lwt rekaman video di video sharing.
    Dan soal tv yg scr simultan menayangkan berita yg sama aku pikir ini soal rating, iklan & uang. Dan kalo udah nyangkut soal itu aku yakin hati nurani adl nomor yg kesekian bagi dunia tv.

    ReplyReply

    [Reply]

  • ekads
    July 26, 2009

    untung aja saya udah beberapa bulan ini jarang nonton tv…
    tapi akibatnya agak kurang up date juga sich tentang perkembangan dunia sekitar gara2 ga nonton tv. tapi ya itu tadi, klo setiap waktu berita isinya itu2 aja bosan juga n malah jadi tambah ngeri aja..

    ReplyReply

    [Reply]

  • desy
    August 24, 2009

    kalo udah menuhankan Rating… apa mau dikatalah mas…..

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *