Ketika Tulisan Saja Tak Lagi Cukup

1 , Permalink 0

Tren konsumsi informasi terus berubah.

Saat ini, konsumen media makin senang dengan semua yang berbau visual, terutama video. Mau tak mau produsen informasi pun harus mengikuti.

Jurnalis, produsen utama informasi di media, pun harus menghadapi itu. Tak hanya membuat foto tapi juga video. Secara pribadi, aku pun kena pengaruh.

Sebenarnya aku juga pernah belajar membuat video. Aku cek akunku di YouTube, video pertamaku sudah sejak Maret 2012 lalu. Ceritanya tentang petani rumput laut di Pantai Ungasan yang sekarang tenar dengan nama Pantai Pandawa.

Namun, semua video itu memang amatir. Seperti halnya tulisan-tulisan di blog, video-video itu semata untuk have fun. Bersenang-senang dan membagi cerita dari lapangan.

Nah, sejak aku mulai menjadi kontributor BenarNews, sebuah media berbasis di Washington DC, barulah aku mulai memproduksi video-video berita secara profesional. Harga videonya termasuk tinggi, $200 sampai $300 per video.

Hasil-hasilnya bisa dicek di akun YouTube BenarNews. Video terakhir adalah tentang petani rumput laut di Nusa Penida yang kena dampak perubahan iklim.

Meskipun agak terlambat, kami di BaleBengong pun kemudian harus mulai memikirkan peluang menambah konten-konten video tersebut. Sayangnya sih aku sendiri pun kemampuannya pas-pasan.

Jadilah modal nekat saja memproduksi video-video sendiri.

Video terakhir dari pelatihan video ponsel untuk memproduksi jurnalisme warga. Pelatihan sehari Selasa kemarin itu diikuti orang dengan skizofrenia anggota Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) Bali. Hadir pula mantan pecandu anggota Ikatan Korban Napza (IKON) Bali.

Hasil videonya seperti di awal tulisan ini.

Selanjutnya, mari tetap rajin memproduksi video. Biar amatir yang penting tetap rajin. Bukankah pepatah menasehati, “Rajin pangkal mahir”?

Jadi, mari beradaptasi atau mati!

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *