Ketika Televisi Mengasingkan Pemirsanya

1 , , Permalink 0

televisi Laki-laki itu melongo di depan televisi. Tak ada ekspresi sama sekali.

Kotak kaca yang dia tonton malam itu menampilkan acara hiburan. Orang-orang di dalamnya sedang bercanda. Ada Olga Syahputra, Raffi Ahmad, dan pesohor-pesohor lain yang saya tidak tahu namanya.

Penonton di studio pun tertawa. Kompak semua. Setahu saya, penonton di studio ini memang ada yang mengomando kapan harus berseru atau tertawa.

Tapi, tidak dengan laki-laki yang duduk di kursi dan menonton televisi sendiri itu. Ekspresinya datar banget. Tidak tertawa sama sekali.

Malam itu, ketika melihat laki-laki itu menonton televisi, saya seperti melihat seseorang yang sedang terasing. Secara geografis ataupun psikologis.

Laki-laki itu tinggal di Maumere, kota kecil di bagian timur Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Namun, kotak sihir bernama televisi itu menampilkan orang-orang Jakarta lengkap dengan gaya bercanda dan tema-tema acaranya.

Semalam sebelumnya, di kota yang sama, saya juga melihat hal serupa. Malam itu, warung tempat makan kami menampilkan opera sabun atau sinema elektronik (sinetron). Ibu-ibu berjilbab sibuk bertengkar entah merebutkan apa. Sementara itu, para penonton yang sedang makan adalah bapak-bapak yang sebagian besar dari daerah pedalaman di Flores, seperti Nangapenda (Ende) dan Wulan Gitan (Flores Timur).

Ketika memirsa siaran televisi Jakarta dari Flores Oktober lalu, saya baru benar-benar bisa merasakan, televisi Indonesia memang sangat tidak demokratis. Dan, parahnya, hampir semua pemirsa televisi hanya bisa pasrah menontonnya. Tak banyak pilihan.

Benarlah apa yang pernah disigi Centre for Innovation, Policy and Government (CIPG) tentang matinya demokratisasi siaran televisi di Indonesia. Pertama dari sisi kepemilikan, televisi di Indonesia hanya berpusat pada segelintir orang yang parahnya juga sebagian besar pemimpin partai politik di Jakarta.

Kedua, dari agama, siaran televisi sangat didominasi Islam, sampai 96,7 persen. Adapun dari sisi etnisitas, televisi Indonesia sarat kepentingan budaya Jawa, 42,8 persen. Karena itu, televisi di Indonesia sangat Islami, Jakartasentris, dan bias Jawa. Tapi, semua itu bukan alasan ideologis melainkan semata komersial.

Saya yakin jika dikaji dari perspektif kelas, maka materi televisi juga sangat didominasi kelas menengah ke atas.

Korbannya ya termasuk lelaki yang melongo di depan televisi tanpa pernah ada keterikatan secara psikologis dengan apa yang ditontonnya, atau bapak-bapak yang makan malam bersama saya. Parahnya mereka tak punya pilihan. Mau tak mau harus hanya menikmati siaran televisi yang mengasingkan mereka itu.

1 Comment
  • imadewira
    January 20, 2014

    Konon katanya televisi itu menggunakan frekuensi publik, tapi mengapa isinya tidak mencerminkan kepentingan publik?

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *