Ketika Semua Merasa Paling Berjasa

6 Permalink 0
Geli banget melihat suasana kampanye para calon presiden (Capres) Indonesia sekarang. Tidak terlalu banyak program yang ditawarkan, eh, malah sibuk saling serang. Ironisnya lagi mereka juga saling merasa paling banyak berjasa.

Si incumbent yang suka jaim, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), sudah jauh-jauh hari pakai tagline “Lanjutkan!”. Tentu saja maksudnya adalah melanjutkan “keberhasilan” dia pada lima tahun sebelumnya. Presiden klimis ini pun suka sekali menggembor-gemborkan apa saja yang sudah dilakukannya selama lima tahun lalu: bantuan langsung tunai, swasembada beras, dan seterusnya.

Klaim SBY terhadap semua program ini membuat Jusuf Kalla seperti dilupakan. Wajar juga sih menurutku. Lha wong hasil kerja berdua selama lima tahun kok tiba-tiba semua diklaim atas nama sendiri.

Maka, JK yang lincah ini pun membuat iklan tandingan. Aku lihat iklannya di TV bagaimana pengusaha ini bilang bahwa dialah yang menyuruh agar pembangunan bandara di Medan dan Makassar tidak menggunakan tenaga kerja asing. Dia bilang di iklan itu seolah-olah bahwa dialah yang paling berperan.

Salah satu yang paling mengagetkan justru ketika dia bilang bahwa dialah yang paling berjasa untuk mendamaikan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dengan pemerintah Indonesia. “Saya mendamaikan Aceh, saya sendiri yang tanda tangan di perdamaian karena semuanya takut tanda tangan,” katanya ketika berkampanye di Aceh.

Tentu saja JK menohok SBY. Bahwa dialah yang berjasa dan SBY ketakutan untuk tanda tangan. Aneh juga. Lha wong mereka toh satu tim. Kok tiba-tiba satu sama lain rebutan pengakuan sebagai yang paling berjasa.

Lalu si pendiam Megawati Soekarnoputri kini ikut-ikutan mengaku paling berjasa. Ketika di Malang pekan lalu dia bilang juga bahwa dialah yang mencanangkan pembangunan jembatan penghubung Jawa – Madura tersebut. “Jembatan Suramadu baru saja jadi. Tapi yang buat tiang pancang pertama adalah Ibu Megawati Soekarnoputri,” katanya seperti ditulis ANTARA.

Mega mengatakan itu seperti minta diakui jasa-jasanya. Sebab sekarang jembatan itu sudah diresmikan SBY dan orang seperti lupa pada awal pembangunannya.

Melihat mereka saling klaim itu, akok jadi geli. Bukannya apa yang mereka lakukan itu semua memang kewajiban mereka ketika jadi pemimpin. Lha kok sekarang malah pada rebutan penghargaan..

No related content found.

6 Comments
  • gsjumpevir
    June 16, 2009

    “sing ngaden awak bise,depang anake ngadanin”

    eh bnr g yah hehehehe…. 😀

    ReplyReply

    [Reply]

  • ekaBelog
    June 17, 2009

    yoi…mereka saling sahut menyahut, sindir menyindir, elak mengelak, dan mengeluarkan segala tipu muslihatnya untuk mencari dukungan masyarakat.

    tapi biasalah kalo sedang musim kampanye ton, ntar aja kalo udah kepilih pasti mereka bilang “emang, aku dulu pernah ngomong gtu yah?”

    yah lihat ntar aja…

    ReplyReply

    [Reply]

  • didut
    June 17, 2009

    *senyum senyum juga* 😀

    ReplyReply

    [Reply]

  • dirga asmara
    June 17, 2009

    Sesungguhnya kalau kita fahami ejaan bahasa yang disempurnakan ( EYD ) itu, sudah dapat dipastikan kalau SBY sesungguhnya tidak bisa melanJutKan pemerintahan maupun pembangunan
    Di negeri kita tercinta ini, baik sekarang maupun dimasa-masa yang akan datang karena sudah jelas sesuai ( EYD ), kata “lanjutkan” tidak mungkin dapat dibaca dan di eja
    Dengan sempurna kalau JK dihilangkan. Maka akan menjadi ” lanutan “. Jadi seharusnya mereka berdua tidak boleh saling serang
    Dan harus saling rangkul.

    ReplyReply

    [Reply]

  • wira
    June 18, 2009

    @dirga : hahahahaha..

    @yang punya blog : saya juga bingung sir, masih belum ada rasa percaya sedikitpun dengan dunia politik di negeri ini. Di pusat mungkin bersih, tapi praktek politik di daerah masih tetap dengan gaya jadul… tidak mendidik sama sekali…

    ReplyReply

    [Reply]

  • pushandaka
    June 26, 2009

    Loh, ndak ada yang salah kok kalau mereka mengaku paling berjasa dalam kampanye. Maksudku, daripada mereka menjelekkan orang lain, kan lebih baik mengungkit kebaikan diri sendiri.

    Sekarang kan tinggal masyarakatnya yang menentukan, apa benar mereka sudah berbuat seperti apa yang dikatakan.

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *