Ketika Rekayasa Masuk dalam Berita

6 , , Permalink 0
Obrolan sebentar dengan Ayu, wartawan Kompas, hari ini mengingatkanku soal hal sudah berulang kali aku pikirkan, “Etiskah wartawan mengatur narasumber sesuai kemauan wartawan? Bagaimana sebenarnya etika jurnalisme TV?”

Pertanyaan itu muncul kembali setelah aku baca tulisan Ayu di Kompas hari ini tentang istri almarhum Anak Agung Prabangsa yang merasa terganggu oleh wartawan TV. Lalu siang tadi aku ngobrol sama Ayu dan Ervi, dua teman wartawan di Bali, tentang bagaimana perlakuan wartawan salah satu TV nasional pada istri almarhum Prabangsa.

Prabangsa adalah wartawan Radar Bali yang tewas dibunuh akibat pemberitaan pada Februari lalu. Pekan lalu polisi berhasil menangkap sembilan tersangka. Salah satunya adalah oleh adik Bupati Bangli yang juga anggota legislatif terpilih dari PDI Perjuangan pada Pemilu 2009 ini.

Adanya tersangka pembunuhan setelah hampir 100 hari pembunuhan itu membuat kasus ini kembali menarik wartawan, termasuk TV-TV di Jakarta. Mereka menugaskan wartawannya untuk liputan khusus di Bali soal kasus ini.

Nah, tim dari salah satu TV nasional pun mewawancarai istri almarhum Prabangsa. Menurut Ayu dan Ervi dalam obrolan santai sore tadi, para wartawan itu tanpa sungkan mengatur-atur istri almarhum ketika diwawancarai. Beberapa hari sebelumnya, wartawan TV yang lain juga tanpa perasaan mewawancarainya meski sudah tengah malam.

Menurut pengalamanku sendiri, wartawan TV mengatur narasumber lumayan sering terjadi. Beberapa hari sebelumnya aku lihat sendiri bagaimana wartawan TV nasional yang lain juga mengatur narasumber ketika wawancara soal kasus yang sama. Wartawan TV itu meminta agar si narasumber bersikap seolah-olah sedang sibuk dengan kegiatannya. Maka narasumber itu pura-pura membaca lalu mengetik sementara kamera menyorotnya.

Itu sih tidak seberapa penting. Sebab pengaturan narasumber itu belum sampai pada tahap substansi. Pura-pura membaca kan bukan sesuatu yang gawat. Kalau disuruh pura-pura membunuh baru gawat benar. Hehe..

Pengalaman melihat wartawan TV mengtur agar suasana lebih dramatis itu beberapa kali aku alami sendiri ketika liputan bersama mereka. Salah satunya aku ingat lagi ketika aku melihat tayangan hasil liputan salah satu TV internasional ternama di Youtube sekitar seminggu lalu.

TV itu melaporkan bagaimana ironi pariwisata Bali, di mana ketika fasilitas pariwisata seperti hotel dan lapangan golf membutuhkan ribuan liter air tiap hari, di tempat lain justru ada warga yang kekeringan. Tepatnya di Karangasem, Bali.

Aku sendiri ikut liputan ke Karangasem menemani narasumber yang diwawancarai TV asing tersebut. Jadi aku melihat sendiri bagaimana tim wartawan TV itu mengatur para narasumber yang masuk di gambar mereka. Mereka menyuruh agar hari itu penjual air yang pakai truk mengirim air ke desa yang kering kerontang tersebut. Mereka meminta para warga untuk antri di sisi sumur tempat penjual air menggelontorkan airnya. Mereka mengatur agar warga berjalan beriringan ketika berjalan usai mengambil air tersebut. dan seterusnya.

Maka lahirlah tayangan yang memang dramatis juga. Air berlimpah dibuang di kolam renang dan beberapa hotel di Kuta lalu di sisi lain para warga di Karagasem justru antri air di tengah desa yang kekeringan.

Aku sepakat dengan tema liputan ini. Memang begitu faktanya di Bali.

Cuma aku masih merasa heran, apakah kita sebagai wartawan memang harus mengatur sedemikian rupa agar bisa mendapatkan yang lebih dramatis? Kalau boleh sejauh mana? Sebab bukankah itu sama saja dengan membohongi konsumen media?

6 Comments
  • wira
    June 3, 2009

    susah memang untuk mencari batasannya sir, lebih baik gunakan hati dan akal sehat saja…

    ReplyReply

    [Reply]

  • ititut4rya
    June 4, 2009

    Saya tidak tahu kalau wartawan sampai ada yang ngatur-ngatur kaya’ gitu. Makasi infonya. Kalau menurut saya sih, wartawan ya wartawan, bukan sutradara, walau memang ada wartawan yang jadi sutradara.

    ReplyReply

    [Reply]

  • desy
    June 9, 2009

    selaku reporter tv, boleh dunk saya angkatbicara mas. kalo saya pribadi sepakat saja untuk mengatur sesuatu selam itu tidak bertentangan dengan realitas, artinya hal itu adalah hal yang benar2 terjadi/sering terjadi, apa lagi jika bukan suatu hal yang substansial. akan tetapi jika memang faktanya ada yang demikian, gak masalah jika diatur, ya lebih kurang sebagai reka ulang lah.
    karena di tv yang saya tau neh ya, kita mengenal istilah write to picture, jadi jika kita ingin menuliskan sesuatu tapi gak ada gambarnya biasanya itu gak bisa tayang jatuhnya. karen penonton pasti ingin melihat apa yang diomongkan tersebut. ya begitulah faktanya… gimana????

    ReplyReply

    [Reply]

  • SILVERF0X
    June 10, 2009

    ya emang gitu, waktu liputan gempa di Nias juga, ada beberapa scene yang diatur ama wartawan nya…ya itu tadi, memunculkan efek dramatis….

    ReplyReply

    [Reply]

  • sugeng
    June 11, 2009

    Memnag begitu adanya ya ?!? dulu sewaktuada reality show di TV aq sempat terhanyut dengan alur ceritanya. Semua seperti nyata dan benar2 terjadi. Tetapi setelah siaran dari Bali, aku jadi terbuka klo mereka memang merekayasa semua cerita dan endingnya sehingga aku juga sempat terpana .Sekarang semua cuma rekayasa dan klo ada reality show dan sejnisnya, TV nya aku gnti chanelnya.

    ReplyReply

    [Reply]

  • ketut sutawijaya
    June 14, 2009

    it’s now safe to turn off your TV.

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *