Ketika Ketaatan Ritual Kian Mengasingkan

1 , Permalink 0

 

sampah berserakan di sepanjang jalan. foto falahi mubarok.

Tak ada lagi syahdu di balik suara adzan di kampung kami.

Suara adzan itu bersahut-sahutan dari tiga musholla dan satu masjid di kampung kami. Mungkin karena aku yang kian asing atau malah antipati dengan suasana begini, maka aku menangkapnya sebagai sebuah perlombaan.

Ini hanya logika sederhana dari orang yang awam soal agama. Adzan adalah panggilan bahwa sudah waktunya orang melaksanakan sholat. Jadi, begitu ada yang sudah memanggil dengan suara mengalun indah itu, tak perlulah kemudian ada orang lain yang memanggil pada waktu yang sama.

Jadinya malah tak lagi syahdu tapi malah mengganggu.

Kampung kami termasuk kecil. Paling hanya 300-an kepala keluarga. Aku yakin suara adzan dari pelantang di masjid sudah cukup untuk didengar semua warga di kampung ini. Sejak aku baru lahir sampai saat ini pun adzan dari masjid sudah bisa didengar di seluruh kampung.

Tapi kali ini tidak. Ketika adzan baru mulai dari satu tempat, tiba-tiba sudah ada suara adzan dari tempat lain. Ibarat orang menyanyi, ketika satu orang menyanyi terasa indah tapi begitu malah rebutan saling menyanyi ya tak lagi indah. Adzan kini serupa dengan perlombaan.

Tempat ibadah di kampung kami memang kian bertambah. Jika semasa aku kecil hanya ada satu masjid dan satu musholla, kini sudah bertambah dua musholla lagi. Tentu saja akan menyenangkan kalau banyaknya tempat ibadah ini disertai pula dengan perubahan secara sosial atau lingkungan.

Sayangnya itu tidak terjadi.

Ketika jalan-jalan keliling kampung, aku lihat sendiri wajah kampung yang kian kumuh. Di beberapa gang, misalnya, sampah berserakan. Air got tidak mengalir lancar karena timbunan sampah di sana.

Begitu pula dengan sampah di dekat rumah kelahiranku dulu. Orang-orang tanpa wajah berdosa membuang sampah di sana. Sampah menumpuk di pinggir desa. Tak ada yang peduli. Hanya membuang dan menumpuk terus di sana setiap hari.

Tapi, soal sampah ini bukan hanya di kampung kami. Di desa sebelah juga sama saja.

Jalan penghubung antara kampungku dengan kampung sebelah kini juga berisi penuh oleh sampah, terutama plastik. Aku lihat hal sama terus terjadi setiap kali pulang kampung. Tak hanya merusak pemandangan tapi juga aroma.

Ya. Aku memang terlalu jauh menghubungkannya. Tapi ya memang aneh. Amat aneh ketika orang begitu bergairah melaksanakan ritual, pamer kesalehan, justru pada saat yang sama tidak ada yang peduli soal lingkungan. Bukankah dua hal ini seharusnya seiring sejalan? Ataukah karena agama hanya dipahami sebatas ritual dan ritual? Apakah ayat suci hanya dipahami sebagai bacaan untuk dihafalkan, sementara nilai-nilainya diabaikan?

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *