Belajarlah Jadi Wartawan ke Pasar Guwang

10 , , , , Permalink 0

Dengan bersemangat, Kadek Juana Setiawan dan 11 temannya berjalan melintas tempat parkir Pasar Seni Guwang, Sukawati, Gianyar Minggu siang lalu. Namun setelah masuk daerah pertokoan, murid kelas III SD tersebut malah ragu-ragu. “Malu, nok,” kata Kadek. Teman-temannya mengiyakan.

Mereka tak jadi masuk pasar yang menjual berbagai souvenir tersebut. Dengan agak ragu, mereka membalik langkah lalu menuju deretan toko lain yang menjual makanan, bukan souvenir. Mereka kemudian melihat satu per satu penunggu toko yang menjual minuman dan makanan tersebut.

Dua perempuan penjaga toko, berumur 20an tahun, menemui mereka. “Kami mau wawancara tentang Pasar Guwang,” kata Kadek. Dia membawa buku berisi catatan apa saja yang akan ditanyakan pada pedagang di pasar. Teman-temanya terlihat hanya sebagai penggembira.

Si penjaga toko melihat catatan yang dibawa Kadek. Dia mengambilnya. Sambil duduk di depan toko, begitu pula Kadek dan teman-temannya, perempuan itu menjawab satu per satu pertanyaan di catatan Kadek dan teman-temannya.

Ketika Kadek mencatat tiap jawaban narasumber, temannya membantu dia untuk memastikan jawaban tersebut. Kadek duduk di lantai. Teman-temannya ada yang duduk ada pula yang jongkok sambil mengelilingi. Suasana jadi agak riuh.

Selesai di satu toko, Kadek dan teman-temannya beranjak masuk ke dalam pasar seni tersebut. Mereka mencari pedagang yang lain. Dari yang awalnya malu-malu, 12 anak tersebut merasa lebih percaya diri. Dengan bergerombol mereka bertanya pada dua penjual lain dan satu pembeli.

“Siapa namanya? Sejak kapan jualan di sini? Apa saja dagangannya? Punya anak buah apa tidak? Berapa banyak pembelinya? Dari mana saja?” adalah sebagian pertanyaan anak-anak tersebut. Mereka tidak perlu bertanya karena nara sumber yang justru akan mengambil daftar pertanyaan tersebut kemudian menjawabnya satu per satu.

Di bagian lain di pasar yang sama, enam remaja yang sudah sekolah di SMP, juga sibuk wawancara dengan pedagang lain. Bedanya, mereka bertanya sendiri tak hanya menyerahkan daftar pertanyaan pada nara sumber.

Selama sekitar satu jam, setelah selesai mengumpulkan bahan tulisan, anak-anak itu kembali ke Sanggar Anak Tangguh, sekitar 1 km dari pasar tersebut di desa yang sama. Lalu mereka menulis masing-masing beritanya di komputer jinjing (laptop).

Masing-masing kelompok didampingi dua pengurus Sloka Institute, Luh De Suriyani dan Intan Paramitha Apsari. Luh De mendampingi anak-anak sedangkan Intan mendampingi peserta remaja. Keduanya memberikan masukan apa yang harus sebaiknya ditulis, bagaimana menulisnya, tulisan mana yang sebaiknya di bagian depan lalu mana yang di belakang, sampai pernyataan apa yang sebaiknya ditulis.

Pelatihan menulis singkat tersebut diberikan Sloka Institute atas permintaan dari Yayasan Anak Tangguh. Luh De Suriyani, manajer operasional Sloka yang juga wartawan lepas dan blogger, mengajak peserta untuk langsung ke pasar. Ajakan ini disambut antusias oleh peserta.

Lalu, dengan naik sepeda motor dan mobil, semua peserta berangkat ke pasar. Saya sendiri ikut menemani peserta anak-anak ketika mereka wawancara dengan pedagang.

Toh, meski pelatihan itu sangat singkat -total hanya sekitar 2 jam-, anak-anak itu bisa langsung menulis hasil wawancara mereka ke pasar. Dan, secara umum, tulisan mereka menarik.

Peserta remaja, misalnya, menulis tentang masa depan Pasar Seni Guwang. Ini kutipan tulisan mereka apa adanya.

« Menurut beberapa pedagang, kemungkinan Pasar Seni Kedepan akan lebih maju dalam bidang persaingan. Tapi ada juga yang berpendapat bahwa, akan adanya penurunan pendapatan di bagian bidang ekonomi di daerah Pasar Seni tersebut..”

Begitu pula kelompok anak-anak yang menulis tema « Aku Cinta Pasar Guwang ». Inilah contoh tulisan mereka.

Selain Pak Miasa, ada juga Pak Cok Agung, penjual lukisan. Pak Cok seperti Charlie, penyanyi band ST 12. Sisiran rambutnya dibelah dua. Ia kelihatan tampan. “Masih proses punya anak,” kata Pak Cok Gung, panggilannya.

Tak hanya lugu, tulisan mereka juga lucu. 🙂

10 Comments
  • Cahya
    January 21, 2010

    Hmm…, jadi ingat masa-masa di SMA dulu, saya terjebak di klub jurnalistik gara-gara ga ada yang bilang kalau klub sastra itu digabung dengan klub jurnalistik 😀

    ReplyReply

    [Reply]

  • imcw
    January 21, 2010

    sudah lama nggak mampir disana.

    ReplyReply

    [Reply]

  • eka dirgantara
    January 21, 2010

    wah mas,kapan2 ajak-ajak dong…

    ReplyReply

    [Reply]

  • imadewira
    January 21, 2010

    jadi ingin baca hasil tulisan anak2 tersebut. Sekali-sekali posting disini pak, sebagai Guest Post. Atau post di balebengong 🙂

    **sekedar ide

    ReplyReply

    [Reply]

  • rani
    January 22, 2010

    hehehe… pasti seru sekali ada disana, ngeliat langsung anak-anak en remaja itu “beraksi” 🙂

    salam kenal..

    ReplyReply

    [Reply]

  • Cerita Inspirasi
    January 22, 2010

    woow.. mantap buat pelatihannya.. salut euy..

    ReplyReply

    [Reply]

  • putriastiti
    January 23, 2010

    huahuahuaa!! aku jadi inget puisi “Kucingku” yang kukirim buat om ku di Surabaya. Ga ada hubungan sama om ku sama sekali cuma pengen nulis tentang kucing aja karena aku suka. kayaknya mirip sama tulisan tentang Charlie ST 12. :))

    ReplyReply

    [Reply]

  • PanDe Baik
    January 28, 2010

    semoga MiRah bisa jadi seorang penerusnya. :p

    ReplyReply

    [Reply]

  • MC (d2)
    January 29, 2010

    jiwa menulis dan perhatian pada lingkungan sekitar memang harus ditumbuhkan sejak anak2 agar mereka tau realita idup di masyarakat……

    ReplyReply

    [Reply]

  • didut
    February 9, 2010

    wah kesempatan yg langka buat anak anak jaman sekarang mendapatkan keahlian macam ini

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *