Ketika Agama Cuma Kedok Semata

4 , Permalink 0

Pelajaran ketika masih kuliah: berpura-puralah.

Pura-pura itu biasanya jadi pilihan kami, sebagian mahasiswa yang ingin nebeng sepeda motor teman tapi tak bawa helm. Kami kuliah di Kampus Bukit Universitas Udayana di Jimbaran. Karena kami kos di Denpasar, berjarak sekitar 45 menit perjalanan, maka tiap kuliah kami harus bolak-balik Denpasar – Jimbaran.

Aku, salah satu mahasiswa kere saat itu, termasuk yang suka nebeng motor teman jika ada kesempatan. Lumayan buat menghemat pengeluaran karena tak harus naik bemo atau bus kampus.

Karena berangkat naik bus atau bemo, maka kami tak bawa helm. Sementara itu, teman yang bawa motor pun demikian, cuma bawa satu helm. Jalan keluarnya? Pura-pura itu tadi. Biasanya kami pakai kopiah. Seolah-olah mau berangkat sholat atau ke Masjid.

Sadar atau tidak, sengaja atau tidak, itulah salah satu permulaan untuk menggunakan agama sebagai kedok. Kopiah atau peci yang biasa dipakai lelaki muslim jika mau sholat atau ke Masjid, kami pakai sebagai kedok biar tidak ditangkap polisi di jalan.

Maklum. Polisi di Bali memang memberikan permakluman jika ada pengendara sepeda motor yang tak menggunakan helm namun berpakaian sembahyang. Misalnya yang Hindu berpakaian adat Bali dan yang muslim berpeci atau berjilbab.

Tapi, jangan salah. Menggunakan kopiah atau peci maupun penutup kepala biar tidak ditangkap polisi ini tak cuma dilakukan teman-temanku yang muslim. Beberapa teman non-muslim pun melakukannya. Ada yang tiba-tiba pakai penutup kepala serupa jilbab demi nebeng tadi itu.

Saat itu sih kami melakukannya hanya karena biar hemat saja. Maklum bagi anak kos, uang serupiah pun sangat berarti.

Berbohong
Tapi penggunaan simbol-simbol agama sebagai kedok itu tak cuma kelakuan mahasiswa kere sepertiku dan sebagian teman lain saat itu. Dalam banyak contoh juga terjadi.

Dalam perjalanan di Jawa, misalnya, lumrah sekali aku menemukan hal serupa. Beberapa orang berdiri di pinggir jalan sambil membawa kotak amal. Mereka nodong orang-orang lewat agar menyumbang uang untuk biaya pembangunan Masjid dan semacamnya.

Tentu saja tidak semua orang yang meminta sumbangan ini berbohong. Tapi kan kita juga tak pernah tahu benar apa tidak dia sedang membangun Masjid. Atau kalau toh memang benar ada pembangunan Masjid, apakah benar uang yang disumbangkan tersebut memang digunakan untuk membangun?

Kita tidak pernah tahu. Tidak pernah ada laporan yang jelas. Di beberapa media sih malah yang sering terlihat itu begitu, penipuan atas nama pembangunan Masjid padahal duitnya dimakan sendiri oleh si peminta tersebut.

Di tingkat lebih serius, luas, dan sistematis, penggunaan (simbol-simbol) agama sebaga kedok itu terjadi pula di politik. Dari zaman bahuela, partai politik yang menggunakan agama sebagai jargon penarik massa ini terus ada.

Dikadalin
Namanya saja kedok, topeng, agama hanya jadi alat untuk membuat kamuflase. Biar mereka yang berpolitik seolah-olah alim. Seolah-olah santun. Padahal, tujuannya sih tak lebih tak kurang ya sama, kekuasaan dan kekayaan.

Contoh terakhir ya petinggi partai yang kesandung kasus korupsi impor sapi itu. Setelah selama ini partainya koar-koar paling bersih, lengkap dengan ayat-ayat suci yang mereka kutip dalam kampanye, ternyata kelakuan sama saja, makan duit negara meskipun bukan haknya.

Tapi, korupsi impor sapi hanya satu contoh. Banyak orang lain melakukan hal serupa, menjadikan agama sebagai kedok semata untuk kepentingan pribadi. Kasus korupsi dana haji atau pengadaan Al-Quran adalah contoh lainnya.

Ironisnya, banyak orang justru silau ketika ada orang-orang menggunakan agama sebagai kedok itu. Lalu, karena sudah silau matanya, patuh membabi buta. Banyak orang kehilangan logika ketika sudah ngomong soal agama. Padahal ya ternyata disapiin, eh, dikadalin juga.

Ilustrasi dari Blog Lediana.

4 Comments
  • icha
    February 7, 2013

    Agama, sesuatu yang konsep dasarnya transeden tetapi ketika disempitkan maknanya menjadi insitusi. Dipuja bukan pada tataran makrifat, tetapi banyak yang hanya bicara syariat tetapi merasa sudah paham segalanya. Mestinya agama bukan institusi dan tameng, tetapi sikap dan perilaku.

    ReplyReply

    [Reply]

  • Anggara
    February 8, 2013

    Soal kopiah itu mestinya ya dilarang, bukan kemudian di maklumi sih. Tapi soal kedok, bukankah tidak hanya agama yang dibuat kedok?

    ReplyReply

    [Reply]

  • hlga
    February 13, 2013

    wih saya baru tau loh kedok penipuan sumbangan masjid semacam itu
    ckck

    ReplyReply

    [Reply]

  • tashwirulafkar
    March 14, 2013

    hahahah,,,, gokil gokil gokil,,,,, pura-pura pakek peci so takut ketangkep polisi,,,, persis sama yang perna gue alami brow,,, waktu itu ane masi di pondok, kebetulan ane menjadi penggurus pondok dan pada waktu itu ada salahsatu santri yang sakit ahirnya ane anterin pulang, namanya juga anak pondok jika ada salah satu benda investaris pasti gak akan awet termasuk helm, pada saat saya nganterin santri pulan tadi ane hanya pakek Peci kebetulan ada oprasi polisi dan ane mau di tilang so gak punya SIM ama gak pakek helm, terus ane bilang jika ane anak pondok, akhirnya ane cukup di suru PUS-UP 50 kali hahahah……

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *