Ketidakramahan yang Selalu Terulang

26 , Permalink 0
Seperti sudah kuduga, sambutan tidak ramah menyambut kami ketika masuk Hard Rock Cafe Minggu sore kemarin. Dengan muka galak dan tanpa senyum sama sekali, pelayan berseragam hitam-hitam itu bertanya pada kami. “Mau ngapain?” tanyanya dengan muka menyelidik seperti kami ini tiga orang yang harus dicurigai karena membawa penyakit sampar atau bom di balik baju kami.

Aku sedang nganterin dua anak tetangga, Gede dan Ayu, untuk menukarkan vocuher mereka di cafe tersebut. Mereka dapat hadiah voucher setelah menang lomba menghias bunga Nak Nik Community dua pekan lalu.

“Mau pinjem toliet,” kataku dalam hati. Ya, makan atau minumlah. Masak masuk cafe mau ngapain. Atau kalau memang mau nanya baik-baik, kan bisa saja sambutannya adalah, “Selamat sore. Ada yang bisa kami bantu?”. Hi, Guys. Pariwisata adalah tentang keramahan pada orang lain, tidak hanya pada orang-orang berkulit putih, jangkung, yang kalian sebuat sebagai turis itu.

Aku memang sudah menduga. Sudah terlalu sering terjadi seperti ini. Ketika masuk hotel, restoran, atau semacamnya di Bali, aku sering disambut dengan tatapan mata penuh curiga. Tidak hanya sekali dua kali. Hampir selalu. Dan ini bukan pengalamanku sendiri. Beberapa teman pernah mengalami seperti ini: perlakuan berbeda antara tamu lokal dan tamu asing.

Maka, ketika kemarin sore aku ke Hard Rock Cafe pun aku sudah menyiapkan mental seperti itu. But, meski sudah menyiapkan diri, ternyata aku tetap belum bisa menerima sambutan yang tidak ramah itu.

Maka, begitu ada sambutan tidak simpatik sedikiiiiit saja, aku langsung sebel setengah mati. Setelah bilang kami mau minum, kami cari tempat duduk sendiri tanpa dipersilakan. Setelah melihat kami bawa voucher Rp 100 ribu dari Hard Rock Radio, pelayan itu terlihat makin melihat kami dengan mata yang tidak menyenangkan.

But, untunglah kekecewaan itu terobati dengan dua pelayan lainnya. Dua laki-laki itu dengan ramah menyapa dan memberi tahu kami. “Kalau nanti makannya lebih dari nilai voucher,Β  bapak harus ganti. Tapi kalau kurang, duitnya tidak bisa dikembalikan,” kata pelayan itu, yang sepertinya lebih tinggi jabatannya dibanding pelayan pertama.

Kami mengangguk. “Ya, Pak. Terima kasih,” jawabku.

Setelah itu, pelayan lain juga tak kalah simpatiknya. Ketika kami baru mau nuangin saus dia dengan senang hati menawarkan diri untuk bantuin. Pas kami mau cabut, dia juga ngajak ngobrol dulu.

But, dasar manusia memang lebih suka nginget jeleknya daripada kebaikan orang, maka aku pun tetap mengingat pelayan pertama yg tidak simpatik itu.

Eh, ternyata bukan hanya aku. Ayu dan Gede, dua anak tetangga yg aku anterin pun merasakan ketidakramahan itu. “Kok pelayannya yang kecil tadi galak banget sih, Om,” kata Ayu.

“Pasti karena kita bukan bule ya, Om,” jawab Gede yang memang lebih cerdas dibanding teman-temannya itu.

26 Comments
  • viar
    March 31, 2008

    Pertamax!!!
    Wahaha…udah pernah jg nih aku ngalamin yg beginian. Di satu art shop di legian, waktu nganterin sodara dr bandung liat2 accesories, si penjaga toko dengan cueknya duduk di teras ngelanjutin ngobrol ma tetangganya. Pas tetangganya ngingetin dia kalo ada pembeli masuk dia jawab, “beh, pangbeu, nak lokal paling sing meli apeu..”

    Hihi, kurang ajar! Langsung aja aku seret sodara2ku buat pindah ke toko laen. Sambil lewat di depan si penjaga toko aku bilang, “nah bu tiang nak lokal sing ngelah pis bek cara bule2, suksma…”. Si penjaga toko melongo … hihi

    ReplyReply

    [Reply]

  • balibuddy
    March 31, 2008

    kasi tips aja bos ! emang bule aja ngetips ……

    ReplyReply

    [Reply]

  • john
    March 31, 2008

    heem, mungkin karna local jadi di anggap sepele, pada hal harus nya tidak pandang bulu, parwisata itu khan yg harus nya jual service, gimana mao sukses visit indoesia year 2008, kalo SDM parwisata nya aja tidak mendukung πŸ™‚

    ReplyReply

    [Reply]

  • antonemus
    March 31, 2008

    @ balibuddy: waduh, masalahnya aku jg anti kasih tip. katanya itu bagian dr korupsi. di china kan itu dilarang. makanya makin dibenci deh aku. :((

    @ john: itulah, bang john. slogannya keren. praktiknya susah. tp yg baik jg banyak kok sebenarnya. seperti yg aku tulis, kita aja yg suka ngomongon kejelekan orang daripada baiknya. :))

    ReplyReply

    [Reply]

  • viar
    March 31, 2008

    aku juga kurang setuju sama tips di dunia pariwisata, sama saja mendidik mereka untuk menyediakan keramahan karena ngarep sesuatu di balik itu (dollar/tips) – tp udah kadung sih…

    ReplyReply

    [Reply]

  • novan kojaque
    March 31, 2008

    complain aja ke hrdnya mas, ato maen lagi ke hard rock utk ngasi masukan ke kotak saran πŸ˜€

    ReplyReply

    [Reply]

  • Ady y
    March 31, 2008

    Tidak boleh men-generalisir bang Anton, khan yang dua lainnya ramah.. Mungkin yang pertama lagi ada masalah, banyak hutang ato diputusin pacar kali πŸ˜€

    ReplyReply

    [Reply]

  • Malaikax
    March 31, 2008

    Yang pakaian item”nya kayak ninja gak boss ? kalo iya pantesan ngomongnya susah jadi bikin sebel orang yang dengeer hhihih….

    ReplyReply

    [Reply]

  • devari
    April 1, 2008

    masukin surat pembaca aja Bli, biar ketahuan belangnya.

    ReplyReply

    [Reply]

  • Ivan
    April 1, 2008

    Sabar.. sabar.. mas itulah warna kehidupan. cegat aja pulangnya trus gebukin hahahahaha…..

    ReplyReply

    [Reply]

  • dipoetraz
    April 1, 2008

    laporin pak polisi… loh??

    ko’ gitu ya orang-orang itu, ga menghargai banget.
    padahal kesana mau ngasi mereka makan. dodol amet sih. huh…

    ReplyReply

    [Reply]

  • widi
    April 1, 2008

    Duh saya sering banget ngalamin hal kaya gitu, sampe berpikir mungkin orang2 uda mementingkan melihat penampilan daripada kualitas diri, berikut beberapa hal yang ga mengenakan yg pernah saya alami :
    1. Di pantai jimbaran/lokasi bom bali II, waktu itu pariwisata baru mo pulih dari bom bali I, krn suami ga liat bahwa tempat parkir yang dituju khusus mobil satpam mendatangi kami sambil marah2 sambil bilang kaya gini “eh tau diri dikit nae dsitu bukan tempat buat kmu, hanya yg bawa mobil bole parkir disini” duh aku marah bgt aku langsung aja bilang “emang knapa kmu pikir saya ksini mo gratisan, sombong skali kmu, klo ga ada kami orang lokal kmu mo digaji drmn waktu bom bali maren, ntar ada bom lagi baru kapok kamu”, eh..ternyata emang bener 2 bln setelah itu disana ada bom yg meledak…
    2, di restoran yang ada di discovery mall, saya lupa nama restonya yg jelas itu mengahadap ke pantai, saya dibiarkan menunggu lebihdari 1,5 jam menunya ga kunjung datang padahal pengunjung ga rame, dan banyak yg datang belakangan dr saya uda dapet, saya komplain ke managernya sambil bilang klo saya ga sekedar duduk aja disitu, masih banyak kerjaan yg lebih berharga yg bisa saya lakuin drpd nunggu menu yg ga kunjung tiba. Dan masih banyak lagi kejadian lainnya (kok jadi curhat disini yah…)

    ReplyReply

    [Reply]

  • Yanuar
    April 1, 2008

    hmmm…
    bisa jadi faktor tampang mas… ha.ha.ha..
    perasaan kemana-mana selalu welcome.
    nggak pernah kejadian yg mas anton ceritain diatas.
    hi.hi.hi…

    ReplyReply

    [Reply]

  • Arie
    April 1, 2008

    hihihihihi ..syukur belum pernah mengalami hal ini πŸ˜€

    ReplyReply

    [Reply]

  • ick
    April 1, 2008

    tau ndak bli alasannya kenapa mereka ndak ramah pada kita, orang loka, karena kita orang lokal jarang memberikan tip buat mereka jadinya mereka pasang muka berlipat kalo udah meliat orang yang berjenis lokal…

    suksma

    ReplyReply

    [Reply]

  • mohammad
    April 1, 2008

    lain kali kalo dapat pelayanan tidak baik, langsung aja marahin petugas keamanan itu, atau komplain ke manajer. komplain harus serius dan bisa mendidik mereka.

    ingat, pelayanan yang ramah adalah bagian dari produk di industri jasa.

    ReplyReply

    [Reply]

  • mohammad
    April 1, 2008

    dan kalo kita tidak dapat produk yang baik, atau bahkan rusak, kita berhak untuk tidak membayar…

    ReplyReply

    [Reply]

  • paramarta
    April 1, 2008

    #ick
    wei …benar kaya gitu ya ? situ juga mantan pelaku pariwisata trus berubah haluan jadi ngeblog hahahaha……

    ReplyReply

    [Reply]

  • paramarta
    April 1, 2008

    waduh salah tulis email… pantesan nunggu moderasi

    ReplyReply

    [Reply]

  • Ebo
    April 2, 2008

    Jadi pingin curhat: Semenjak Hard rock pindah ke pinggir pantai, kunjungan saya ke Hard rock bisa dihitung jari. Karena tiap kunjungan saya selalu mendapatkan perlakuan yang kurang simpatik. Saya ingat pernah dibentak petugas baju hitam2 gara2 saya berdiri di sebuah tempat yang saya tidak tahu ada aturan nggak boleh berdiri di sana. mustinya ada tulisan ‘dilarang berdiri di sini’ kalau memang nggak boleh…

    ReplyReply

    [Reply]

  • antonemus
    April 2, 2008

    @ viar. udah kadung bukan brarti tidak bisa diilangin kan? mari mulai dr kita sendiri.

    @ novan: masukannya lewat blog aja. kalo ke sana lagi mahal soale. πŸ˜€

    @ ady: bener, bli. makanya kutulis jg dua yg lain. tp ya itulah. kita ini, eh aku ding, cuma inget jeleknya orang, bukan kebaikannya. πŸ™‚

    @ malaikax: semuanya item2, bos. termasuk aku yg item mukanya. πŸ˜‰

    @ devari: surat pembaca ke mana? Bali Post? ntar disuruh bayar lagi. πŸ˜€

    @ ivan: butuh tukang gebug neh. mau ga? πŸ˜€

    @ dipoetraz: krn gembel kali. makanya males nglayani. :((

    @ widi: aha, cerita sama. dtolak gara2 wajah indonesia. πŸ˜€

    @ yanuar: kayaknya gitu, pak de. makanya aku curiga mereka buta. keren gini masa dtolak. πŸ˜€

    @ arie: selalu komen abis yanuar. πŸ˜•

    @ ick: lah, itu dia. apalagi aku mmg ga pernah kasih tip. πŸ™‚

    @ mohammad: coba mangernya mas iqbal, pasti aku langsung laporin. πŸ™‚

    @ paramarta: haha, ternyata begitu ya. pantesn tau. πŸ˜€

    @ ebo: padahal tampang ebo sudah lucu, kok masih dimarahin. πŸ˜€

    ReplyReply

    [Reply]

  • wijaya
    April 2, 2008

    Sebagai orang Bali sendiri juga sering di lecehkan sama penjaga toko. Yang paling bikin sakit hati waktu aku sama temanku lagi belanja di salah satu toko dekat Double Six.
    Begitu nanya harga baju; di jawab; bukan di jual untuk loka. Kesel tak?
    Terus sewaktu di Centro baru-baru ini (kebetulan libur ke Balis etiap 6 minggu sekali) belanja untuk keperluan rumah; wah kasirnya tidak ada senyum, tidak ada sapaan hi atau apalah; tetapi begitu di belakang saya ada Turis Jepang yang belanjaannya “cuman” gantungan kunci; eh senyum dan menyapa. Anak-anak jadi kesala dan bilang; kita belanja 5 juta aja di cuekin. apalagi kalau belanjaannya sama dengan orang Jepang itu…
    Bali tidak seramah yang di iklankan!

    ReplyReply

    [Reply]

  • wira
    April 3, 2008

    faktor muka kalee…
    ups..

    *kabur sebelum pemilik blog marah2

    ReplyReply

    [Reply]

  • wira
    April 3, 2008

    *komen serius

    Ini kayaknya salah satu penyebab banyak orang bali (terutama menengah ke bawah) malah jarang menikmati segala kemewahan yang ada di tanah mereka (termasuk saya, hehehe) sendiri.

    Kita terlalu memuja turis (walaupun itu penting), tapi kadang meremehkan “saudara” sendiri.

    ReplyReply

    [Reply]

  • antonemus
    April 7, 2008

    @ wijaya: begitulah, bli. tp ya, sekali lagi, mmg tidak bisa digeneralisir sih. cuma kok ya sering dan banyak ya. hehehe..

    @ wira: bener, pak dosen. sptnya orang2 bali sendiri justru pd keder duluan utk masuk2 fasilitas2 wisata krn alasan y begitu. apalagi kalo latar belakang mrk mmg minder kayak tetangga2ku. jd, wisata bali utk siapa ya?

    ReplyReply

    [Reply]

  • christine
    January 7, 2009

    itu namannya gk respect diri sebagai org indonesia.. menginjak2x diri ndiri loo… seingat aku dulu Sari Club lbh parah, when I just came to bali at 1992, temanku ngajak jln2x d legian n lwt sana, coba2x liat loo k dlm gaya apa sih, kok ramai bngt, aku jln d paling dpn, ehhh… liat lg kebelakang, teman2xku pd gk ada, ternyata dilarang msk ama satpam, n satpam itu tunjuk k papan yg ddpn pintu msk, d sana tertulis “lokal dilarang masuk”, busettt kan…

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *