Keserakahan Memang Tak Kenal Kenyang

4 Permalink 0

Celaka! Listrik padam begitu aku masuk kamar mandi.

Padahal air di kamar mandi tinggal seember. Bisa saja hidupin keran karena kami pakai air yang tertampung di bak besar, bukan PDAM. Cuma khawatir kalau nanti habis dan malah tak bisa pakai untuk keperluan lain yang lebih penting sementara listrik belum hidup kembali.

Maka, aku pun hanya pakai air yang seember itu meski sambil mikir, “Cukup gak ya air yang cuma seember ini buat mandi?”.

Satu, dua, tiga, lalu belasan gayung air pun aku habiskan buat mandi siang itu. Dan, what a surprise, ternyata air itu lebih dari cukup untuk gosok gigi dan mandi.

Gara-gara mandi dengan air seember dan ternyata cukup itu, aku jadi kepikiran betapa aku ini memang termasuk salah satu manusis serakah. Kadang-kadang kita merasa apa yang kita punya ini tak cukup. Padahal ya sebenarnya lebih dari cukup.

Tak cuma soal air seember tadi tapi juga uang, pekerjaan, teman, atau bahkan pasangan. Kita lebih sering merasa kurang daripada menikmati apalagi mensyukuri apa yang kita punya.

Tak usah jauh-jauh orang lain. Aku sendiri bisa jadi contoh. Contoh sederhana. Ketika masih naik sepeda, pengen beli sepeda motor. Ketika sudah punya sepeda motor, pengen punya mobil. Pas punya mobil kecil, pengen beli lebih besar.

Untungnya sih aku tak rakus-rakus amat. Juga tak murtad-murtad amat. Hidup saat ini saja sudah jauh lebih dari cukup bagiku. Menikmati dan sesekali mensyukurinya jika ingat. Tapi, aku lihat sepertinya lebih banyak lagi orang yang lebih rakus bin tamak.

Ya, itu para koruptor sih contoh paling jelas. Kurang apa sih orang seperti anggota DPR yang gaji per bulan sampai Rp 30an juta. Nyatanya masih ada yang korupsi seperti Nazaruddin. Dia cuma salah satu contoh. Masih banyak contoh lainnya.

Pramoedya benar. Keserakahan memang tak kenal kenyang.

Meski sudah cukup, tetap saja manusia tak akan merasa itu cukup. Ketika kebutuhan dasar sudah terpenuhi, maka dia akan terus mencari kepuasan untuk memenuhi keinginan.

Repotnya kalau keserakahan itu kemudian merampas hak orang lain. Demi keinginan sendiri lalu menggelapkan pajak yang seharusnya diberikan pada negara. Atau menebang hutan dan menyingkirkan warga adat demi melebarkan perkebunan sawit.

Atau, ah, tak usah jauh-jauhlah. Aku seharusnya cukup mandi tiap hari dengan satu ember saja. Tak perlu menghidupkan airnya terus biar terbiasa mandi dalam keterbatasan. Jadi, air untuk petani tak harus aku habiskan untuk mandi. Jadi, bumi tak perlu cepat kering karena orang-orang rakus seperti aku.

Bukankah Mahatma Gandhi sudah pernah mengingatkan. Bumi dan seluruh isinya memang cukup untuk memenuhi kebutuhan semua orang tapi tak cukup memenuhi keserakahan satu orang.

4 Comments
  • Tamba Budiarsana
    April 11, 2012

    Mas Anton, tulisannya nampar saya bolak-balik. Keren! Jadi malu sama diri sendiri karena keserakahan setiap hari yang nggak pernah disadari..hehe…. Air seember, penuh inspirasi!

    ReplyReply

    [Reply]

    a! Reply:

    aih, makasih, tamba. ini tumben nulis beginian. serasa mario teguh aja. hihihi..

    ReplyReply

    [Reply]

  • Agung Pushandaka
    April 16, 2012

    Mandi memang bisa dilakukan dengan air seember,, kalo kepepet.. :p

    ReplyReply

    [Reply]

    a! Reply:

    ah, kalo kepepet pun segayung jg cukup, gung. :p

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *