Kenyataan itu di Lapangan, Bukan di Belakang Meja

9 , , Permalink 0
Perjalananku ke Bedugul hari ini membuatku makin yakin: belajarlah dari lapangan, bukan dari balik meja. Sebab ketika kita hanya membacanya dari balik meja, kita hanya menemukan teori. Tapi di lapangan, kita akan menemukan kenyataan bukan hanya cerita.

Hampir setahun bekerja part time di majalah advokasi pertanian berkelanjutan, aku merasa jarang sekali bergaul dengan petani, yang selalu jadi objek tulisan kami tiap edisi. Majalah ini sih memang lebih mirip jurnal daripada karya jurnalistik. Tugasku di sana pun lebih banyak di belakang meja seperti mencari naskah tiap edisi, mengedit tulisan orang, dan mengupload tulisan ke website.

Selama setahun itu, aku merasa sangat sedikit hal yang aku tahu tentang isu pertanian. Kalau toh ada, itu lebih banyak aku dapat karena aku mencari-cari di internet, bukan sesuatu yang aku hadapi sendiri. Sesekali memang ada diskusi, tapi aku tetap merasa ada yang kurang. Mungkin karena aku membandingkannya dengan kerja-kerja sebelumnya yang membuatku lebih banyak di lapangan dan belajar banyak hal.

Contohnya ketika aku membantu tabloid Kulkul, media advokasi HIV/AIDS dan narkoba di Bali. Meski hanya sekitar setahun, aku merasa belajar banyak hal di sana. Selama di Kulkul, aku banyak bergaul dengan teman-teman aktivis LSM di lapangan. Bersama mereka aku ikut membagi jarum untuk pengguna heroin, mendampingi orang dengan HIV/AIDS (Odha), rajin main dan ngobrol dengan LSM-LSM di Bali, dan seterusnya.

Sering liputan di lapangan lalu menulisnya membuatku kenal dengan hal-hal baru yang sebelumnya sangat asing bagiku.

Tapi, sekali lagi, selama bekerja part time di majalah saat ini, hal itu sangat jarang. Aku tidak bisa belajar banyak hal karena lebih banyak di belakang meja. Alasan paling jelas karena jarang liputan ke lapangan.

Maka, ketika hari ini aku ke Bedugul dan ngobrol dengan petani-petani di sana, aku seperti merasa berdosa. Ah, ternyata aku tidak tahu tentang masalah-masalah petani di sini. Padahal petani-petani ini juga mengalami masalah yang tidak kalah peliknya dengan apa yang aku baca dari tulisan orang lain.

Ketut Wiantara dan Wayan Kanten, dua petani di Pancasari, Sukasada, Buleleng bercerita tentang bagaimana ruwetnya jalur pemasaran produk pertanian mereka. Sebagian besar petani di kawasan penghasil sayur ini melewati jalur pemasaran yang sangat panjang. Dari (1) petani ke (2) tengkulak ke (3) pengepul ke (4) supplier ke (5) konsumen seperti hotel dan catering. Kalau ke konsumen biasa, maka setelah supplier akan ada (6) pedagang besar lalu baru ke (7) pedagang eceran, dan terakhir baru (5) konsumen.

Panjangnya rantai ini tidak akan jadi masalah selama petani memang mendapat harga yang layak. Masalahnya, yang sering terjadi adalah tengkulak mengambil sayur seperti paprika, tomat, sawi, dan seterusnya itu tanpa membayar terlebih dulu. Pembayaran yang telat ini pun terjadi secara bertingkat dari tengkulak hingga konsumen. Lalu, ketika konsumen bayar ke supplier, supplier tidak segera membayar ke pengepul. Petani produsen sayur itu hanya dapat bagian terakhir. Kalau toh dapat, hitungannya pasti tidak sama dengan apa yang dulu disepakati. Daripada tidak dibayar, petani kemudian menerima saja berapa pun pembayaran itu.

Paling ujung dari sistem ini adalah: petani selalu rugi. Kalau sayur tidak dijual jelas rugi. Sayur itu akan membusuk di kebun. Kalau dijual, mereka pun tetap rugi.

Jalan terakhir, petani terpaksa hutang. Namun karena hutang terus bertambah sementara pendapatan terus rugi, petani pun selalu dalam jeratan setan bernama hutang ini. Dengan hutang ini pula tengkulak menjerat petani agar bersedia menjual produknya dengan harga murah.

Maka, menurut Wayan dan Ketut, salah seorang petani sampai bunuh diri gara-gara tidak bisa membayar hutang. Mendengar cerita petani di bunuh diri gara-gara hutang ini, aku seperti tertonjok tepat di uluhati. Setahun bekerja di media advokasi pertanian namun aku tidak pernah tahu masalah seperti ini. Ah, betapa menyedihkan..

Sayangnya, karena buru-buru, hari ini aku belum bisa menemui keluarga petani yang bunuh diri itu. Dalam hati aku hanya berjanji. Kapan-kapan aku harus kembali untuk membuat cerita tentang kematian petani itu. Lalu mengabarkannya pada banyak orang. Untuk menunjukkan bahwa petani sebagai korban tidaklah hanya teori, tapi fakta yang benar-benar terjadi..

9 Comments
  • made eka
    May 3, 2008

    salut bli…terdesaknya petani bukan hanya terjadi di Bali saja bli. Di Yogya lahannya mau di ambil untuk penambangan pasir besi, di hampir semua kaki pulau Bali mereka disingkirkan dengan mengambil lahan mereka tanpa ganti rugi yang layak. Di Bali memang paling parah. Karena Pariwisata yang salah urus. Jadilah Pertanian terabaikan. Kalau mencermati semua cerita mereka, kita bisa nangis darah bli…

    ReplyReply

    [Reply]

  • Bukan Winardi
    May 4, 2008

    akhirnya saya melihat tulisan tentang petani lagi. tiang sebagai anak petani, merasakan sendiri bagaimana susahnya hidup jadi petani itu. petani dibangga – banggakan sebagai tulang punggung penyedia bahan pangan tapi mereka ga pernah mangan (makan) dengan layak. makanya banyak petani di daerah saya tidak ingin anaknya jadi petani lagi. ah, mungkin suatu saat nanti, petani hanya menjadi salah satu kata di dalam kamus saja bli kalo begini keadaannya. tinggal menunggu waktu saja …

    ReplyReply

    [Reply]

  • ghozan
    May 4, 2008

    waduh nasib petani di Indonesia memang miris, aku gak ngerti katanya dulu Indonesia bakal swasembada pangan, so mestinya taraf hidup petani itu cukup baik, tapi kenyataannya taraf hidup mereka tidak beranjak dari semula… pemerintah akankah dikau melakukan sesuatu?

    ReplyReply

    [Reply]

  • Yanuar
    May 5, 2008

    betul mas..
    kadang kita melihat sesuatu hanya berdasarkan Side A. sedangkan Side B karena jarang disinggung akhirnya malah dilupakan.
    saatnya mas anton jadi politikus.
    biar bisa membantu sodara-sodara petani yang laen. (termasuk aku ding mas..)
    🙂

    ReplyReply

    [Reply]

  • didut
    May 6, 2008

    betul bli, di lapanganlah kita bisa melihat fakta hidup di sekitar kita

    ReplyReply

    [Reply]

  • wira
    May 6, 2008

    Bapak saya sampai skg masih petani, kebutuhan beras utk keluarga saya semua berasal dari hasil tanam sendiri, hampir tidak pernah beli.

    Sebenarnya kita juga salah, gaya hidup sudah berubah, petani seakan menjadi pekerjaan yg nista, sehingga banyak yg lebih senang menjual tanahnya atau membangun ruko lalu di kontrakkan, kalau seperti ini, lalu salah siapa?

    ReplyReply

    [Reply]

  • imsuryawan
    May 6, 2008

    dan saat ini banyak sekali politikus kita yang ingin membela petani, entah petani yang mana…

    ReplyReply

    [Reply]

  • mohammad
    May 8, 2008

    akibatnya, petani tidak mencintai lahan pertanian. pesan para orang tua petani ke anaknya umumnya seperti ini…
    “nak, sekolah yang pinter biar jadi dokter. jangan jadi petani kayak bapakmu ini… biar hidup tidak susah…”

    ReplyReply

    [Reply]

  • Dek Didi
    May 8, 2008

    Ah, siapa lagi yang akan meneruskan profesi petani???
    Saya masih ikut bertani kecil2an di kampung lho. Meski tidak sampai terjerat utang, karena gaji kadang dipake nomboki kalo merugi…
    Ayo bertani……….

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *