Kecewa Citra Pulau Dewata

6 , , Permalink 0
Banyaknya turis mancanegara di Bajawa, Ngada, Flores agak mengejutkan saya. Ketika saya menulis daftar tamu di hotel Edelweis, Bajawa, Senin (20/4) malam kemarin saya baca banyak nama bule yang menginap di hotel ini.

Padahal awalnya saya pikir hanya akan ada Nicolas Ardissone, turis dari Perancis yang bertemu dengan saya sejak berangkat dari Bali. Nicolas ini satu pesawat dengan saya dari Bali. Semula dia berencana ke Gunung Kelimutu, Ende. Tapi ketika ngobrol satu pesawat dengan saya, termasuk soal perjalanan saya ke Bajawa, ternyata dia mengubah rencana. Dia memilih ke Bajawa daripada ke Ende.

Saya kira dia hanya akan jadi satu-satunya turis asing di Bajawa. Ternyata tidak. Di kota Kabupaten Ngada ini cukup banyak turis. Padahal saya sendiri yang orang Indonesia juga jarang mendengar nama kota ini sebagai tempat tujuan wisata. Sebatas yang saya tahu dan pernah dengar, Bajawa masih kalah tenar dibanding Labuan Bajo tempat di mana terdapat kawasan wisata Taman Nasional Komodo atau Gunung Kelimutu di Ende.

Karena kotanya kecil, salah satunya bisa dilihat dari hotel yang semuanya hotel melati, atau bangunan di kota yang hanya satu dua yang bertingkat, maka bagi saya puluhan turis itu sudah banyak.

Objek wisata yang menarik di Bajawa juga tidak banyak. Petugas hotel yang saya tanya hanya menyebut Desa Bena sebagai satu-satunya tempat yang biasa dikunjungi turis. Desa ini adalah desa tua yang masih memegang kuat tradisi. Rumah-rumahnya pun masih tradisional baik bangunan maupun penataannya. Karena saya belum pernah ke sana dan hanya melihatnya dari foto, saya melihatnya tak jauh beda dengan dua desa tua di Bali yaitu Desa Tenganan di Karangasem atau Desa Penglipuran di Bangli.

Tanpa tempat wisata yang banyak, apalagi kalau dibandingkan Bali, maka saya agak heran dengan banyaknya turis asing di Bajawa. Apalagi bulan-bulan ini juga bukan peak season atau musim panen turis mancanegara.

Hal menarik bagi saya adalah ternyata salah satu alasan mereka ke Bajawa adalah karena mereka ingin menikmati suasana Indonesia yang sesungguhnya. Dan uniknya tiga turis asing ini bilang Bali sudah tidak seperti Indonesia.

Karakter tiga turis ini sama. Mereka di Bali terlebih dulu sebelum ke Flores. Tapi di Bali mereka hanya sehari. Paling banter dua hari. Alasannya, Bali tak seperti yang mereka bayangkan sebelumnya.

Di beberapa sumber informasi yang mereka punya tentang Bali, misalnya buku atau website, mereka mendapatkan informasi tentang Bali yang masih tradisional. Setidaknya tidak seperti yang mereka temui saat ini.

Nicolas si bule Perancis itu misalnya mengaku kecewa karena Bali yang dia temui tak menawarkan kesenyapan yang dia bayangkan. Maka dia pilih kabur ke Nusa Lembongan setelah dia sampai di Bali.

Pekerja di bidang deteksi gas ini memulai perjalanan di Indonesia dari Jogjakarta sekitar dua minggu sebelumnya. Dari kota gudeg dia berkunjung ke Gunung Bromo, Kawah Ijen, lalu ke Bali.

Namun dia kecewa karena Bali menurutnya terlalu dibuat untuk turis. Hotel, restoran, dan seterusnya memang disediakan untuk kebutuhan turis. Saya pikir itu sudah hal yang seharusnya dilakukan Bali sebagai salah satu tujuan wisata. Tapi ternyata bagia sebagian orang itu tidak pas.

“Untuk apa saya jauh-jauh ke Bali kalau menemukan hal yang juga ada di negara saya,” kata Nicolas.

Memang sih dia hanya melihat Sanur dan Nusa Lembongan. Dia perlu menjelajah Bali lebih lama karena toh masih banyak tempat yang lebih tradisional seperti di Tenganan, Ubud, dan seterusnya. Namun isyarat dari Nicolas juga perlu ditangkap. Apalagi dua turis lain juga mengatakan hal yang sama.

Sepasang turis dari Hongaria itu tinggal di Kuta selama dua hari. Dan mereka mengaku Kuta terlalu bising, tak seperti mereka yang dapatkan di internet: tenang dan tradisional.

Maka mereka kemudian pilih ke Flores, termasuk Bajawa. Di Flores mereka memulai perjalanan dari Labuan Bajo, Manggarai Barat. Lalu lanjut ke Ruteng, Bajawa, terakhir di Gunung Kelimutu.

Pasangan Hongaria mengaku terkesan dengan suasana Flores. “Ini tempat yang saya cari karena masih apa adanya,” kata si cowok.

Pilihan tempat yang sederhana itu seperti bukan hanya mereka bertiga. Ada sekitar 20 orang di restoran tempat kami makan Selasa tadi malam. Hanya tiga di antaranya, aku dan dua teman lain, yang dari Indonesia. Sisanya bule semua. Restoran yang dipilih pun bukan Camellia yang dilengkapi musik dan karaoke. Mereks justru memilih Dito’s yang lebih sederhana: berdinding kayu..

Setelah capek dengan kehidupan yang modern, para bule itu sepertinya ingin sesuatu yang lebih apa adanya. Itu yang kadang-kadang memang terasa hilang dalama pariwisata Bali.

6 Comments
  • didut
    April 22, 2009

    betul bli …sy aja yg org indonesia gak tahan ama bisingnya kuta 😛 …trkhr kesana menginap di sanur krn lbh tenang 😀

    ReplyReply

    [Reply]

  • biyung nana
    April 22, 2009

    hehehe PR buat dinas pariwisata… kalo promosi tuh mbok ya jgn cuma sanur, nusa dua, kuta or lembongan… 😉

    ReplyReply

    [Reply]

  • via
    April 24, 2009

    kayaknya pelaku wisata harus mulai menawarkan tour yg lebih “bali” selain tawaran yg sudah biasa, krn kn g semua turis jg suka seperti yg alami gitu..

    ReplyReply

    [Reply]

  • hira
    April 25, 2009

    mungkin strategi promosi bali yang perlu dibenahi, krn sesungguhnya bali punya segalanya. dari pantai ke gunung, metropolitan hingga tradisional,dugem sampai spiritual.

    ReplyReply

    [Reply]

  • wira
    April 27, 2009

    saya setuju dengan hira, mungkin promosi tentang bali perlu lebih di meratakan… masih banyak sekali tempat wisata bali yang menawarkan ketenangan.. tapi kalau banyak turis yang berkunjung ke tempat itu, lama2 ya jadi rame juga.. mungkin begitulah awalnya Kuta

    ReplyReply

    [Reply]

  • PanDe Baik
    April 27, 2009

    Ya… atas nama ‘Pembangunan’, perubahan suatu daerah dapat dipastikan bakalan pernah berada pada titik jaya, dan pelan-pelan menghilang. Barangkali karena kerakusan dan ‘kenikmatan’ yang sudah kadung dikecap oleh sebagian besar orang yang terlibat didalam ‘kue pariwisata’….
    btw, terkait dengan ‘pernah jaya dan pelan-pelan menghilang’ sounds familiar bagi saya. about BLoG barangkali ? he… berharap BBC gak bakalan ikutan ” pelan-pelan menghilang setelah pernah jaya….” 🙂

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *