Ke Serangan Menikmati Ikan Panggang

Melihat ikan panggang itu dipamerkan, air liurnya serasa menetes tak tertahankan.

Maka, begitu usai liputan sekitar 2,5 jam kemudian, aku pun mampir ke salah satu warung di sisi jalan masuk Desa Serangan, Denpasar Selatan tersebut. Warung-warung ini menjual menu khas desa di sisi selatan Denpasar ini, ikan panggang.

Terima kasih, ibu-ibu pedagang. Akhirnya doaku terkabulkan. 🙂

Sejak dulu aku sudah mikir, “Seharusnya desa ini ada warung yang menjual ikan panggang.” Sebab, desa ini desa nelayan. Tapi, tiap kali main ke desa ini aku cuma menemukan ibu-ibu penjual ikan panggang nyuun alias menjunjung panggangan ikan tersebut.

Kalau toh ada warung yang menjual ikan panggang, lokasinya di ujung pantai selatan sana yang untuk masuk mesti melewati petugas PT Bali Turtle Island Development (BTID). Maklum, kawasan pantai itu memang milik perusahaan yang mereklamasi Serangan, yang dulunya pulau kecil terpisah dari daratan Bali tersebut.

Pas aku ke Serangan hari ini, ternyata sudah ada deretan warung di sisi kanan jalan masuk desa ini. Ada belasan warung tenda di jalan setelah jembatan ini. Semuanya memamerkan ikan panggang di bagian depan warungnya.

Aku dan anak istri mampir di salah satu warung untuk makan siang.

Ikan panggang itu ada beberapa jenis, seperti tongkol dan bawal. Ikan bawal panggang besar, ukurannya kurang lebih selebar buku A5 atau tatakan tetikus (mouse pad), harganya lumayan mahal, Rp 50.000. “Lagi susah ikan, Gus. Makanya mahal,” kata Men Karmi, pemilik warung.

Kami pilih ikan tongkol panggang. Besarnya sekitar ukuran lengan orang dewasa. Harganya jauh lebih murah, Rp 17.000. Kami tawar jadi Rp 15.000.

Men Karmi memanggang lagi ikan itu di atas bara api dari sabut kelapa. Dia membelahnya jadi dua dan mengoleskan sambal di kedua sisi. Karena sebelumnya sudah dipanggang dan kini dipanggang lagi, ikan itu jadi terlihat agak gosong.

Toh, meski penampilannya terlihat agak gosong, rasanya tetap gurih. Bagian yang gosong itu hanya di sisi luar dan sedikit. Apalagi ini ikan tongkol. Cuma ada tulang di sisi tengah. Sisanya ya daging montok gurih itu.

Daging itu berbalur sambal merah yang dioleskan ketika di pemanggangan. Teksturnya lembut. Bani, anak kami, pun dengan senang menyantapnya dengan bumbu kecap manis.

Kami menyantapnya dengan nasi putih dan seporsi sayur plecing kangkung. Saking enaknya, kami sampai nambah nasi untuk menghabiskan ikan itu. Apa daya, kami cuma bisa melahap satu belahan. Satu belahan lagi kami bawa pulang. Untuk oleh-oleh kami sendiri. 🙂

Ditambah segelas teh botol dingin dan kripik pisang kami menghabiskan Rp 35.000 untuk makan siang itu. Murah, meriah, enak, dan mengenyangkan, eh, menyenangkan juga sih.

6 Comments
  • rahma
    July 7, 2010

    Wah.. ikannya gede.. enak dibuat makan rame2.. 🙂

    like this nih..

    ReplyReply

    [Reply]

  • agus lenyot
    July 8, 2010

    agenda tiap minggu ini mas..
    kalau langganan saya yang disebelah utara warung ibu yang ada di foto..

    ReplyReply

    [Reply]

  • Salahudin Jalal Tanjung
    November 12, 2012

    Makan Sate Monyet
    Makan Ikan Hidup ( Di Sruput )
    Makan Temen Sendiri
    Mati , Semua Tidak Tahu

    ReplyReply

    [Reply]

  • Berta Bednar VS Sarno
    November 12, 2012

    Sarno ( Wong Jowo )Temen Berta Bednar ( Asrama Mahasiswa Sriwijaya ) S2 Fisika UGM , Rebutan 1 Mahasiswi MIPA Kimia , Dari Magelang

    ReplyReply

    [Reply]

  • Pak Wagini
    November 12, 2012

    Dosen MIPA Fisika UGM

    ReplyReply

    [Reply]

  • Pak Wagini
    November 12, 2012

    nurkhamid ( Mipa Fisika , Dari Pati )
    Calculus Deferential and Integral
    Sekarang Dosen : Elektro UNY
    aris nasuha ( Mipa Fisika UGM )
    Dosen : Elektro UNY
    edi suprriyanto ( Mipa Fisika UGM ) Temen SMP N 5 yk ,
    Dosen Unej , Jember

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *