Karena Tuhan Maha Penyayang, Bukan Maha Kejam

1 , , Permalink 0

cinta kasih

Tiap Jumatan, aku selalu kepikiran tentang tulisan ini.

Kenapa sih malas banget mendengarkan khotbah terutama saat Jumatan? Kenapa sih para khotib suka sekali menakut-nakuti?

Karena itu, aku jarang banget datang Jumatan lebih awal biar bisa mengikuti khotbah. Kalau toh datang lebih awal, biasanya pura-pura tidur ketika khotib ngomong di mimbar.

Suka-sukalah. Kalau toh dosa kan dosaku sendiri. Tidak bawa-bawa orang lain.

Aku cuma merasa tidak sreg saja dengan khotbah Jumat yang terlalu sering menebarkan ketakutan. Rasanya, beragama kok jadi menakutkan begitu.

Sering kali aku mendengar, khotib berbicara tentang hukuman bagi manusia yang tak bertakwa, atau siksaan untuk mereka yang tidak mengikuti sunah Rosul, dan semacamnya.

Sah sah saja sih. Cuma, membosankan sekali kalau beragama hanya persoalan pahala, dosa, azab, surga, neraka, dan semacamnya.

Menurutku ini kesalahan yang terus menerus dibiarkan, taat beragama hanya dengan menebar ketakutan tentang dosa dan siksa api neraka.

Sejak kecil, aku diajarkan tentang itu. Misalnya bahwa manusia yang berdosa akan disiksa di panasnya api neraka, dipotong lidahnya karena suka bohong, dan hal-hal yang bagiku ketika kecil terasa begitu mengerikan.

Dalam batas tertentu ini wajar. Menakut-nakuti dengan hukuman agar anak patuh dan taat beragama. Ini serupa, misalnya, harus menggunakan helm agar tidak ditangkap polisi.

Tapi, jadi salah kaprah kalau sampai khotbah Jumat pun terus menerus masih mengeksploitasi ketakutan. Tuhan jadi terasa begitu menakutkan. Seolah-olah Dia dzat yang sangat kejam.

Padahal, aku yakin tidak. Tuhan itu Maha Baik. Maha Amat Baik malah. Ini sih berdasarkan logika beragamaku sendiri yang suka-suka.

Contoh sederhana. Tiap kali memulai sesuatu, orang Islam diajarkan untuk membaca bismilah. Lengkapnya, Bismillahirrohmaanirrohiiim. Jelas banget artinya, dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih dan penyayang.

Catat besar-besar, Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Doa itu selalu diucapkan tiap kali akan melakukan sesuatu. Menurutku sih ya untuk mengingatkan betapa besarnya kasih dan sayang Tuhan.

Dalam 99 Nama Tuhan atau Asma’ul Husna, lagi-lagi Ar-rahman dan Ar-Rahim ini ada di dua urutan pertama. Nama-nama lain pun bermakna kurang lebih sama. Misalnya As-Salaam atau Sang Pemberi Kesejahteraan, Al Ghaffar atau Sang Maha Pengampun, dan seterusnya.

Intinya, Tuhan lebih sering disebut sebagai Dzat yang mengasihi, menyayangi, mengampuni, dan semacamnya. Bukan sebaliknya, Dzat yang kejam dan suka balas dendam.

Karena itu pula, aku haqqul yakin, Tuhan lebih senang memberikan apresiasi daripada detensi alias penghargaan daripada hukuman.

Maka, sebaiknya, para tukang khotbah lebih banyak menonjolkan sisi positif ini daripada sisi “negatif”.

Dalam bentuk praktis, khotbah Jumat atau khotbah apa pun itu, akan lebih enak dinikmati umat jika mengajarkan tentang perlunya berbuat baik, bukan tentang siksaan karena berbuat jahat. Misalnya, bahwa Tuhan senang jika sebagai umat manusia kita harus adil terhadap sesama manusia, apapun agama dan etnisnya.

Atau bahwa Tuhan lebih senang jika manusia bisa bertenggang rasa, menjaga lingkungan, memiliki jiwa sosial, dan semacamnya.

Dengan demikian, maka sejak kecil orang Islam akan memiliki kesadaran dan pikiran bawah sadar bahwa Tuhan memang Maha Baik, bukan Maha Kejam. Bahwa beragama itu harus menyenangkan, bukan menakutkan.

Kalau khotbahnya demikian, tentu tak cuma jamaah Jumat yang senang tapi juga semua orang yang bahkan tak percaya adanya Tuhan.

1 Comment
  • find a domain
    November 15, 2015

    Assalamualaikum
    ya kan “inna maa a’mal binniah”, alau saya husnuddlon saja, arena memang kalau dilihat diFB dll. umat yg ngaku islam sekarang manja, banyak mempertanyakan kehendak Tuhan tapi tidak pernah mempertanyakan perbuatannya sendiri. Mungkin karena itu kita diingatkan bahwa Tuhan juga bisa Maha Kejam, Maha Sombong, Maha Menyesatkan dan itu tidak salah karena Tuhan Maha Benar. Khotbah jumat itu paling lama 1 jam dalam seminggu, sedangkan Rohman-Rohimnya Tuhan kita selalu merasakan setiap detiknya, sehingga kita lupa sifat2 Allah yang tadi.
    terima kasih
    Wassalam

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *