Karena Tikungan pun Sangat Menentukan

4 , Permalink 0

tol-sepi Tumben pengen nulis tentang beginian.

Tidak tahu kenapa. Mungkin karena agak suasana hati memang lagi agak mellow hari ini.

Kali ini soal hal-hal yang kita anggap sederhana tapi kadang menentukan di masa depan. Seolah hal kecil padahal berdampak besar pada hidup kita. Kalau tidak saat ini, mungkin suatu saat ini.

Kejadiannya mirip ketika kami balik ke Bali awal tahun lalu setelah acara di kampung halaman, Lamongan.

Pas di jalan tol antara Gresik – Surabaya aku salah jalan. Seharusnya aku memilih jurusan Gempol atau Malang. Nyatanya tidak. Aku ternyata berbelok ke kanan, yang keluar dari jalur ke arah Malang. Kalau tak salah itu tikungan ke arah Romokalisari, Surabaya.

Wasyu! Padahal, belajar dari dua kali kejadian kesasar di tol daerah sana, aku sudah konsentrasi penuh biar tidak kesasar. Aku sudah melihat terus marka jalan yang menunjukkan arah Malang. Nyatanya, pas ada dua tikungan, aku ke kanan, malah keluar jalur tol. Bukan ke arah Gempol atau Malang tapi mau masuk kota Surabaya.

Terpaksa aku menyusuri jalan tersebut dan, untungnya, tak jauh kemudian menemukan jalan masuk kembali ke jalur tol menuju Gempol, titik penting sebelum lanjut ke Denpasar, Bali.

Untungnya sih itu tadi, perjalanan memutar kembali ke jalan tol termasuk pendek. Aku sudah kebayang akan melewati jalur salah, kesasar kena macet padahal hanya gara-gara salah ambil tikungan.

Tapi, salah menikung atau berbelok toh tak hanya di jalan. Kadang-kadang kita juga mengalami hal serupa di kehidupan. Hal yang kita anggap sepele, langkah kecil, ternyata berdampak besar pada kehidupan kita selanjutnya.

Contohnya sederhana banget. Menghadiri undangan teman atau tidak, bisa jadi berdampak pada kita bertemu pada seseorang yang berpengaruh besar dalam hidup kita. Menyekolahkan anak di mana, pulang pergi ke kantor lewat mana, atau semacamnya.

Hidup, ternyata perjalanan berkesinambungan antara satu kejadian dengan kejadian lain. Antara satu peristiwa dengan peristiwa lain. Satu sama lain saling terkait. Saling mempengaruhi. Kita tak bisa memutus rantai itu begitu saja. Betapa pun kita mencobanya. Selalu ada tangan-tangan tak terlihat yang berpengaruh dalam proses itu.

Memang benar kata Nietzsche, hidup serupa berlayar tiada henti dan kita yang mengendalikan perahu layar itu. Tapi toh ada angin, hujan, ombak, ada samudera yang tak bisa kita kendalikan. Padahal, mereka faktor penting yang menentukan sampai tidaknya kita pada tujuan.

Maka, menentukan tujuan, mengambil langkah, dan mengingat terus ke mana kita akan menuju itu sangat penting. Kecuali, kita memang mau menjalani hidup tanpa tujuan, tanpa harapan, tak berkesudahan.

4 Comments
  • imadewira
    January 20, 2014

    Kok pas ya, saya juga pernah berpikir, semua hal yang saya “dapatkan” saat ini awalnya bermula dari sebuah kejadian yang penting. Misalnya saja, pertemuan dengan istri dulu, saat saya memutuskan untuk turun membantunya karena kecelakaan, hehehe.

    ReplyReply

    [Reply]

  • Suila200
    January 21, 2014

    saya pribdi sngt stuju hdup ini memang adalah sbuah mata rantai,dmana stu kputsan akn sngat brpengaruh dlm kehidupan kita slanjutnya.

    ReplyReply

    [Reply]

  • Haqqi
    January 23, 2014

    Iyap, bener juga. Tikungan yang terkadang dikira kecil, 1 derajat saja, kalau jauh lurus ke depan bisa selisih ratusan kilometer.

    ReplyReply

    [Reply]

  • Aulia
    February 11, 2014

    Ini tulisan asyik sekali dari sebuah jalan tol berakhir dengan sebuah cerita penentuan hidup kita akan kemana, jempol 🙂

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *