Karena ODHA Tak Sekadar Angka

2 , Permalink 0

Di depanku, polisi berpakaian lengkap itu nyuntik heroin.

Tak ada ekspresi bersalah atau canggung sama sekali. Dia datang ke salah satu tempat para pengguna narkoba suntik (penasun) nongkrong. Siang itu beberapa penasun lainnya juga lagi pakaw, bahasa slang menyuntik heroin.

Setelah pakaw atau cucaw, dengan santai pula polisi itu ngobrol sama teman-teman di sana.

Sekitar 30 menit kemudian, dia pun pergi lagi. Teman-teman lain masih di sana. Ada yang cuma ngrokok dan minum kopi, ada pula yang lagi pakaw. Tinggal aku yang bengong campur tak percaya.

Barulah kemudian, setelah tanya beberapa teman, aku tahu kalau polisi tersebut juga pecandu heroin. Dia pernah jadi anggota intel yang bertugas memata-matai penasun sebelum malah menjadi salah satu pecandu juga.

Kejadian tersebut sudah berselang sekitar empat tahun silam. Si polisi juga sudah meninggal entah karena apa. Namun, pengalaman melihat polisi berpakaian lengkap menyuntik heroin salah satu hal yang tak akan terlupa. Bagiku, itu salah satu peristiwa menarik selama menjadi jurnalis, terutama ketika meliput isu HIV dan AIDS di Bali.

Pengalaman melihat polisi cucaw kembali gara-gara dua hari lalu aku diminta menjadi salah satu pembicara di lokakarya meliput isu HIV dan AIDS. Hanya untuk mengingatkan betapa luasnya tema isu liputan tentang HIV dan AIDS, salah satunya kecanduan heroin pada polisi tersebut.

Kenapa relevan? Karena penasun merupakan salah satu populasi kunci dalam penularan HIV di Bali, juga Indonesia.

Aku belum pernah membuat pengamatan serius tentang pemberitaan HIV dan AIDS di Bali. Belum pernah juga menemukan hasil riset serupa. Tapi, jika dilihat secara sekilas, peliputan isu HIV dan AIDS rata-rata masih berkisar pada hal-hal klise. Misalnya stigma, diskriminasi, peningkatan jumlah kasus, dan semacamnya.

Padahal, isu HIV dan AIDS tak sebatas itu. Banyak tema lain yang bisa diliput dan diberitakan dengan menarik.

Menurutku sih setidaknya ada lima tema liputan tentang HIV dan AIDS yang menarik untuk dibahas lebih lanjut yaitu human interest, penularan, penanggulangan, pengobatan, dan para pelaku dalam program. Pembagian tema ini hanya berdasarkan pengalamanku sendiri selama ini.

Tragedi
Human interest adalah tentang orang-orang yang menjadi korban HIV dan AIDS. Tiap orang punya kisah yang amat menarik untuk diceritakan. Apalagi para korban HIV dan AIDS. Jika bisa mendekati dan menggali, apalagi bersahabat dengan mereka, akan sangat banyak cerita bisa disampaikan. Tak cuma melulu soal HIV dan AIDS tapi juga perjalanan hidup mereka. Bagiku, orang-orang dalam isu HIV dan AIDS itu punya cerita yang sangat memiliki nilai berita.

Mungkin agak lebay. Tapi, tiap orang dengan HIV dan AIDS itu pernah mengalami momen di mana hidup mereka adalah sebuah tragedi. Ini terjadi ketika mereka baru tahu bahwa tertular HIV yang kemudian pelan-pelan akan diterima sebagai sesuatu yang biasa.

Penularan pada anak-anak dan ibu rumah tangga juga menjadi isu menarik dalam isu HIV dan AIDS. Sebab, mereka bukti penularan HIV tak lagi hanya pada populasi kunci seperti, seperti penasun, pekerja seks dan pelanggannya, gay, dan semacamnya. Anak-anak dan ibu rumah tangga yang tertular HIV ini juga banyak yang tinggal di desa-desa, seperti Tabanan, Karangasem, dan Buleleng. Mereka susah mengakses layanan pengobatan.

Kisah tentang para pelaku dalam penanggulangan juga menarik. Tak cuma para penggiat juga lembaga mereka masing-masing. Tiap lembaga penanggulangan di Bali punya keahlian atau spesialisasi masing-masing. Sebagai contoh, jika ingin tahu tentang penjangkauan di desa-desa, maka Yayasan Citra Usadha Indonesia ahlinya. Jika ingin meliput pendampingan dan perawatan ODHA, maka Yayasan Spirit Paramacita tahu lebih banyak. Dan seterusnya.

Demikianlah. Menulis HIV dan AIDS itu tak cuma melulu soal angka-angka. Banyak cerita di balik manusia dan kegiatan di dalamnya.

 

2 Comments
  • honeylizious
    October 8, 2012

    iya saya punya saudara seorang ODHA :’)

    ReplyReply

    [Reply]

  • imadewira
    October 17, 2012

    Cerita tentang korban HIV dan AIDS memang sangat menyedihkan, apalagi jika itu terjadi pada orang dekat atau orang yang kita kenal. Contohnya jika ada anak yang kedua orang tuanya meninggal karena HIV/AIDS, dan dia sendiri kini menjadi ODHA. Membayangkan itu, betapa beratnya beban si anak. Menghadapi penyakitnya, belum lagi ditambah dengan stigma dari masyarakat.

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *