Karena, Lain Orang Lain Wataknya

6 , , Permalink 0

Bagaimana sih watak orang Bali itu?

Topik itu diangkat Bale Bengong di linimasanya sekitar seminggu lalu. Maka, ramailah orang berkomentar. Ada yang bilang orang Bali itu ramah. Ada yang bilang beraninya sama saudara sendiri. Macam-macam.

Tapi, menurutku, tidak ada itu watak orang Bali. Watak orang Bali itu sama saja dengan etnis lain di mana pun juga. Cuma, sebagian orang kadang melakukan penyederhanaan dan pukul rata alias simplifikasi dan generalisasi.

Ambil contoh sederhana. Ada yang bilang orang Bali itu ramah-ramah. Menurutku tidak juga. Tergantung orangnya. Di gangku saja, sesama orang Bali juga bisa tidak bertegur sapa meski kami satu gang. Tapi, ada juga yang ramah sekali pada kami sementara lainnya sama sekali membalas senyum atau sapa yang kami berikan.

Begitu pula sifat lain. Ada yang bilang orang Bali itu pemalas. Ah, ini tentu tak berlaku untuk bapak ibu mertuaku. Hingga saat ini pun, di umur 50an tahun, mereka masih rajin bangun pukul 3 pagi untuk belanja ke Pasar Badung lalu jualan soto dari pagi hingga malam. Masak begitu mau disebut pemalas?

Kalau ngomong soal watak ini, aku selalu ingat salah satu lokakarya yang pernah aku ikuti pada tahun 2002 setelah terjadinya bom di Legian pada Oktober 2002. Aku dan beberapa jurnalis ikut lokakarya tentang keberagaman.

Di salah satu sesi, kami dikelompokkan berdasarkan etnis, Bali dan non-Bali, terutama Jawa. Tiap kelompok kemudian disuruh membuat daftar sifat atau watak, baik maupun buruk, dari etnis lain.

Hasilnya bisa ditebak. Sifat buruknya orang Bali itu, antara lain pemalas, suka berjudi, boros, dan semacamnya. Sifat baiknya, ramah, tenggang rasa, permisif, dan semacamnya. Lalu, sifat buruk orang Jawa, antara lain eksklusif, sombong, fanatik, dan seterusnya. Sifat baiknya, ulet, berani, dan semacamnya.

Namun, itu semua ternyata hanya stereotipe. Diskusi kami selanjutnya ternyata membantah semua stereotipe itu. Contohnya sederhana. Jika dibilang orang Bali itu pemalas, apakah ada orang Bali yang ulet? Ternyata banyak. Tak hanya di Bali itu sendiri, para transmigran Bali di luar Bali sudah membuktikannya.

Cara lain untuk membantah semua stereotipe, baik orang Bali maupun Jawa tersebut, adalah dengan melihat lingkungan terkecil kita, keluarga atau teman-teman. Coba deh cek teman kita yang beretnis lain dan bandingkan dengan stereotipe yang ada di pikiran kita. Aku cek sih ternyata teman-teman Bali terdekatku banyak pekerja keras dan berpikiran terbuka. Mereka jauh dari stereotipe bahwa orang Bali itu pemalas dan pikirannya sempit.

Begitu pula dengan teman-temanku yang orang Jawa. Jika dibilang eksklusif atau konservatif pada agama, ternyata teman-teman terdekatku justru hampir semua justru alergi sama orang-orang yang fanatik dalam beragama. Mereka, seperti juga aku, amat terbuka pada keragaman dan menolak jadi orang fanatik.

Maka, stereotipe, simplifikasi, generalisasi, dan seterusnya itu berbahaya. Kenapa? Karena sifat satu orang tidaklah bisa mewakili keseluruhan etnisnya. Aku sebagai orang Jawa, misalnya, tidaklah mungkin bisa mewakili sifat semua orang Jawa. Begitu juga dengan istriku yang orang Bali. Mustahil menganggap sifat semua orang Bali itu sama dengan sifatnya.

Menurutku, tidak ada itu sifat tunggal pada etnis mana pun. Begitu pula dengan orang Bali. Tiap manusia punya sifat tersendiri. Dan tak usah disederhanakan dalam satu dua sifat pasti. Lha wong satu orang saja kadang-kadang bisa berubah-ubah sifatnya tergantung suasana hati atau apa yang dialaminya kok.

6 Comments
  • Agus Lenyot
    February 5, 2012

    Mas, barangkali setiap daerah, suku atau bangsa memiliki karakter yang sifatnya mayoritas, artinya mewakili sebagian besar masyarakatnya. Pemalas mungkin sifat yang dimiliki oleh semua orang, tapi barangkali sebagian besar Lelaki Bali memiliki potensi sifat ini. Tapi kemudian sifat ini berubah seiring dengan pergaulan.

    Lelaki Bali pemalas, suka judi dan pemabuk biasanya yang masih ada di kampung halaman sendiri. Logikanya sih sederhananya saja: meski tanpa bekerja toh tak akan kelaparan karena masih ada yang bisa ditodong untuk makan. Kalau aku mengumpamakan kemalasan ini semacam bakatlah. Ya kalau dibiarkan akan terus ada. Contohnya ada dimana-mana.

    Lelaki Bali (dan tidak hanya lelaki Bali tentu saja) yang ulet dan bekerja keras itu biasanya karena dia merantau, jauh dari sanak saudara serta tidak memiliki pilihan lain selain bekerja keras. Begitulah, stereotif memang berbahaya. Tapi karakter memang tidak bisa dibohongi kok mas 🙂

    ReplyReply

    [Reply]

    a! Reply:

    kalau aku masih percaya bahwa sifa itu orang per orang, tidak mewakli komunitasnya. bahkan manusia secara pribadi pun amat rumit kalau dikatakan memiliki satu sifat tertentu. kau bisa saja amat rajin hari ini tp mendadak besok akan sangat malas. yg ada selama ini, menurutku, hanya penyederhanaan.

    lahirlah stereotipe. pukul rata. seolah2 begitulah sifat keseluruhan orang di komunitas tersebut. IMO sih. 🙂

    ReplyReply

    [Reply]

  • imadewira
    February 9, 2012

    Sekitar tahun akhir 80-an atau awal 90-an, saya merasa orang-orang di lingkungan saya sangat permisif terhadap orang luar, baik itu orang Jawa, Lombok dan lainnya. Seperti muncul rasa bangga jika bisa kenal dan dekat dengan mereka. Maklumlah jaman itu masih sangat sedikit pendatang di daerah saya. Apalagi waktu itu jika ketemu bule dan bisa menyapa mereka, wuih bangganya bukan main. Mungkin itu salah satu yang menyebabkan bule-bule mengatakan orang Bali sangat ramah.

    Tapi sekarang sudah sedikit berubah seiring dengan banyaknya pendatang dan juga turis yang datang ke Bali. Jaman sekarang sudah biasa tinggal dan bertetangga dengan bule. Tidak ada rasa bangga seperti jaman dulu lagi.

    *maaf kalau sedikit OOT

    ReplyReply

    [Reply]

  • Mawar
    February 10, 2012

    ikutan sharing dunk, sebagai orang batak saya juga pernah ‘terjebak’ dalam kondisi ‘karakteristik’ ras (bukan terjebak kali ya,,hehehe). bagaimana ‘keburukan’ ras yg sempat terdogma itu jangankan oleh orang lain, saya sendiri aja ngalamin,, plis sudi mampir disini (bad experience)
    http://mawarangelinastory.blogspot.com/2011/07/batak-bagian-i.html -tapi kemudian pengalaman mengajarkan saya bahwa ini bukan soal ras tapi karakter (just like ur tag above) http://mawarangelinastory.blogspot.com/2011/07/batak-bagian-ii.html

    *sory kalau jadi (numpang) iklan, but i think its exiting subject,, bicara soal keragaman karakter di indonesia yg majemuk banget ini. dan senang jika bisa dibahas tanpa melebar ke bagian lainya,,

    ReplyReply

    [Reply]

  • Putu Kusuma
    February 15, 2012

    Seperti Germaine Greer bilang: Stereotypes must be challenged at all times.

    ReplyReply

    [Reply]

  • ilham
    March 10, 2012

    Gan, agan-agan, aku mo nanya nih, temenku orang jawa, dia kemarin ke bali satu bulan sama pacarnya seorang bule, sepulang dari sana dia cerita sama aku kalau orang bali suka mendiskriminasikan orang jawa yang tinggal di sana, misal jika agan mau beli pulsa aja dimahal-mahalin, mau makan di warung-warung yang jual orang bali asli itu juga dimahalin, katanya sikap mereka membenci orang jawa. menurut agan2 di gimana? benarkah hal ini dalam kenyataannya.

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *