Karena Bukan Pencuri, Maka Aku Pergi

4 , , , Permalink 0

Memenuhi permintaan tulisan kuliner dari sebuah majalah bulanan terbitan Jakarta, saya pun berkunjung ke kafe di jalan Pulau Kawe ini. Kafe ini khusus menjual mie dalam aneka olahan yang memang menggiurkan.

Saya sudah pernah menulisnya sekitar setahun lalu untuk majalah kuliner yang lain. Karena itu ketika ada permintaan menulis kembali kafe ini, saya menerimanya dengan senang hati. Sebab selain menunya yang khusus, berbagai olahan mie, itu disajikan dalam olahan enak, kafe ini juga bagus karena suasananya yang asik. Kafe ini memang layak direkomendasikan sebagai tempat bersantap.

Senin sore ini saya pun ke kafe tersebut. Selain dua pelayan, ada tiga orang lain di kafe yang bangunannya lebih mirip rumah toko (ruko) dibanding tempat bersantap tersebut. Satu orang bule di kursi bagian depan. Dua orang yang lain, sepertinya sepasang ibu dan anak, duduk di pojok dekat meja kasir.

Saya duduk di sofa empuk kafe berhawa dingin karena pendingin ruangan tersebut. Pelayan datang menemui. Permintaan dari majalah di Jakarta itu sebenarnya adalah menu mie ayam cah cabe. Tapi saya lebih tertarik mencoba menu sapi cah cabe. Mie dicampur dengan ayam sudah terlalu biasa. Saya ingin menikmati bagaimana rasanya mie disajikan bersama cacahan daging sapi.

Sebelum mie disajikan, saya bilang ke pelayan. Bahwa saya wartawan lepas dan sekarang sedang ingin menulis tentang menu di kafe tersebut. Saya minta izin untuk diperbolehkan memotret persiapan menu yang saya pesan.

Ini memang standar foto yang diminta dari majalah tersebut. Saya harus mengirim foto menu mulai dari persiapan sampai penyajian. Tidak detail. Hanya beberapa foto yang bisa mewakili proses tersebut.

Pelayan itu tidak mengizinkan. Dia tidak berani memperbolehkan saya memotret menu disiapkan karena harus ada izin dulu dari pimpinannya. Saya memakluminya.

Saya meminta untuk dipertemukan dengan pimpinannya. Dia bilang tidak ada karena saat itu sudah sore. Meski menerima alasan itu, saya tetap berusaha meyakinkan si pelayan agar saya diperbolehkan memotret persiapan menu tersebut. Dia tetap keukeuh tidak mengizinkan.

Baiklah kalau begitu. Saya menghormati hak dia untuk menolak. “Silakan nanti foto saja kalau menu sudah di meja,” tambahnya.

Maka, ketika minuman pesanan datang, saya menyambutnya dengan kamera. Saya memotret pelayannya ketika mengantar menu tersebut. Saya juga memotret menu itu ketika sudah di meja. Ini hal yang sangat sering saya lakukan.

Selain memotret tampilan es yang menggoda dengan buah cherry merah merona di atasnya itu, saya juga memotret daftar menu di meja. Daripada harus menulis kembali apa saja menu yang disajikan, saya lebih suka memotretnya saja untuk kemudian dilihat ketika menulis. Tujuan lain memotret menu adalah untuk mengingat nama dan apa saja bahan yang digunakan membuat menu tersebut.

Ketika saya sedang asik memotret, si ibu-ibu di pojok ruangan mendatangi saya. Wajahnya tidak bersahabat. Dia bertanya dengan nada agak tinggi. Bagi saya terkesan menghardik. “Untuk apa Anda memotret menu saya?” tanyanya lalu mengambil menu tersebut dari meja. Saya merasa tatapan matanya mencurigai saya layaknya saya pencuri.

“Untuk bahan tulisan,” jawab saya.

Saya bilang bahwa saya wartawan lepas. Dia meminta identitas saya sebagai wartawan. Saya berikan kartu anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI), organisasi profesi yang saya ikuti sejak tahun 2001 sampai saat ini.
Setelah melihat kartu pers tersebut, dia berkata kurang lebih begini, “Besok-besok jangan begitu ya. Anda sebagai wartawan juga harus punya etika. Tidak bisa Anda memotret-motret seenaknya.” Lalu dia kembali ke tempat duduknya semula.

Hati saya agak bergemuruh menahan marah mendapat perlakuan tersebut. Saya benar-benar merasa diperlakukan seolah-olah saya ini pencuri yang hendak mencuri menunya. Saya sudah hendak berniat pergi begitu saja meninggalkan kafe tersebut.

Tapi karena saya harus mendapatkan informasi yang jelas dan beritikad baik, saya datangi ibu itu di tempat duduknya. Saya meminta penjelasan lebih detail kenapa dia melarang saya memotret menu tersebut.

Alasannya tidak jauh berbeda. Pada prinsipnya dia menyudutkan saya dengan pernyataan bahwa saya tidak punya etika karena tidak minta izin. Saya bilang bahwa saya sudah memperkenalkan diri sebagai wartawan pada pelayan. Bahwa saya sudah minta izin untuk memotret dan dia hanya mengizinkan saya memotret menu kalau sudah disajikan.

Si ibu itu terus menuduh saya tidak punya etika sebagai wartawan. Dia bilang bahwa tempat makannya itu pernah ditulis di media asing maupun media nasional. Semuanya meminta izin terlebih dulu.

Saya bilang bahwa tidak semua wartawan harus melakukan itu untuk menulis. Saya sendiri memang tidak biasa janjian dengan pimpinan restoran untuk menulis kuliner. Sebab kalau janjian lebih dulu, saya agak khawatir akan mendapat layanan yang sudah diatur terlebih dulu untuk menyenangkan saya sebagai wartawan.

Kalau janjian dengan pemilik, biasanya juga akan diberi menu gratis. Saya tidak terlalu suka. Saya lebih suka datang sebagai pembeli. Memang harus keluar modal yang tak sedikit. Tapi saya akan mendapat layanan yang lebih apa adanya, tanpa rekayasa.

Alasan ini pula yang saya pakai. Bahwa sebagai pembeli, saya boleh datang kapan saja tanpa harus minta izin dengan pemiliknya. Saya juga berhak memotret karena tidak ada tanda larangan untuk memotret di sana.

Baiklah. Dia memang punya kuasa atas kafenya itu. Tapi saya sebagai pembeli juga berhak mendapat perlakuan lebih bersahabat, bukan diperlakukan layaknya saya ini pencuri. Sebab saya merasa dia mencurigai saya ini sebagai orang yang hendak mencuri resep atau menunya.

Karena ibu itu terus saja menyalahkan saya, baiklah, saya menerimanya. Anggaplah saya ini wartawan tanpa etika karena memotret seenaknya tanpa izin. Tapi mbok ya caranya harus lebih sopan pada orang lain.

Kalau memang dia curiga, kenapa sih dia tidak duduk baik-baik lalu bertanya untuk apa saya memotret. Lha ini tidak. Sudah saya datang sebagai pembeli, sudah minta izin sama pelayan, eh, tiba-tiba pemilik kafenya datang dan memperlakukan saya seperti saya pencuri.

Capek berdebat, saya pun pergi. Saya bayar Rp 50.000 untuk mie dan es yang harga totalnya sekitar Rp 40.000 tersebut. Dua menu yang sudah tersaji itu belum saya sentuh sama sekali. Itu pun karena saya kasihan sama pelayan yang meminta saya bayar karena kalau tidak maka dia yang harus mengganti rugi.

Saya lalu pergi dengan membawa janji dalam hati. Saya tidak akan pernah datang lagi ke kafe yang memperlakukan pembelinya seperti pencuri itu. Tidak akan..

4 Comments
  • PanDe Baik
    October 11, 2009

    wah wah wah… kenapa gak dipublikasikan saja nama tempatnya disini om ?

    ReplyReply

    [Reply]

  • didut
    October 12, 2009

    hmm…memang beberapa pemilik tempat makan belum bs memperlakukan pembelinya dgn baik ..malah dapat publikasi yg kurangbaik spt ini khan

    ReplyReply

    [Reply]

  • wira
    October 12, 2009

    aneh, ibarat air susu dibalas tuba, maunya membuat kafe itu lebih terkenal malah dikira mau menjelek-jelekan.

    ReplyReply

    [Reply]

  • eka dirgantara
    October 15, 2009

    emang ga boleh yah motret makanan di restoran? saya belum tahu itu dan saya ga pernah melihat tanda larangan memotret di restoran..

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *