Kambing Hitam Bernama Banyak Keinginan

3 , Permalink 0

Kini aku percaya kepada omongan Frank.

Sekitar tahun 2009 silam, teman dari Belanda itu bilang kepadaku, “Pada akhirnya, secara alami kamu akan membatasi kegiatanmu.” Frank bilang begitu setelah tanya apa saja kegiatanku.

Dan, saat itu ya kegiatanku memang acak adut, seperti juga sekarang: kerja paruh waktu di bagian publikasi VECO Indonesia (ini sekaligus sumber pendapatan utama), menulis lepas ke beberapa media (agar hobi nulis serius bisa terjaga), serta ngurusin BaleBengong dan Sloka Institute (ini sih lebih untuk berbagi ide dan tenaga).

Ketika Frank bilang seperti itu, aku tak percaya. Buktinya toh semua bisa berjalan saat itu. Bekerja paruh waktu di VECO Indonesia, menulis lepas di beberapa media, plus ngurusin Sloka. Tapi, ternyata memang benar, makin hari aku merasa makin tak fokus. Tak jelas.

Sejak September tahun lalu, ada tambahan kegiatan baru, membantu melahirkan BaliPublika dan mencoba turut membesarkannya. Niat awal sih karena membantu teman yang penuh semangat 45 ingin membuat media baru di Bali.

Padahal, Maret tahun lalu, ketika memutuskan selesai dulu jadi Direktur Sloka setelah lima tahun mengurusi, aku berniat untuk lebih serius mengelola BaleBengong. Tapi ya niat tinggal niat. Nyatanya blog BaleBengong tak terurus. Beberapa ide yang kami rencanakan tahun lalu tak banyak yang terwujud. Padahal, setahun lalu, kami membuat banyak rencana untuk mengubah tampilan, membuat materi lebih intens, plus monetize.

Sampai kemudian melalui email, kawan-kawan admin BaleBengong lain mengingatkan, BaleBengong agak “sekarat” blognya karena tidak serius diurus.

Aku refleksi saja sih. Ternyata karena memang kami tak terlalu serius mengurusinya. Secara pribadi, terlalu banyak hal yang ingin aku kerjakan sementara waktu, pikiran, dan tenaga ya segitu-gitu saja.

Akibatnya, tak ada yang bisa dibanggakan. Semuanya karena dikerjakan setengah-setengah. Tak ada fokus. Ketika sedang mengerjakan ide X, tiba-tiba di tengah jalan terputus karena ada ide baru, Y. pas lagi ngerjain ide Y, tiba-tiba ada teman ngajak bikin proyek baru, Z.

Sedihnya karena ketika mengerjakan Z dan Y, sebagian pikiran juga masih tercurah untuk X yang belum selesai. Tidak ada totalitas. Jadilah semua serba nanggung. Hanya karena aku MERASA bisa mengerjakannya, tidaklah aku memang BENAR-BENAR bisa mengerjakannya.

Ironisnya, ketika tidak bisa menyelesaikan pekerjaan Y, katakanlah karena hasil akhirnya tidak bagus, maka ada kecenderungan untuk mengambing hitamkan kegiatan baru, Z, ataupun lama, X. Biasalah manusia. Ketika ada masalah, maka cenderung mencari kambing hitam untuk disalahkan atau jadi bahan ngeles. Padahal ya masalahnya dalam diri sendiri, terlalu banyak ambisi meski sadar hanya punya sedikit amunisi.

Akhir tahun lalu, saat melakukan refleksi, aku teringat omongan Frank. Waktu yang kemudian akan membatasi kita. Selagi tangan cuma dua, kita tak bisa merengkuh seluruh isi dunia. Mari kembali pada mimpi-mimpi lama, serius mengelola jurnalisme warga.

Ilustrasi dari The Cubicle Chick.

3 Comments
  • Adi
    January 21, 2013

    Wah nggak bisa nyaingin AW dong, memimpin 50+ organisasi 🙂

    ReplyReply

    [Reply]

  • .gungws
    January 22, 2013

    sama, mas..dulu juga saya gitu..apa kaden sibuknya, jeg magrudugan, tapi seru! hahaha..
    sekarang juga masih suka kok, tapi sadar, ada beberapa ide yg tampak cemerlang saat dicetuskan, tapi momennya belum pas, jadi dipending dulu..dahulukan yang paling tidak mungkin.. ;))

    ReplyReply

    [Reply]

  • imadewira
    January 30, 2013

    Saya rasa semua orang mengalami atau pernah mengalami hal ini. Banyak ide cemerlang namun untuk merealisasikan semuanya tidak mudah bahkan hampir mustahil. Jadi pada akhirnya diantara sekian banyak ide dan rencana, kita mesti memilih mana yang realistis dan mana yang urgent. Begitulah, setidaknya apa yang saya rasakan.

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *