Senangnya Lolos Beasiswa Liputan CFI Media

1 , , , Permalink 0

Kabar gembira datang sekitar sebulan lalu.

CFI Media, sebuah lembaga di bidang pengembangan media dari Perancis, mengirim email. Mereka mengabarkan kalau kami, tim dari BaleBengong, lolos seleksi beasiswa liputan.

Tentu saja aku senang bukan kepalang.

Sekitar dua bulan sebelumnya, kami mengirim proposal liputan ke mereka. Tema besarnya tentang perubahan iklim. Topik liputan kami tentang hal remeh temeh, makin susahnya menemukan capung. Judul usulan kami, biar keren, The Last Dragonfly.

CFI Media adalah lembaga yang baru aku kenal September tahun lalu. Waktu itu aku menjadi peserta sekaligus pembicara di Fourth Media Jakarta Forum. Dari situ, aku kemudian mendapat informasi-informasi tentang program mereka.

Salah satunya tentang peluang beasiswa liputan tentang perubahan iklim. Tema perubahan iklim terkait dengan posisi Perancis sebagai tuan rumah Konferensi Tahunan Perubahan Iklim ke-21 Desember nanti. Karena itu, Perancis agak getol dalam isu-isu perubahan iklim, termasuk memberikan beasiswa liputan melalui CFI Media.

Bermodal nekat dan setengah berjudi, aku pun mengirim usulan liputan mendalam tentang bagaimana dampak perubahan iklim terhadap populasi capung.

Dan, kami lolos!

Begitu mendapat kabar gembira tersebut, hal pertama yang muncul di otakku adalah semacam rasa jemawa. Ya, beda sedikitlah dengan bangga berlebihan alias sombong. ?

Ternyata, media jurnalisme warga pun bisa mendapat beasiswa liputan. Dari lembaga internasional pula.

Maklumlah, BaleBengong kan media komunitas yang dikelola independen untuk tujuan nirlaba. Pengelolaannya amatiran. Ini bukan lembaga media dengan modal besar secara kapital maupun sosial. Makanya, senang bukan kepalang, jika kemudian kami pun mendapat beasiswa liputan.

Apalagi, penerima beasiswa liputan ini dari Indonesia hanya dua. Selain kami juga ada suara.com, media baru berbasis di Jakarta. Dari kawasan regional ada Bangkok Post, Rappler.com, The Inquirer.net, dan seterusnya. Beasiswa ini memang untuk media-media di kawasan Asia Tenggara.

Maka, berkumpulah kami semua dari sembilan media di Asia Tenggara, di Kuala Lumpur pada 25-29 Mei. Aku sendiri hanya ikut dua hari dari seluruh sesi.

Workshop di Kuala Lumpur merupakan bagian dari beasiswa tersebut. Selain di Kuala Lumpur, nantinya akan ada pula workshop di Bangkok dan terakhir di Paris, bersamaan dengan COP 21. Jadi, lumayanlah bisa dapat kesempatan belajar di tiga negara berbeda.

Selain workshop, dukungan terpenting adalah beasiswa liputan. Tiap peserta mendapat dukungan biaya liputan sebesar 50 persen dari total biaya yang diajukan. Kami mendapat dukungan sekitar Rp 16 juta untuk biaya liputan mendalam sesuai topik yang kami ajukan.

Biaya itu antara lain untuk transportasi, akomodasi, dan konsumsi selama liputan. Karena anggota tim kami bertiga, maka angka tersebut termasuk kecil. Apalagi liputan kami tak hanya di Bali tapi juga Malang dan Jakarta.

Tapi, ini bukan soal besar kecilnya beasiswa yang diberikan. Beasiswa ini, bagi kami di media jurnalisme warga, adalah peluang besar untuk mengenalkan diri dan memperluas jaringan sekaligus belajar dengan bonus jalan-jalan. ?

1 Comment
  • Brk
    August 18, 2015

    Selamat, BaleBengong!

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *